Petaka Lion Air, Pesawat Anyar Celaka di Udara

Sebanyak 189 orang menjadi korban jatuhnya pesawat Lion Air tujuan Jakarta-Pangkal Pinang pada Senin 29 Oktober 2018 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat. Pesawat Boeing berumur tiga bulan itu itu hilang kontak dan jatuh setelah 13 menit mengudara dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.

Nandang Suratman tak dapat menyembunyikan kesedihannya. Dia tampak duduk di salah satu sofa di posko kecelakaan Lion Air di Hotel Ibis, Cawang, Jakarta Timur. Pandangan matanya kosong. Rambutnya berantakan tak tersisir.

Bagi Nandang, tak ada yang lebih penting dari kepastian kabar putrinya, Vivian Hasna Afifa. Di ujung asa, ia masih berharap adanya mukjizat. Meski pria itu tahu, kemungkinannya nyaris mustahil.

Vivian yang baru berusia 23 tahun, ada di dalam pesawat Lion Air di Perairan Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat, Senin 29 Oktober 2018. Nama lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad itu tercatat di manifes nomor dua, pada pesawat berkode penerbangan JT 610 tersebut.

Kabar jatuhnya pesawat yang ditumpangi putri sulungnya itu membuat hati Nandang hancur. Ia juga kecewa karena Lion Air tak menyampaikan secara langsung kabar duka tersebut pada keluarga.  Perihal kecelakaan itu diketahuinya dari teman-teman Vivian.

Oleh karena itu, Nandang meminta pemerintah menghentikan dulu operasional maskapai Lion Air. Agar kesedihan yang ia rasakan tak dialami orangtua lain.

“Untuk sementara berhenti dulu, harus ada investigasi ke seluruh pesawat yang Lion Air terbangkan,” ujar Nandang di Ibis Jakarta Sentral Cawang, Jakarta, Senin 5 November 2018.

Sementara itu, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) masih menganalisis data-data yang diperoleh dari flight data recorder (FDR). Dibantu investigator asing, salah satunya dari National Transportation Safety Board (NTSB) Amerika Serikat.

Evakuasi serpihan pesawat Lion Air JT610 yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat, Kamis (1/11/2018). (Foto: Azwar Ipank/Klikkabar.com)

Mereka berdiskusi dan memverifikasi data-data kecelakaan pesawat Lion Air yang terkumpul selama enam hari terakhir.

“Data yang diperoleh (dari FDR) adalah 69 jam, mencatat 19 penerbangan, termasuk penerbangan yang mengalami kecelakaan,” kata Kepala Sub Komite Investigasi Keselamatan Penerbangan KNKT Kapten Nurcahyo Utomo.

Hasilnya, misteri penyebab jatuhnya Lion Air rute Jakarta-Pangkalpinang itu mulai terkuak. Meski belum seluruhnya. Data FDR menunjukkan, pesawat sudah mengalami kerusakan dalam empat penerbangan terakhirnya, termasuk kecelakaan pada 29 Oktober 2018. Kerusakan diketahui terjadi pada penunjuk kecepatan atau airspeed indicator.

“KNKT sedang mengumpulkan data terkait perbaikan yang dilakukan selama terjadi kerusakan ini,” ungkap Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono di kantornya, Senin 5 November 2018.

Ini diperkuat dengan hasil wawancara penyidik dengan pilot-pilot yang menjalankan pesawat tersebut pada tiga penerbangan terakhir. Juga data logbook yang ditulis para teknisi.

“Interview dari penerbang-penerbang yang menerbangkan sebelumnya maupun data-data perbaikan yang telah dilakukan oleh teknisi-teknisi dari maskapai tersebut,” ujar Soerjanto.

“Jadi saya ulang lagi bahwa KNKT sedang meneliti bersama Boeing, bersama NTSB, untuk lebih mendetailkan tentang kerusakan pada penunjuk kecepatan atau airspeed indicator pada empat penerbangan terakhir,” lanjut dia.

Berdasarkan data yang diunggah situs pemantau penerbangan Flightradar24, sebelum berakhir di perairan Tanjung Pakis, Karawang, pesawat Boeing 737 MAX 8 dengan kode registrasi PK-LQP sebelumnya digunakan dalam penerbangan dari Denpasar-Jakarta (JT 043), Manado-Denpasar (JT 775), dan Lombok-Denpasar (JT 829).  Namun, belum jelas pada penerbangan mana, pesawat yang baru dipakai dua bulan tersebut bermasalah.

Sementara, fakta kedua yang diungkap KNKT terkait dengan kondisi mesin pesawat sesaat sebelum jatuh ke laut.

“Mesin dalam keadaan hidup dengan putaran yang cukup tinggi saat menyentuh air,” ujar  Soerjanto saat bertemu dengan keluarga korban kecelakaan Lion Air di Hotel Ibis, Jakarta, Senin 5 November 2018.

Petunjuk itu terkuak usai bagian mesin Lion Air berhasil ditemukan Tim SAR. “Temuan bagian mesin menunjukkan, kedua mesin dalam keadaan hidup dengan RPM (revolutions per minute) tinggi. Mesin berputar tinggi saat menyentuh air,” kata dia.

Fakta ketiga, diduga kuat pesawat tidak meledak di udara. Ini sekaligus membantah spekulasi-spekulasi tentang penyebab hancurnya kapal terbang Lion Air nahas.

“Pesawat mengalami pecah ketika bersentuhan dengan air, ketika impact terhadap air, dan pesawat tidak pecah di udara,” kata Soerjanto.

Hal itu diperjelas dengan temuan serpihan-serpihan pesawat Lion Air di area yang relatif lebih terkonsentrasi. Bila pesawat meledak di udara, maka serpihan akan lebih tersebar.

“Ketika pesawat menyentuh air, kecepatannya cukup tinggi, maka serpihan yang terjadi sedemikian rupa. Menandakan energi yang dilepas saat itu sangat luar biasa,” ujar Soerjanto.

Sebelumnya, sejumlah ahli menduga, Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 diperkirakan menukik ke bawah dengan tiba-tiba, sehingga kecepatannya mencapai 1.000 kilometer per jam atau lebih, sebelum akhirnya membanting laut.

Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono  (beritatrans.com)

Berdasarkan analisis data situs pemantau penerbangan, FlightRadar24, seperti dikutip dari Bloomberg, sesaat sebelum Boeing 737 MAX 8 tersebut menghantam laut (impact), bagian hidung membentuk sudut 45 derajat di bawah cakrawala.

Menurut sejumlah ahli, itu adalah kondisi yang luar biasa curam untuk jatuhnya sebuah pesawat.

Namun, berapa persisnya kecepatan pesawat sebelum terjun ke laut hanya bisa dikonfirmasi dari data yang terdapat dalam perangkat perekam data penerbangan atau flight data recorder (FDR), yang kini masih dianalisis para penyelidik Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Berdasarkan data FlightRadar24, yang diambil dari transmisi radio pesawat, mengindikasikan, Lion Air PK-LQP melesat dengan kecepatan 1.000 km/jam sebelum terhempas ke Laut Jawa.

Sementara itu, pengamat penerbangan Chappy Hakim mengatakan, langkah KNKT masih panjang untuk menyimpulkan penyebab kecelakaan pesawat Lion Air bernomor registrasi PK-LQP. Masih banyak data yang harus dianalisis. Termasuk, masalah pada tiga penerbangan sebelum Senin 29 Oktober 2018 yang menjadi kunci kecelakaan itu.

Pria yang pernah menjadi anggota investigasi kecelakaan Hercules di Condet itu mengatakan, tidak mudah untuk menguak penyebab kecelakaan pesawat. Itu pun, KNKT tidak akan menyebutkan penyebab pastinya.

“Mereka pasti akan menyebutkan the most probable cause-nya,” kata Chappy, Senin 5 November 2018.

Tak mudahnya mengungkap misteri penyebab kecelakaan itu, lanjut dia, KNKT harus menemukan cockpit voice recorder (CVR) atau instrumen perekam suara kokpit.

KNKT sendiri menyatakan, masih membutuhkan waktu sekitar dua pekan untuk memverifikasi data black box pesawat Lion Air PK-LQP. Terlebih FDR berisi data 69 jam dari 19 kali penerbangan dengan 1.790 parameter.

“1.790 parameter itu mungkin kita perlu sekitar satu sampai 2 minggu untuk proses verifikasi data-data tersebut, apakah benar atau tidak,” ucap Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono.

Pasca-kecelakaan, Direktur Teknik Lion Air dibebastugaskan. Juga Quality Control Manager, Fleet Maintenance Management Manager, dan Release Engineer PK-LQP.

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menjelaskan, langkah ini diambil untuk memperlancar proses investigasi yang dilakukan KNKT.

Jika nantinya, KNKT sudah mengumumkan hasil investigasi, apakah pihak-pihak yang diduga bertanggung jawab bisa diperkarakan ke meja hijau?

Dalam sejarah penerbangan komersial di Indonesia, baru ada satu pilot yang pernah diperkarakan. Capt. Pilot Marwoto, namanya, memegang kendali pesawat Garuda Indonesia GA 200, rute Jakarta-Yogyakarta, yang celaka saat mendarat.

Sebanyak 44 penumpang tewas. Pilot Marwoto dijatuhi vonis dua tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Sleman, meski akhirnya divonis bebas di Pengadilan Tinggi DIY.

Saat dimintai pendapat, pakar hukum pidana Andi Hamzah mengatakan, jika ada indikasi kelalaian, polisi bisa saja mengusut kasus Lion Air secara pidana.

“Ya kalau memang ada manipulasi data, misalnya, itu kelalaian yang menyebabkan sekian ratus orang meninggal,” kata Guru Besar Universitas Trisakti itu kepada Liputan6.com.

Polisi dapat mengusutnya tanpa harus ada keluarga yang melapor. “Pelaku bisa disangkakan dengan Pasal 359 KUHP,” ujar Andi Hamzah.

Pasal 359 KUHP mengatur, “Barang siapa karena kesalahannya menyebabkan matinya orang dihukum penjara selama-lamanya lima tahun atau kurungan selama-lamanya satu tahun.”

Tapi, bagaimana kalau tidak ada indikasi kelalaian? Masih bisakah polisi mengusut kecelakaan tersebut? “Tidak bisa,” tandas Andi Hamzah.

Masih terlalu dini untuk memperkarakan pihak yang diduga bertanggung jawab atas kecelakaan Lion Air yang merenggut 189 nyawa. Yang jelas, pemerintah akan memberikan sanksi pada Lion Air atas jatuhnya pesawat PK-LQP apabila terbukti ada kesalahan dari maskapai itu. Sanksi tersebut akan disesuaikan dengan rekomendasi dari KNKT.

Menhub belum menjelaskan apa sanksi yang akan diberikan kepada Lion Air. Ia hanya menyatakan, Kemenhub pasti akan menerapkan apa pun rekomendasi KNKT.

“Apabila itu suatu rekomendasi maka itulah yang kami akan lakukan,” ucap Menhub di Hotel Ibis, Cawang.

Selain itu, Kemenhub sedang melakukan audit spesial terhadap awak Lion Air serta audit SOP. SWU

Petugas PMI dan DVI Polri mengevakuasi korban Lion Air JT 610 dari kapal KN SAR Drupada menuju RS Polri. (Foto: Antara/Eko Suwarso)

Catatan Merah Si Singa Merah Lion Air

Sebanyak 189 orang menjadi korban jatuhnya pesawat Lion Air tujuan Jakarta-Pangkal Pinang pada Senin 29 Oktober 2018 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat. Pesawat Boeing beregistrasi PK-LQP itu hilang kontak dan jatuh setelah 13 menit mengudara dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.

Para korban Lion Air jatuh terdiri dari 181 penumpang dan delapan kru, termasuk satu anak dan dua bayi. Sudah seminggu tim SAR gabungan mencari korban pesawat Lion Air bernomor penerbangan JT 610. Keseluruhan kantong jenazah yang diserahkan sebanyak 138. Sedangkan 14 penumpang Boeing jenis 737 Max 8 sudah teridentifikasi.

Kecelakaan pesawat Lion Air itu pun menjadi sorotan dalam sejarah penerbangan sipil di sepanjang 2018. Apalagi, Lion Air sebagai salah satu maskapai penerbangan terbesar dan termuda di Indonesia, diketahui telah mengalami sejumlah kecelakaan dan malfungsi pada armadanya.

Selengkapnya simak Infografis mengenai catatan merah atau bencana aviasi yang melanda Lion Air atau maskapai berlogo singa merah berikut ini:

29 Oktober 2018

Jatuh di Tanjung Karawang, Jawa Barat. Korban 189 jiwa.

29 April 2018

Tergelincir di Bandara Jalaluddin Tantu, Gorontalo. Tidak ada korban jiwa.

02 April 2017

Avtur tumbah di Bandara Juanda, Surabaya.  Tidak ada korban jiwa.

01 Februari 2014

Terpental 4 kali di Bandara Juanda, Surabaya. Tidak ada korban jiwa.

13 April 2013

Jatuh di perairan dekat denpasar. Tidak ada korban jiwa.

06 Agustus 2013

Menabrak sapi di Bandara Jalaluddin Tantu, Gorontalo. Tidak ada korban jiwa.

02 November 2010

Tergelincir di Bandara Supadio, Pontianak, Kalbar. Tidak ada korban jiwa.

09 Maret 2009

Tergelincir di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten. Tidak ada korban jiwa.

23 Februari 2009

Mendarat tanpa nose gear di Bandara Hang Nadim, Batam. Tidak ada korban jiwa.

04 Maret 2006.

Tergelincir di Bandara Juanda, Surabaya. Tidka ada korban jiwa.

30 November 2004

Tergelincir di Bandara Adi Sumaromo, Solo, Jateng. 31 korban jiwa.

14 Januari 2002

Tergelincir di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Riau. Tidak ada korban jiwa.

Lion Air PK LQP yang jatuh. (Dokumentasi Lion Air)

Jejak Lion Air di Meja Hijau

Belum lagi kasus kecelakaan Lion Air Senin 29 Oktober 2018 selesai ditangani, catatan merah maskapai berlampang singa merah ini bertambah.Insiden sayap kiri pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 633, robek di bagian ujung menambah catatan merah bagi si burung besi berlogo singa terbang itu.

Ratusan penumpang dengan tujuh awak kabin dibuat tersentak saat pesawat menabrak tiang lampu di Bandara Fatmawati, Bengkulu, Rabu malam, 7 Oktober 2018. Nampak dalam video beredar, sayap kiri robek di bagian ujung.

Meski tak ada korban jiwa, penerbangan sempat terlambat dari jam yang dijadwalkan. Demi keamanan, petugas menurunkan semua penumpang dan diarahkan ke ruang tunggu. Hingga kini penyebab kecelakaan tersebut masih diinvestigasi.

Terlepas dari tarif murah yang diberlakukan Lion Air, ternyata maskapai ini termasuk salah satu maskapai pernah beberapa kali digugat di pengadilan oleh konsumennya. Berikut adalah beberapa kasus hukum Lion Air yang dihimpun:

  1. Gagal berangkat

Adalah Rolas Budiman, salah satu penumpang Lion Air tujuan Manado-Jakarta dengan nomor penerbangan JT 743 pada 19 Oktober 2011. Rolas saat itu hendak kembali ke Jakarta setelah menghadiri pertemuan dengan kliennya dan dia hendak merayakan ulang tahun putri sulungnya. Ketika ia hendak melakukan validasi, justru pesawat telah overseat. Kemudian, pihak Lion Air menawarkan kompensasi kepada Rolas. Namun menurut Rolas, kompensasi itu tidak sesuai dengan hak-haknya sebagai konsumen.

Rolas yang berprofesi sebagai advokat membawa masalah ini ke meja hijau. Majelis hakim di PN Jakarta Pusat dalam putusan nomor 42/PDT.G/2012/PN.JKT.PST akhirnya mengabulkan gugatan Rolas. Pihak Lion Air dihukum untuk memenuhi kewajiban membayar ganti rugi materiil sebesar Rp23.580.000 kepada Rolas.

  1. Hilangnya bagasi penumpang

Salah satu kasus kehilangan bagasi dialami oleh Kristianto dan Betty. Pasangan suami istri ini merupakan penumpang maskapai Lion Air. Awalnya Kristianto dan Betty telah melaporkan kepada pihak Lion Air atas kehilangan bagasi ini, namun hingga tujuh bulan selanjutnya tidak ada tanggapan dari pihak Lion Air. Sampai akhirnya pihak Kristianto dan Betty kembali menyurati Lion Air untuk bertanggungjawab atas kehilangan bagasi yang dialami oleh mereka. Namun pihak Lion Air kembali tidak menanggapi hal itu.

Kemudian, Kristianto dan Betty menggugat maskapai Lion Air. Majelis hakim dalam putusan nomor 2985K/PDT/2013 akhirnya menyatakan bahwa Lion Air telah terbukti wanprestasi. Pihak Lion Air juga wajib membayar ganti rugi materiil sebesar Rp4.000.000 dan ganti rugi immateriil sebesar Rp1.000.000.

  1. Diskriminasi terhadap penyandang disabilitas

Pada 2015, Ridwan Sumantri salah seorang penyandang disabilitas daksa yang saat itu hendak menaiki pesawat Lion Air dari Bandara Soekarno Hatta tidak diberikan fasilitas kursi roda dan garbarata yang bisa diakses oleh dirinya. Ridwan Sumantri kemudian menggugat pihak Lion Air, Kemenhub, dan PT. Angkasa Pura. Dalam putusan terakhir di tingkat kasasi, putusan Nomor 2368K/PDT/2015, para tergugat akhirnya dinyatakan terbukti melakukan perbuatan melawan hukum. Majelis hakim juga menghukum para tergugat untuk membayar ganti rugi secara tanggung renteng sebesar Rp50.000.000 kepada Ridwan. Selain itu para tergugat juga dihukum untuk meminta maaf lewat media massa kepada Ridwan Sumantri.

  1. Pesawat tidak sesuai tiket

Kasus ini salah satunya dialami oleh Mauliate Sitompul. Pada 3 Agustus 2013, ia yang berada di Bali hendak melakukan penerbangan ke Lombok dengan pesawat Lion Air. Saat melakukan check in tidak ada masalah apapun. Namun setelah menunggu selama dua jam, pesawat yang seharusnya berangkat pukul 08.40 WITA tidak kunjung muncul. Setelah ditanyakan pada pihak maskapai, ternyata pesawat Lion Air diganti dengan pesawat Wings Air yang sudah lepas landas beberapa saat sebelumnya. Saat hendak meminta refund, pihak Lion Air justru mengatakan bahwa tiket telah hangus.

Hal ini kemudian digugat oleh Mauliate Sitompul ke pengadilan. Setelah diperiksa, pihak Lion Air terbukti melakukan perbuatan melawan hukum. Majelis hakim di PN Jakarta Pusat dalam putusan No 441/PDT.G/2013/PN.Jkt.Pst kemudian menghukum pihak Lion Air untuk membayar ganti rugi sebesar Rp702.300 kepada Mauliate Sitompul.#