PELECEHAN SEKS ANAK

Wakil Tuhan Pembangkang Tuhan

 

Sultan Ghiyasuddin Balban, penguasa Delhi, India, tahun 1266-1287, punya tiga hakim (qazi atau kadi). Mereka adalah Qazi-i-Lashkar, Qazi Fakhr Naqila, dan Qazi Minhaj. ”Saya punya tiga hakim. Satu orang tidak takut kepada saya, tetapi takut kepada Tuhan. Seorang lagi tidak takut kepada Tuhan, tetapi takut kepada saya. Hakim ketiga tidak takut kepada saya dan tidak takut kepada Tuhan,” kata Sultan. Dan, Sang Sultan sangat hormat kepada hakim pertama. Nasihat-nasihat hakim yang ”tidak takut kepada Sultan tetapi takut kepada Tuhan” itulah yang selalu ditaati Sultan.

Tapi di Indonesia tidak begitu. Banyak hakim, Sang Wakil Tuhan, sepertinya tidak takut pada Tuhan yang diwakilinya. Mereka tak risih menerima uang haram bernama suap untuk membikin putusan sesat.

 

Ketua Mahkamah Agung M. Hatta Ali (kanan) menyematkan kalung kepada sejumlah hakim usai dilantik di Gedung Mahkamah Agung, Jakarta//ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/nz/16

Jika Wakil Tuhan sudah begitu, bagaimana jadinya dengan Gubernur, Bupati, Wakil Rakyat, dan penyelenggara negara lainnya.  Warning kegentingan mengenai korupsi di Indonesia yang disampaikan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo seolah-olah tak didengar para terduga pelaku rasuah. Sehari setelah warning itu disampaikan, ada saja yang masih melakukan transaksi suap.

“Kalau KPK tenaganya cukup hari ini, kita melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) tiap hari bisa. Hampir semua bupati dan banyak pejabat yang masih melakukan tindak pidana, seperti yang kita saksikan pada saat kita tangkap para bupati (yang pernah ditangkap saat OTT sebelumnya),” kata Ketua KPK Agus Rahardjo Selasa 27 November 2018 pagi.

 

 

You might also like