Sekte Bhairawa Tantra Jawa Pembunuh Ribuan Ulama Timur Tengah Sebelum Wali Songo

Penyebaran Agama Islam di nusantara tak lepas dari peran Wali Songo yang melakukan pendekatan kultural di tanah Jawa. Apalagi kala itu, penduduk Jawa dikenal paling susah menerima ajaran Islaa karena telah punya paham Bhairawa Tantra.

“Sekira 674 Masehi, di Jawa sudah ada Kerajaan Kalingga yang dipimpin Ratu Shima. Wilayah kekuasaannya dari Jepara hingga Dieng. Banyak penduduknya menjadi penganut Bhairawa Tantra, yakni paham yang percaya bahwa mengumbar hawa nafsu dapat mengantarkannya ke nirwana (surga),” kata penulis Buku “Imperium Kasultanan Demak Bintoro“, Kholidul Adib, Jumat (6/5/2016).

Dia menyebutkan, aliran kepercayaan itu bukan merupakan sempalan dari penganut ajaran Hindu dan Budha. Meski demikian, jumlah mereka terus bertambah dan ajarannya berkembang pesat di masyarakat. Aliran tersebut juga tertutup pada pendatang yang membawa ajaran baru.

“Jika ada orang baru, langsung dimakan untuk ritual mereka. Darahnya diminum, dagingnya dimakan. Hal ini yang mengakibatkan ajaran baru sulit masuk ke Jawa, karena orang-orangnya dikenal sangat sakti,” kata pria yang kini menempuh gelar doktor di UIN Walisongo tersebut.

Aliran tersebut kebalikan dari ajaran Hindu yang menyatakan, untuk mencapai nirwana, manusia harus meninggalkan sisi keduniawian. Mereka menolak menyembah langit atau Tuhan untuk mencapai nirwana dan memilih menyembah Dewi Bumi.

“Ada yang bilang mereka pecahan Hindu Ciwa dan bertemu dengan pecahan Budha aliran Mahayana. Mereka menggelar ritual di suatu padang, yang di tanahnya terdapat tumpeng berupa daging manusia. Sementara minumannya adalah arak. Usai ritual itu mereka melakukan persetubuhan massal,” tambahnya.

Ritual tersebut sangat kuat di tengah masyarakat, hingga pada abad 8-14 Masehi, China dan Arab kesulitan masuk Jawa. “Wali Songo masuk dengan melakukan pendekatan budaya, misalnya oleh Sunan Bonang. Beliau ini yang memburu Bhiarawa Tantra. Pertarungan budaya antara Sunan Bonang dengan Bhiarawa Tantra ini terlihat di Kediri,” ungkapnya.

“Aliran ini terkenal ritualnya dan Sunan Bonang membuat ritual serupa di sebelahnya. Misalnya kalau yang aliran itu menggunakan tumpeng daging manusia, Sunan Bonang memakai daging ayam, dan minumannya air putih. Jika di sebelah memggunakan bacaan mantra-mantra maka Sunan Bonang menggunakan bacaan tahlil dan sebagainya,” tutupnya.

Tantra Bhairawa adalah sekte rahasia dari sinkretisme antara agama Budha aliran Mahayana dengan agama Hindu aliran Çiwa. Sekte ini muncul kurang lebih pada abad ke-6 M di Benggala sebelah timur. Dari sini kemudian tersebar ke utara melalui Tibet, Mongolia, masuk ke Cina dan Jepang. Sementara itu cabang yang lain tersebar ke arah timur memasuki daerah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Pengikut sekte Bhairawa Tantra berusaha mencapai kebebasan dan pencerahan (moksa) dengan cara yang sesingkat-singkatnya. Ciri-ciri mereka adalah anti asketisme dan anti berpikir. Menurut mereka, pencerahan bisa diraih melalui sebuah kejenuhan total terhadap kenikmatan duniawi. Tujuan secara penuh memanjakan kenikmatan hidup dengan tanpa mengenal kekangan moral ini puncaknya adalah untuk melenyapkan segala hasrat terhadap semua kenikmatan itu. Dengan memenuhi segala hasratnya, seorang pengikut sekte ini akhirnya tidak merasakan apa pun selain rasa jijik terhadap kenikmatan tersebut.

Oleh karena itu, pengikut sekte ini justru melakukan ritual-ritual tertentu yang bagi selain mereka dianggap sebagai larangan. Hal ini sebagai usaha agar manusia bisa secepatnya meniadakan dirinya sendiri dan mempersatukan dirinya dengan Dewanya yang tertinggi. Ritual mereka bersifat rahasia dan sangat mengerikan, yaitu menjalankan Pancamakarapuja ataumalima (lima Ma) dengan sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya. Lima Ma tersebut adalah matsya (ikan), mamsa (daging), madya (minuman), madra (tarian hingga mencapai ekstase), dan maithuna (upacara seksual).

Praktek malima adalah menyembelih perawan  sebagai persembahan kepada dewa, kemudian meminum darahnya bersama, tertawa-tawa, dan menari-nari dengan diiringi oleh bunyi-bunyian dari tulang-tulang manusia yang dipukul-pukul hingga menimbulkan suara gaduh. Ritual dilanjutkan dengan makan dan minum bersama. Setelah itu dalam acara yang dilakukan di lapangan yang disebut ksetra, para peserta ritual melakukan persetubuhan massal, yang kemudian diikuti dengan semedi.

Tantra Bhairawa merupakan bagian dari peradaban Jawa kuno. Banyak raja mengikuti sekte ini.

PANCHA TATTVA

Pancha Tattva bersifat amat esensial dalam memuja Sakti. Pancha
Tattva terdiri dari anggur (Madya), daging (Mamsa), ikan (Matsya), biji-bijian yang telah dipanggang (Mudra) dan hubungan seksual (Maithuna). Karena mereka diawali dengan huruf M, maka mereka seringkali secara vulgar disebut: Pancha-ma-kara atau Lima M.

Pancha Tattva mewakili minum, makan dan pertumbuhan. Pancha Tattva,
persembahyangan dengan menggunakan lima elemen guna menghapuskan dosa- dosa besar, Maha-pataka-nasanam. Pancha Tattva tidak selalu menyandang arti literal/harfiah-nya.

Maknanya berbeda sejalan dengan sifat Sadhana, sesuai dengan sifat-sifat
Tamasik (Pasu), Rajasik (Vira) atau Sattvik (Divya).

Madya, atau yang sering diterjemahkan sebagai anggur, bisa jadi
minuman beralkohol – anggur; atau ia bisa juga berupa air kelapa yang sama- sama mewakili makna kemabukan/tergila-gila pada Tuhan atau mabuk pada pengetahuan Brahman. Anggur adalah sebuah simbol untuk mengingatkan pada Yang Maha Tinggi, Kebahagiaan Abadi menurut ajaran Yoga, atau Atmajñana.

You might also like