Sidang Dugaan Korupsi PDAM Tirtanadi Soroti Adendum 3 Kali Pekerjaan Tak Selesai

Tiga saksi diperiksa keterangannya oleh majelis hakim diketuai Saprin SH hingga malam hari dalam sidang lanjutan perkara  korupsi proyek Instalasi Pipa Air (IPA) PDAM Tirtanadi Sumut dengan kapasitas 200 meter per detik di Martubung dengan terdakwa Staf Keuangan Promits-LJU Flora Simbolon dan  Ir M Suhairi MM selaku PPK/Pimpro di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri (PN) Medan, Kamis kemarin.

Ketiga saksi yang dihadirkan tim JPU dari Kejari Belawan yang dimotori Nurdiono SH yakni, Asisten Operasional PDAM Tirtanadi Sumut Aulia Natalian, anggota Kelompok Kerja (Pokja) Joni dan Abdul Hakim dicecar seputar pengajuan dokumen peserta lelang dan penambahan hari pengerjaan proyek (addendum) hingga 3 kali serta subkontrak pekerjaan kepada rekanan lain.

Pekerjaan Engginering Procurement Contruction (EPC) pembangunan IPA Martubung PDAM Tirtanadi Sumatera Utara senilai Rp58 miliar TA 2012 tersebut tidak diketahui Aulia menimbulkan kerugian negara Rp18 miliar.

Untuk pengajuan addendum (perpanjangan pekerjaan proyek IPA)i alasannya karena pengurusan perizinan, Demikian halnya termin pekerjaan dari 25 persen hanya dibayar 20 persen dan pekerjaan 65 persen dibayar 30 persen.

Ketika ditanya anggota majelis hakim soal denda sebagai sanksi atas keterlambatan rekanan  Kerjasama Operasional (KsO) Promits-LJU (April 2015), menurut Aulia, bisa diperpanjang selama ada hal-hal yang bisa ditolerir. Tidak ada denda hingga tiga kali addendum.

JPU Kejari Belawan dimotori Nurdiono SH kemudian mempertanyakan soal poin 44 ketika dimintai keterangan di kejaksaan, yakni ada prosedur rekanan soal teknis. Antara lain saksi menyebutkan, apabila diminta tenaga ahli akan menambah biaya sebagaimana diajukan KsO Promits-LJU. Sementara mengenai disubkontrakkannya pekerjaan scada (sistem komputerisasi), saksi terlihat gelisah dan bingung akhirnya mengatakan hal itu  kewenangan Ir M Suhairi(split).

Sedangkan mengenai pekerjaan Milestone 3 senilai Rp2 miliar, pernah dikerjakan pihak lain atas nama Setio dan kemudian dikerjakan rekanan lain, Aulia pun menyebutkan tidak ingat sembari senyum tersipu untuk menghilangkan rasa bingungnya.

Saksi lainnya,Joni kelihatan lebih sering mengatakan tidak tahu, tidak ingat dan lupa seolah- olah msh ada yang disembunyikan untuk menjawab pertanyaan Jaksa yang terus mencecarnya. Menurutnya, hanya memegang dokumen lelang.

Kenapa ada format penilaian terhadap peserta. Demikian halnya mengenai sudah ‘dikondisikannya’ siapa calon pemenang tender tersebut, Joni mengaku, tidak tau menahu, walaupun ada format penilaian peserta lelang yang dikeluarkan tim teknis yang masuk dalam Pokja.

Padahal sejumlah saksi sebelumnya membenarkan bahwa calon pemenangnya sudah dikondisikan Azzam, orang pertama di PDAM Tirtanadi Sumut ketika itu.

Terdakwa Flora dan M.Suhairi mengajukan permohonan pencairan dana ke Bendahara PDAM Tirtanadi Sumut seolah- olah pengerjaan proyek telah 100 persen padahal belum agar masuk BPHB dan selanjutnya disetujui Dirut dan Direksi tampa mengecek langsung keadaan fisik sebenarnya. Akibatnya negara mengalami kerugiab ditaksir mencapai Rp18 miliar.

You might also like