Walau Amanda Queslati Tak Mengerti Artinya, Gadis Amerika Ini Menangis Mendengar Ayat Al-Quran Dan Masuk Islam

 

Nama lengkapnya Amanda Oueslati, tetapi beberapa orang memanggilnya dengan nama Noor. Dia masuk Islam ketika berusia 15 tahun.

“Sudah satu setengah dekade sejak saat itu, tetapi iman saya semakin bertambah kuat. Saya seorang istri dan ibu sekarang, dengan kehidupan terindah, alhamdulillah,” katanya. Tak banyak yang mengetahui mengenai kisah hidupnya.

Banyak orang yang mengira Amanda merupakan Muslimah sejak lahir, seperti umat Islam kebanyakan. Amanda lahir di keluarga Angkatan Udara AS. Dia lama tinggal di Inggris. Wanita ini memiliki orang tua yang terbilang masih muda dan tidak cukup religius.

Hidupnya hanya dipenuhi kesenangan dan pesta. Bisa dibilang dia tumbuh besar di bar dan pub bersama ibunya, sehingga tak memiliki banyak teman sebaya. Awal dari perjalanan spiritualnya dimulai ketika dia hidup berpindah-pindah karena pekerjaan militer ayahnya. Dia pun berakhir di kota kecil di Alabama.

Di kota ini Amanda akhirnya mengenal dan meyakini Tuhan ada. Dia pun mulai pergi ke gereja bersama tetangga dan banyak beramal untuk tempat ibadahnya. “Saya bernyanyi dalam paduan suara, bergabung dengan tim pemuda, dan memulai pekerjaan misi,” ujar dia.

Ketika itu, dia baru berusia 10 tahun, tetapi setiap Senin malam dia pergi bersama rekan satu timnya untuk menyebarkan kabar baik. Dia berbicara kepada orang asing, orang dewasa, remaja, anak-anak, tentang bagaimana mereka harus menerima ketuhanan versi Kristen di dalam hati mereka. Suatu hal yang aneh terjadi ketika itu. Semakin dia memberi tahu orang-orang, dia semakin merasa kosong.

“Saya mulai merasa seperti penipuan karena saya menyadari tidak percaya apa yang saya ceritakan kepada orang-orang. Saya memiliki pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh pemimpin gereja,” katanya.

Contohnya, mengapa tradisi yang dianutnya mengatakan untuk tidak makan babi, tetapi justru memakan babi setiap Ahad atau mengapa wanita diajarkan menutupi rambut mereka, tetapi hanya para biarawati yang melakukannya.

Dia juga meragukan konsep ketuhanan yang baginya tidak masuk akal. Jadi, sedikit demi sedikit, dia mulai memberontak dan menolak untuk datang ke gereja. Ketika sedang mengalami kegalauan batin semacam ini, peristiwa 9-11 terjadi dan mengguncangnya, seperti banyak orang lain.

“Saya ingat bertanya-tanya tentang orang-orang yang melakukannya, tentang teroris Islam yang menjadi sorotan berita. Saya ingin mengenal mereka. Apa yang mem buat mereka melakukan ini? Apa yang me reka percaya dan mengapa seseorang ingin menyebabkan begitu banyak kepedihan,” ujarnya.

Tepat sebelum perang melawan terorisme dimulai, ayahnya pensiun dari militer dan pindah ke Florida. Dia memulai se kolah menengah sebagai seorang penyendiri. “Saya tidak tahu siapa saya, apa yang harus diyakini, atau apa yang diinginkan dari kehidupan. Jadi, saya simpan sendiri. Saya melihat seorang gadis di kafetaria suatu hari. Seorang gadis Muslim, mengenakan jilbab,” katanya mengisahkan masa lalu.

Amanda kemudian berpikir bahwa gadis itu tampak begitu yakin pada dirinya sendiri. Dia pun bertanya-tanya bagaimana gadis ini begitu berani mengenakan jilbab itu di kepalanya saat di sekolah.

Bagaimana mungkin dia tidak peduli apa yang orang lain pikirkan tentangnya. Amanda akhirnya berteman dengan gadis yang bernama Fatiha itu. Darinya Amanda menemukan ibrah yang luar biasa. Fatiha adalah gadis yang terlahir sebagai Muslim dari keluarga Palestina.

Dia benar-benar memiliki segala pengetahuan tentang Islam. Dia tahu apa yang dia percaya dan mengapa. Dia kuat, berani, dan cantik. Amanda berharap dapat menjadi seperti wanita tersebut. Dia ingin mengetahui lebih dalam tentang keyakinan yang dimiliki Fatiha.

Keduanya mulai berbicara tentang agama sedikit demi sedikit dan Amanda mengajukan pertanyaan kepadanya tentang Islam. “Saya mulai membaca bukubuku dari perpustakaan tentang Islam dan mencari semua yang saya bisa di internet tentang Islam,” ujarnya.

Suatu hari dia membawa compact disk (CD) dan menyuruh Amanda mendengarkannya ketika tiba di rumah. Amanda pikir ini CD musik pop Arab yang keren dari negaranya, tapi ternyata salah. Amanda tidak tahu apa yang dia dengar kan, yang dia tahu terdengar begitu indah dan membuatnya menangis.

Setelah mendengarkan lantunan itu selama beberapa jam, dia baru menyadari jika itu adalah ayat Alquran “Saya mendengarkan lagi dan berpikir sendiri. Saya pikir saya harus menjadi seorang Muslim,” tekadnya dalam hati.

Amanda pergi ke sekolah keesokan harinya dan memberi tahu temannya. Dia mengatakannya dengan penuh percaya diri di dunia. Hai Tia, jadi aku Muslim sekarang! Dia tertawa kecil dan tersenyum. Fatiha kemudian menjelaskan syahadat kepada Amanda.

Dia memberi tahu apa artinya dan mengapa. Dia memberi tahu jika ingin menjadi Muslim harus mengucapkan syahadat. “Jadi, saya melakukannya tanpa ragu-ragu. Saya tidak tahu bagaimana menjadi seorang Muslim, tetapi saya tahu di dalam hati saya bahwa saya adalah satu,” ujar dia.

Beberapa bulan kemudian, keluarga Amanda pindah untuk terakhir kalinya. Dia pun tidak pernah melihat Fatiha lagi, tetapi dia berdoa untuknya sepanjang waktu. Amanda merasa sendiri saat itu. Hariharinya diisi dengan membaca dan shalat beralaskan handuk pantai di kamarnya.

 

Disarikan dari tulisan Guest Writer

Berjudul Stories of Muslim Converts: Amanda Queslati

Dimuat di https://www.islamicfinder.org/iqra/, Thursday February 15, 2018

 

You might also like