Polisi Panggil Ulang Amien Rais, Kader PAN Cari Dalih Membelanya

Penyidik Polda Metro Jaya akan menjadwalkan pemanggilan ulang mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais terkait kasus aktivis Ratna Sarumpaet, pekan depan. Namun, polisi tidak menjelaskan materi keterangan yang akan digali dari politikus senior PAN tersebut terkait penyebaran kabar bohong yang menyeret Ratna.

“Rencana pekan depan untuk (pemanggilan ulang) Amien Rais,” kata Kepala Subdirektorat Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Polisi Jerry R Siagian di Jakarta, Ahad (7/10/2018).

Sebelumnya, penyidik Polda Metro Jaya mengagendakan pemeriksaan mantan Ketua MPR RI itu sebagai saksi kasus Ratna Sarumpaet pada Jumat (5/10/2018).

Namun, Polda Metro Jaya memastikan Amien Rais mangkir pemanggilan lantaran tidak memberikan alasan ketidakhadiran memenuhi panggilan penyidikan.

Namun, alasan pemanggilan Ketua Dewan Kehormatan (Wanhor) PAN Amien Rais sebagai saksi kasus hoaks Ratna Sarumpaet dipertanyakan oleh kader Partai Amanat Nasional (PAN).  Konstruksi logika menjadikan Amien sebagai saksi dinilai lemah.

“Apa sebenarnya alasan Polri memanggil beliau (Amien Rais, Red) sebagai saksi?” tanya anggota Wanhor PAN, Dradjad Wibowo,  Jumat (5/10).

Panggilan Polri tersebut, menurut Dradjad, lemah konstruksi logikanya. Dikatakannya,  penggunaan UU No 1 tahun 1946, maka jika pasal 14 ayat 1 digunakan untuk memanggil Amien sebagai saksi, mengapa Polri tidak menggunakannya untuk memanggil Mendag Enggar dan Kabulog Buwas ketika keduanya ribut besar di media hingga keluar kata-kata ‘matamu’.

“Apa yang membuat kasus hoax Ratna bisa didefinisikan sebagai ‘keonaran di kalangan rakyat’, sementara ribut-ribut beras tidak?” kata Dradjad.

Menurut Dradjad, persoalan beras adalah hal terkait hajat hidup rakyat banyak. “Apa itu tidak lebih penting? Soal ‘pemberitahuan bohong’, silakan dicek sendiri, apakah ada kebohongan dalam masalah beras ini?” ungkapnya.

Selain itu, Dradjad mempertanyakan logika menjadikan Amien Rais sebagai saksi terkait ‘tindak pidana menyampaikan berita bohong di sosial media’.  Dijelaskannya, foto wajah lebam dan narasi penganiayaan itu sudah beredar luas di media sosial dan media online jauh sebelum Ratna Sarumpaet menemui Prabowo, Amien Rais, dll.

“Kalau Polri perlu saksi, ya carilah orang yang tahu tentang awal tersebarnya foto dan narasi tersebut. Bukan pak Amien dkk yang sebenarnya juga korban kebohongan RS dan tahunya tergolong paling akhir,” kata politikus yang dekat Amien ini.