Wibi, Pejuang Mangrove Raih Wana Lestari Konservasi Alam di Sumut

Wibi Nugraha tersenyum. Pria bersahaja ini tak menyangka bisa memenangkan lomba Wana Lestari Kader Konservasi Alam 2018 yang digelar Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara. “Ini anugerah besar buat saya, dan seluruh aktifis lingkungan khususnya pembudidaya mangrove,” ucap Wibi saat bertemu wartawan, Rabu (3/10/2018).

Wibi terpilih sebagai salah satu pejuang lingkungan hidup di Sumatera Utara. Ia didaulat menjadi juara I lomba Wana Lestari kader konservasi alam 2018 BBKSDA Sumatera Utara.  “Keberhasilan ini merupakan hasil perjuangan seluruh pecinta lingkungan. Saya tidak ada apa-apanya, tanpa seluruh aktifis lingkungan. Saya seperti ini berkat mereka,” tutur pria kelahiran 14 April 1977 ini merendah.

Keberhasilan Wibi meraih juara I lomba Wana Lestari bukan tanpa perjuangan. Suami Wina Widya Astuti ini bertahun tahun berkecimpung dalam pengembangan dan budidaya mangrove di pesisir pantai di Sumatera Utara. Ia juga tak bosan bosan mengajak para pemuda yang bermukim di kawasan pesisir untuk ikut mencintai lingkungan khususnya budi daya mangrove. Alasannya, kawasan pesisir perlu penanganan ekosistem lingkungan yang mumpuni karena rentan terkena bencana. “Banjir rob atau air pasang acap menjadi ancaman bagi warga pesisir. Belum lagi bahaya tsunami yang efeknya sangat berdampak buruk. Perlu upaya serius untuk mengantisispasi bahaya itu. Cara terbaik tentu dengan membudidayakan mangrove. Sebab, mangrove adalah benteng keselamatan di pesisir,” ujar Wibi.

Budi daya mangrove, sebut Wibi, tidak terlepas dari peranserta masyarakat. Bersama sejumlah pemuda di Percut Sei Tuan, Deliserdang, pula Wibi sempat mendirikan komunitas Rumah Mangrove Indonesia. Mereka getol menangkar pembibitan mangrove. untuk ditanam di sepanjang pantai Sumatera Utara. ”Awalnya, saya menjadi bahan tertawaan. Mereka menilai penanaman mangrove tak akan membawa hasil lantaran waktu itu hampir separuh bibit mangrove yang sudah ditanam terbawa gelombang,” kata Wibi.

Meski begitu, ia tetap berupaya keras mewujudkan hutan mangrove untuk melindungi pantai dari abrasi. Setiap kali ada bibit yang hanyut, ia bersama rekan-rekannya mengganti dengan yang baru. Hal itu mereka lakukan bertahun-tahun. Awalnya, meski belum terlalu rimbun, mangrove yang ditanam itu mampu mengurangi empasan gelombang pasang. “Budidaya mangrove butuh kerja keras, ketelatenan dan kesabaran,” ujar Wibi.

Manfaat mangrove, katanya, juga menjadi tempat penangkaran bibit dan embrio ikan. Selain itu menjadi tempat berkembang biaknya habitat biota laut. “Manfaat mangrove itu sangat banyak. Selain menangkal abrasi, juga menjadi tempat berkembang biaknya biota habitat alam lainnya,” ujar Wibi.

Ketertarikan Wibi membudidayakan mangrove berawal dari kecintaannya terhadap lingkungan. Rasa cinta lingkungan membuat Wibi mencurahkan hidupnya untuk alam. Sekitar tahun 2008, ia mendirikan komunitas lingkungan yang bernama Rumah Mangrove. Pada 2009, Wibi memutuskan berkeliling Indonesia dengan mengendarai sepedamotor cup 70 untuk melihat kondisi mangrove di sepanjang pantai. Mulai dari titik nol Sabang, Aceh, Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Bali, dan Lombok, Wibi berjalan menelusuri pantai dengan biaya sendiri. Ia melihat potensi alam khususnya hutan pantai, layak dilestarikan dan dirawat dengan sentuhan destinasi wisata.

Saat ini Wibi mendampingi kelompok tani Rencong di Aceh Utara.  Mereka berjuang mendapatkan legalitas dari Kementerian LHK RI untuk bisa mengelola dan merehabilitasi hutan Desa Paya Bakong seluas 1.687 hektar. “Sekarang sedang perlahan-lahan mulai penanaman pohon di hutan Aceh Utara,” sebut ayah dari Langit Biru Ramadhan dan Lembayung Senja Raya ini.

Selain itu, Wibi juga mendampingi kelompok tani Nipah Kwala Serapuh, Tanjung Pura, Langkat. “Penanaman mangrove yang sudah diupayakan di lahan seluas 242 hektar.  Ratusan hektar lainnya akan menyusul,” tuturnya.

Kepala BBKSDA Sumatera Utara, Hotmauli Sianturi membenarkan adanya penilaian soal Wana Lestari kader Konservasi Alam 2018. “Benar pak. Itu sudah program,” sebut Hotmauli singkat. (Zainul Arifin Siregar)