Lho, Apa Salahnya Keluarga Wiranto Bercadar Dan Bersorban Jalankan Perintah Islam?

Keluarga Menko Polhukam Wiranto yang bercadar saat pemakaman cucunya, Ahmad Daniyal Al Fatih menjadi viral di media sosial. Bahkan ada yang curiga anak Wiranto radikal.

Wiranto membuka klarifikasinya, dengan menceritakan salah satu anaknya, Zainal Nurizky, yang meninggal saat belajar Al-Quran di Afrika Selatan tahun 2013 silam. Berikut klarifikasi lengkap yang ditulis Wiranto terkait viralnya foto keluarganya tersebut:

Beberapa tahun yang lalu, di saat anak saya Zainal Nurizky (alm) meninggal dunia pada saat belajar Al -Quran di Afrika Selatan, ada sebagian orang mengatakan bahwa anak Wiranto menganut Islam radikal, masuk Islam garis keras, kader terorisme dan seterusnya.
Padahal dengan kesadarannya sendiri, dia minta izin untuk keluar dari Universitas Gadjah Mada yang sangat bergengsi itu, karena keprihatinan dan kesadarannya melihat perilaku sebagian generasi muda yang tidak lagi memiliki kepribadian yang terpuji.
Dia mendalami Al-Quran untuk memantapkan akhlak dan moralnya sebagai basis pengabdiannya ke depan nanti sebagai generasi penerus. Lewat internet, dia memilih tempat belajar Al-Quran yang bebas politik, Ponpes Internasional di wilayah Land Asia Afrika Selatan yang khusus untuk memantapkan pemahaman Al-Quran yang mengedepankan persaudaraan dan kedamaian, bukan sekolah terori
Sayang sekali, baru satu tahun belajar dari 7 tahun yang harus dijalaninya, dia meninggal di sana karena sakit, di saat membaca ayat-ayat suci. Maka, saat ada orang yang mencibir dan memfitnah, saya pun hanya tertawa, karena memang tidak perlu saya layani.
Sekarang ini, pada saat cucu saya Ahmad Daniyal Al Fatih (alm) meninggal dunia, ibu, ayah dan kakak- kakaknya mengenakan busana muslim yang bercadar, bersorban, banyak masyarakat terkejut. Media sosial ramai membincangkan tentang mereka.
Ada yang senang dan ada pula yang mencerca dengan prasangka dan cara mereka. Bahkan mencoba menghubung-hubungkan dengan tugas dan jabatan saya sebagai Menko Polhukam.
Saat ini, di tahun 2018, sudah genap setengah abad (50 tahun) saya mengabdikan diri saya kepada Ibu Pertiwi. 32 tahun dalam penugasan sebagai militer aktif dan sisanya, 18 tahun, dalam politik dan pemerintahan. Banyak yang telah saya lakukan untuk menjaga keutuhan, kedaulatan dan kehormatan negeri ini.
Prestasi, pujian juga fitnah dan cercaan sudah tak terbilang banyaknya. Namun, tidak menggoyahkan kecintaan saya kepada negeri ini dan keyakinan saya tentang ideologi negara Pancasila, Saptamarga yang telah merasuk dalam jiwa raga saya.
Dengan modal itu, saya ajari mereka untuk merasa memiliki, mencintai, membela negeri ini di mana pun posisi mereka, apa pun pekerjaan mereka. Karena di sinilah kita dilahirkan, dibesarkan, dididik, mendapatkan kehidupan bahkan tempat peristirahatan yang terakhir.
Agar anak dan cucu saya dapat menghadap Allah yang Maha Kasih dengan tenang, maka tidak ada salahnya kalau saya menjelaskan tentang keluarga saya dan prinsip-prinsip kehidupan yang saya berikan kepada mereka.
“Jangan campur adukkan agama dengan ideologi negara, jangan jual agama untuk kepentingan politik dan jangan jual agama untuk mencari keuntungan finansial. Dalami agama untuk bekal di akherat dan memberikan kebaikan bagi sesama, bangsa dan negara”.
“Kamu boleh kenakan baju apa saja, selama kamu merasa nyaman, tetapi yang penting janganlah penampilanmu hanya untuk pamer tentang ke-Islamanmu, karena kedalaman agamamu bukan diukur dari pakaianmu atau penampilanmu, tetapi akhlak dan perilakumulah yang lebih utama”.
Saya memberikan kebebasan kepada keluarga saya untuk menjadi apa saja dan melakukan apa saja sepanjang tidak keluar dari rambu-rambu kehidupan yang telah saya pesankan kepada mereka itu. Saya selalu menekankan kepada mereka untuk berusaha memberikan kebaikan kepada negeri ini dan bukan malah merepotkan negeri ini.
Saya beruntung pernah dipercaya menjadi Panglima ABRI/TNI tetapi tak seorang pun anak atau menantu saya mengikuti jejak saya sebagai militer, atau menjadi rekanan untuk pengadaan Alutsista.
Saya mendirikan Partai Hanura, namun tak seorang pun dari keluarga saya menjadi pengurus partai. Saya memang meminta dengan sungguh-sungguh kepada mereka untuk jangan sekali-kali memanfaatkan jabatan saya untuk kepentingan pribadi.
Saya bersyukur sampai detik ini kami sekeluarga masih dapat mempertahankan komitmen itu.
Terima kasih kepada siapa saja di saat cucu saya Ahmad Daniyal Al Fatih (alm) meninggal dunia, telah memberikan atensi dan doanya. Semoga semua itu akan menjadi bekal yang menerangi jalan baginya untuk menghadap Tuhan Yang Maha Kasih, Amiin.
Wiranto, 19 November 2018