Polisi Tidak Adil Jika Hanya Ratna Sarumpaet Yang Jadi Tersangka

Pendapat itu dikemukakan oleh Ketua Cyber Indonesia Muannas Al-Aidid. Muannas yang juga pelapor kasus itu menilai ada sejumlah pihak lain yang seharusnya ikut diproses hukum terlait hoaz Ratna Sarumpaet..

“Ya menurut kita nggak fair dong. Harus diproses,” kata Muannas di Mapolda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (8/10/2018).

Muannas berpendapat dugaan tindak pidana dalam penyebaran hoax penganiayaan itu tidak dilakukan secara tunggal. Bagi dia, peristiwa ini merupakan sebuah rangkaian dan saling berkaitan satu sama lain.

“Saya yakin Polri akan bekerja profesional tapi kita melihat peristiwa ini secara utuh. Bahwa pasal 14 itu tentang berita bohong, itu mengisyaratkan menyiarkan berita bohong yang dapat menyebabkan keonaran di kalangan rakyat. Itu lho klausulnya. Keonaran itu tidak berdiri sendiri. Keonaran yang mungkin terjadi tidak hanya kemudian dilakukan oleh RS yang menceritakan termasuk yang menyebarkan,” ujar dia.

Muannas menyebut satu per satu peristiwa yang ada di balik penyebaran berita bohong penganiayaan Ratna Sarumpaet. Mulai dari pernyataan para tokoh di media sosial hingga konferensi pers yang dilakukan Prabowo Subianto.

“Jadi ini salah satu rangkaian pidana yang sebetulnya satu paket satu kesatuan, antara yang menceritakan, dengan yang kemudian yang menyebarkan baik itu di media online maupun di media sosial. Atau kemudian melalui presscon termasuk kegiatan pengumpulan masaa dan misalnya ada buat pamflet, orasi segala macam. Itu bagian dari rangkaian kegaduhan,” paparnya.

Kedatangan Muannas ke Polda Metro Jaya ini dalam rangka memberikan keterangan sebagai saksi dalam kasus Ratna Sarumpaet. Dia membawa sejumlah barang bukti untuk mendukung kesaksiannya.

“Nah itu bukti-bukti yang kita lampirkan. Ada beberapa screenshot dan capture dari media sosial berupa Twitter yang pernah dicuitkan oleh beberapa tokoh di luar RS kemudian ada statement dari media online, misalnya pernyataan dari pak Sandi kemudian menyampaikan mendesak Polri untuk melakukam pengusutan terhadap adanya penganiayaan terhadap RS,” imbuhnya.

“Kemudian ada presscon juga berupa video, jadi selain screeshot tadi, capture di media sosial dan media online, ada video juga, jadi video berupa presscon di mana dilakukan oleh Pak Prabowo. Kemudian ada video juga yang beredar terkait Pak Fahri Hamzah juga pernah melakukan kegiatan pengumpulan massa gitu dalam rangka protes terkait adanya dugaan penganiayaan, dan misalnya ada video lagi anaknya Pak Amien Rais, Hanum Rais dengan Bu Ratna,” sambungnya.