Dituntut 17 Tahun, Kurir Natkoba Jaringan Malaysia Ajukan Pleidoi

Paosi, kurir narkoba jaringan Malaysia yang dituntut 17 tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Nur Rachman yang diwakili oleh Jaksa Achmad Junaidi dari Kejari Tanjung Perak Surabaya, akan mengajukan pembelaan atau pledoi.

Dalam tuntutannya yang dibacakan oleh Jaksa Achmad Junaidi di persidangan, menuntut kepada terdakwa Paosi dengan pidana penjara selama 17 tahun penjara, dengan denda sebesar Rp 1 miliar apabila tidak dibayar maka diganti dengan delapan bulan kurungan.

Terdakwa melalui kuasa hukumnya Arif Budi Prasetijo dan Drs.Victor A Sinaga dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Taruna Surabaya merasa keberatan dan berencana akan melakukan pembelaan secara tertulis yang akan dibacakan pada Rabu (19/12/2018) pekan ini.

\”Ada beberapa hal yang tidak dipertimbangkan Jaksa dalam tuntutannya, jadi kita akan ajukan pembelaan,\” ujar Arif Budi Prasetijo, Minggu (16/12/2018).

Untuk diketahui, bahwa perkara ini terjadi pada Senen 12 Maret 2018 sekira pukul 15,00 wib saat petugas Bea Cukai Juanda bersama petugas BNNP Jatim mendapat informasi adanya peredaran narkoba yang akan masuk dari Malaysia ke Indonesia melalui Terminal II Bandara Juanda.

Selanjutnya ketika pesawat Air Asia dengan nomor Fligth XT 327 tiba di Bandara Juanda, petugas melihat seorang penumpang pria yang jalannya mencurigakan.

Kecurigaan petugas terbukti saat melakukan pemeriksaan terhadap diri terdakwa, dari pengecekan Dokumen hingga Pasport atas nama terdakwa Paosi, saat pemeriksaan itulah petugas mendapatkan barang bukti berupa narkotika jenis sabu sebanyak (2) dua bungkus balon karet yang dimasukkan kedalam duburnya (lubang pelepasan) dengan berat brutto 73,2 gram.

Turut pula dijadikan barang bukti berupa (1) satu unit HP Xiaomi dan satu lagi HP Nokia dimana HP tersebut yang digunakan sebagai alat komunikasi serta transaksi oleh terdakwa, saat di interogasi terdakwa mengaku bahwa ia hanya disuruh oleh Har untuk berangkat ke Kuala Lumpur Malaysia untuk mengambil barang (sabu) tersebut.

Sesampainya di Kuala Lumpur Malaysia, terdakwa menemui Jefri sang pemilik barang (sabu) tersebut, lantas terdakwa disuruh mengirimkan barang tersebut ke Indonesia untuk diberikan Har dan apabila berhasil maka terdakwa akan mendapat imbalan uang sebesar Rp 20 juta.

Karena perbuatan terdakwa dianggap tidak mendukung Pemerintah dalam memberantas narkoba, maka JPU menjerat terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 113 ayat (2) Undang Undang RI No.35 tahun 2009 tentang narkotika

You might also like