Polres Muaro Jami Gagalkan Penyelundup Baby Lobster

Sebuah mobil Pick Up jenis L300  dengan nomor Polisi BE 9563 CT yang membawa satu buah tekmon air, dan dua box plastik berwarna kuning yang sedang di parkir disalahsatu bengkel mobil di kawasan Kilo meter (KM) 28 Tempino, Kecamatan Mestong Kabupaten Muarojambi, ditangkap Polisi. Senin malam (8/10).

Kapolres Muaro jambi AKBP Mardiono, ketika dikonfermasih wartawan membenarkan, adanya  penangkapan itu oleh anggotanya. Adapun, mobil Pick Up tersebut membawa baby lobster yang diduga akan dibawa ke Negara Singapura dan Vietnam, melaui pelabuhan Sabak, kabupaten Tanjung Jabug Timur, namun berhasil digagalkan oleh Jajaran Kepolisian Resor Kabupaten Muarojambi.

Hasil dari penelitian Polres Muaro jambi bersama pihak Badan Karantina Ikan Provinsi jambi, mobil Pick Up, jenis L300, dengan nomor Polisi BE 9563 CT itu membawa 61.200 ekor baby lobster, terdiri dari 58.8600 ekor lobster jenis pasir dan 2.600 jenis mutiara. Baby lobster ini  diduga akan dibawa ke Negara Singapura dan Vietnam, untuk dijual, dengan estimasi senilai Rp. 9 milyar lebih.

Polres Muarojambi bersama BKIPM tunjukkan puluhan ribu baby lobster ilegal yang gagal diselundupkan (foto- samsul bahri)

Saat ini, mobil Pick Up tersebut telah dibawa ke Mapolres Muaro Jambi. Sedangkan pengemudi dan kernetnya sempat melarikan diri. Masalah Barang Bukti berupa baby lobster itu, ditangani oleh pihak Badan Karantina Ikan Provinsi jambi. Terkait dengan hal itu, Kapolres Muaro jambi AKBP Mardiono berjanji, untuk memburu Sopir mobil Pick Up jenis L300, dengan nomor Polisi BE 9563 CT yang sempat kabur, melarikan diri. “Masalah ini akan kita telusuri secara mendalam.” Jelas Mardiono.

Berdasarkan keterangan Kasat Reskrim AKP Afrito Baro Baro, mengatakan bahwa, penangkapan mobil BE 9563 CT itu berawal dari kecurigaan polisi, sehingga dilakukan pengadangan di jalur jalan tanjakan, arah Bayunglincir. Tetapi, setelah lama ditunggu, mobil tersebut tidak kunjung melintas. Kemudian Polisi melakukan penyelidikan, dan akhirnya mobil tersebut ditemukan berada di sebuah bengkel milik Dodo, di Kilo meter (Km) 28, Kabupaten Muaro Jambi.

Polres Muarojambi bersama BKIPM tunjukkan puluhan ribu baby lobster ilegal yang gagal diselundupkan (foto- samsul bahri)

“Karena mobilnya tidak muncul, dan berdasarkan keterangan saksi, kata Kapolres. Mobil tersebut di titipkan di bengkel. Sopir dan kernet tidak berada di tempat, berdasarkan informasi keduanya sedang makan siang, hingga Polisi melakukan pengecekan, terhadap kendaraan itu, bersama pihak Badan Karantina Ikan Provinsi jambi. Akhirnya memang benar adanya dugaan penyelundupan baby lobster tersebut, di mobil L 300- BE 9563 CT itu, dengan jumlah 61.200 ekor,” jelas AKBP Mardiono.

Menurut Kasatreskrim Polres Muarojambi, AKP Afrito Baro Baro, Kabag Ops Polres Muarojambi, Kompol Lukman, Paiman dan sukarni dari BKIPM Jambi. 61.200 baby lobster tersebut di-packing oleh pelaku, dengan 319 toples yang kemudian dimasukkan kedalam tedmon dengan sistem aerasi untuk memberikan oksigen pada benih lobster. Modus penyelundupan ini berbeda dari sebelumnya.

Adapun barang bukti berupa satu unit mobil Pick Up L-300 yang bermuatan satu tedmon dengan dua box plastik warna kuning, berisi 61.200 ekor benih lobster, dengan jenis pasir sebanyak 58.600 ekor dan jenis mutiara sebanyak 2.600 ekor, telah ditangani oleh masing- masing pihak. Polres Muaro Jambi dan masalah 61.200 ekor benih lobster, ditangani oleh Badan Karantina Ikan Pengendalaian Mutu dan Keamanan Perikanan wilayah Provinsi Jambi.

Menurut sumber yang layak dipercaya mengatakan, dalam kasus ini, pihak Polisi sudah berhasil menangkap salah seorang diduga sebagai pelaku penyelundupan Baby Lobster ini, mereka adalah salah seorang WNI keturunan, asal Muaro Jambi. Saat ini sudah dilakukan penahanan oleh pihak kepolisian.

Dalam aksi penyelundupan baby lobster yang diangkut oleh mobil L-300, BE 9563 CT ini, tersangka menggunakan dokumen (Surat kesehatan) dari Badan Karantina Ikan Pengendalaian Mutu dan Keamanan Perikanan wilayah Lampung. Untuk dan atasnam a udang jenis panamel (bukan lobster), degan tujuan lampung ke Tanjung Priuk. Tetapi dalam prakteknya yang dibawa jenis baby lobster. Akibat dari perbuatan ini negara dirugikan miliaran rupiah.

Menurut Sukarni, dari Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu Hasil Perikanan (BKIPM) Jambi, mengatakan, upaya penyelundupan 61.200 ekor benih (Baby Lobster) ke Singapura dengan tujuan utama adalah Fietnam, sangat merugikan negara Indonesia Rp 9.180.000.000. Menurut Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) KKP, Rina, jual beli lobster, kepiting, dan rajungan dari wilayah NKRI masih berjalan, hingga saat ini.

Padahal, Menteri Kelautan dan Perikanan telah mengeluarkan surat Nomor 56 Tahun 2016, mengenai Larangan Penangkapan Dan/Atau Pengeluaran Lobster, Kepiting, dan Rajungan dari Wilayah NKRI, tetapi masih ada orang yang tergiur, menangkap dan memperjualbelikan, bahkan menyelundupkan benih lobster, maupun kepiting bertelur. Karena iming-iming rupiah,” kata Rina (Februari 2017 lalu.)

Ia menjelaskan, pengiriman, pengangkutan, perdagangan, dan usaha penyelundupan benih lobster di Indonesia, paling marak jenis lobster batik, bambu, pasir, dan mutiara. Paling marak penangkapan dan ekspor ilegal jenis lobster mutiara karena harganya yang cukup mahal dibanding tiga jenis lain. “Harga yang paling tinggi jenis mutiara. Satu ekor benih lobster mutiara sebesar kelingking dihargai Rp 60 ribu per ekor di pengepul, tapi sampai di Vietnam dijual Rp 130 ribu per ekor,” kata Rina.

Sementara benih lobster jenis pasir, lanjut Rina, harganya hanya Rp 15 ribu-Rp 20 ribu per ekor di Indonesia. Setelah sampai ke Vietnam diharga lebih mahal Rp 60 ribu per ekor. “Oleh Vietnam, lobster itu dibesarkan dan nelayan mereka bisa panen dan menjual lobster hingga Rp 1 juta per Kilogram (Kg). Wong di sini saja makan lobster di restoran Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta per Kg,” kata Rina memaparkan.

Tedmon ini, dijadikan sebagai tempat baby lobster sebanyak 61.200 ekor yang akan diselundupkan ke luar negri. (foto tribunjambi)

Menurut Rina, penyelundupan lobster dari Indonesia ke Vietnam, minimal satu koper, sekitar 10 ribu-12 ribu ekor. Artinya, 12 ribu ekor dikalikan Rp 1 juta, sehingga potensi kerugian negara mencapai Rp 12 miliar. Faktanya, kalau satu kali pengiriman ilegal, hingga mencapai dua atau tiga koper, berarti mencapai 36 ribu ekor benih lobster.

“Dari itu BKIPM minta, agar nelayan Indonesia untuk sabar, tidak usah buru-buru ditangkap, biarkan besar dan yang akan menikmati keuntungan kan nelayan juga,” pinta Rina. Dia menjelaskan, sumber utama benih lobster jenis mutiara banyak terdapat di perairan Mataram, Lombok, dan Jawa Timur. Negara tujuan utama penyelundupan, diakuinya, yang terbesar saat ini Vietnam dan Singapura. “Memang ada pasar gelapnya di Vietnam,” Rina menegaskan.

Terkait dengan maraknya penyelundupan benih lobster dari Indonesia, Menteri Susi telah bertindak melobi pemerintah Vietnam untuk ikut bersama-sama, guna memberantas praktik ekspor ilegal. Tetapi persepsi kita (Indonesia) tidak sama, mereka (Vietnam) merasa kegiatan jual beli benih lobster tersebut, merupakan usaha penghidupan rakyat Vietnam,” Rina mengungkapkan.

“Dahulu, semua nelayan menunggu lobster berukuran besar, baru ditangkap dan dijual. Makanya grafik ekspor Indonesia pada tahun 2013-2014 hingga mencapai 45 ribu ton lobster. tapi sekarang orang berpikiran menjual benih demi keuntungan pribadi, dan negara lain yang mendapatkan hasil akhirnya,” keluh Rina. (Djohan)