Para Medis Aksi Jahit Mulut, Dua Pingsan Lalu….

Ratusan paramedis yang mayoritas perawat menggelar unjukrasa di kantor Walikota dan DPRD Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara, Senin (26/11/2018) siang. Tiga di antara perawat itu, nekat melakukan aksi menjahit mulut. Mereka menuntut pemerintah setempat segera mengalokasikan uang kesejahteraan yang tak kunjung dibayarkan.

Ratusan paramedis yang tergabung dalam Forum Tenaga Kesehatan Kota Tanjungbalai itu diterima Wakil Walikota Tanjungbalai H.Ismail dan Plt Sekdakot Hj.Hilmayanti. Dalam pertemuan itu, coordinator aksi Dolly Firmansyah Marpaung meminta Pemko Tanjungbalai menganggarkan insentif bagi tenaga kesehatan yang magang sebesar Rp400 ribu per bulan. “Intensif tersebut kami minta dianggarkan dalam APBD Tanjungbalai tahun anggaran 2019,” katanya.

Dolly menyatakan, apabila aspirasi mereka tidak dipenuhi maka ratusan paramedis yakni perawat dan bidan magang akan mogok kerja hingga tuntutan mereka dipenuhi Pemerintah Kota Tanjungbalai.

Pengunjukrasa yang mengaku menjadi tenaga sukarela di Puskesmas dan RSUD Tengku Mansyur Tanjungbalai, telah mengabdi bertahun-tahun tanpa menerima gaji. Paramedis berharap ada perhatian nyata Pemko Tanjungbalai.

Sejumlah poster kekecewaan mereka pampangkan. “Kami bukan petugas magang sejati, kami sudah mengabdi lebih dari 10 tahun, perawat bukan kacung, save perawat, kami butuh kejelasan.” Masih banyak lagi yang pengunjukrasa ungkapkan melalui tulisan dalam poster.

Wakil Walikota H. Ismail menyatakan Pemko Tanjungbalai tetap menghargai dan mengapresiasi aspirasi paramedis tersebut dengan melakukan rapat untuk mengkaji dasar hukum agar tuntutan disampaikan bisa direalisasikan. “Hari ini saya akan memimpin rapat bersama OPD terkait untuk membahas tuntutan adik-adik paramedis. Saya juga menjamin tidak akan ada intervensi dari manapun,” kata Ismail.

Sementara itu di gedung dewan, paramedis diterima Komisi C DPRD Tanjungbalai yakni M.Nur Harahap, Hj.Nessy Ariyani, Hj.Artati, Herna Veva, H.Syarifuddin dan H.Abdul Jamil. Di hadapan legislator itu, sejumlah perawat menyampaikan keluhan bahwa diantara ratusan perawat ada yang sudah mengabdikan diri mulai empat hingga 15 tahun, namun tidak mendapat upah yang layak.

Mewakili rekannya, Ilham Junaidi (perawat) menyatakan aksi jahit mulut yang dilakukan Fadlan Manurung, Syafaruddin Tambunan dan Didi Mhd Yusuf akan tetap berlanjut hingga Pemko Tanjungbalai memenuhi tuntutan insentif yang mereka sampaikan.

Seluruh anggota dewan yang menerima mereka berjanji akan memperjuangkan nasib paramedis yakni mengalokasikan insentif tersebut. Jika Pemko tidak menganggarkanya maka DPRD tidak  akan mensahkan ABPD 2019.

Pantauan di gedung dewan, saat berlangsungnya rapat dengar pendapat antara anggota DPRD dan paramedis, dua orang perawat yang melakukan aksi jahit mulut yakni Fadlan dan Didi jatuh pingsan sehingga harus dilarikan ke RSU untuk mendapatkan perawatan medis.

 

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.