Gay Berkeliaran Di Bekasi, Penderita HIV Meningkat

Yayasan Grapiks Bekasi menemukan fakta bahwa para pelaku seks menyimpang dari kalangan gay yang menjadi faktor pemicu terbesar meningkatnya angka HIV-AIDS di Bekasi dari kalangan remaja hingga orang dewasa.

Namun, menurut Direktur Yayasan Grapiks Bekasi, Daniel Ramadhan ketika mereka terus bertambah umur, biasanya muncul kembali kewarasan pikiran akan kodratnya sebagai laki-laki.

Dia menilai, Kabupaten Bekasi memiliki kelemahan dalam menangani laki suka lelaki (LSL). Yakni terkait tidak adanya panti rehabilitasi khusus LSL.

Padahal, lanjut Daniel, perilaku menyimpang LSL menunjukkan gejala yang telah mengarah pada gaya hidup.

“LSL belum punya panti rehabilitasi. Kita butuh adanya sebuah sistem dan metode untuk mengobati  mereka yang terlanjur LSL secara total, sebab kami melihat ini bukan karena bawaan,” tuturnya, Kamis 22/11/2018 pada wartawan.

Daniel mengungkapkan, upaya yang pihaknya tempuh sejauh ini yakni memutus mata rantai penularan HIV-AIDS dari seluruh kelompok risiko. Mengobati mereka yang terlanjur menjadi LSL serta mencegah sekuat-kuatnya agar tidak ada LSL yang baru. Ia menganalogikan, cara yang ditempuh serupa menangani orang yang kecanduan narkoba.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Bekasi, Priatna Gamal mengatakan, tahun ini pihaknya menerapkan sistem konseling dan tes HIV sukarela (VCT) di 19 puskesmas dari 44 puskesmas yang ada di Kabupaten Bekasi. Semua puskesmas belum dapat melayani pemeriksaan HIV-AIDS karena adanya keterbatasan tenaga konsultasi serta fasilitas.

Cara kedua, yakni melalui tes inisiasi petugas kesehatan (TIPK). Cara itu digunakan melalui kunjungan langsung ke tempat komunitas berada dengan bantuan Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) yang sudah kenal baik dengan komunitas.

Sejauh ini, lanjut dia, terdapat dua LSM yang bekerja sama dengan Dinkes Kabupaten Bekasi, yakni Yayasan Grapiks Bekasi dan Gaya Patriot Bekasi.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Bekasi, Hudaya, mengatakan, pihaknya telah melakukan pembongkaran terhadap 250 bangunan liar di bantaran Kalimalang, mulai dari kawasan Tegal Gede hingga perbatasan Karawang. Pembongkaran dilakukan mulai Selasa (13/11) hingga Kamis (15/11) pekan lalu.

Ia menyatakan, mayoritas dari bangunan liar itu merupakan warung remang-remang yang menjadi lokalisasi praktik prostitusi. Pembongkaran tersebut turut mendapat dukungan dari masyarakat serta tokoh ulama setempat karena meresahkan. “Sebab, sudah jelas, lokasi prostitusi juga menjadi tempat penyebaran HIV-AIDS,” katanya.

You might also like