Kaum Laknat LGBT Meresahkan Warga Garut

Isu maraknya perilaku LGBT di Garut kembali menghentak warga Garut menyusul beredarnya sebuah grup Facebook gay siswa SMP/SMA di Garut di aplikasi pesan WhatsApp (WA) beberapa hari terakhir ini.

Kendati belum dapat dipastikan kebenaran keberadaan grup LGBT dengan ribuan pengikut tersebut, dan kabarnya sedang ditelusuri pihak kepolisian, isu LGBT di Garut sebenarnya bukan hal baru.

Tapi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Garut telah lama mendapati komunitas gay yang menggunakan sarana medsos. Menurut Pengelola Program KPA Garut Guntur Yana Hidayat, selain Facebook, terdapat media sosial greender yang menjadi salah satu jejaring sosial di antara sesama LGBT dengan gambaran kepesertaan lebih parah lagi serta ada di setiap kabupaten/kota.

Dia menyebutkan, pada 2016, KPA Garut pernah melakukan pemetaan terhadap komunitas laki-laki seks laki-laki (LSL) selama dua minggu dengan menggunakan empat fasilitator di lapangan dari komunitas gay. Hasilnya, diketahui terdapat sekitar 1.200 orang berperilaku LSL di Garut.

“Kalau melihat estimasi perkiraan Kemenkes pada 2012, jumlah komunitas LSL di Garut sangat mencengangkan, mencapai sekitar 12.000 orang,” ujarnya, Ahad (7/10/18).

Dinkes Garut juga pernah melakukan tes HIV/AIDS terhadap sebanyak 8.440 penduduk terdiri 2.290 laki-laki, dan 6.150 perempuan di Garut dalam rentang Januari-Oktober 2017. Hasilnya, diketahui terdapat sebanyak 59 individu di antaranya positif terinfeksi HIV/AIDS, meliputi 48 laki-laki, dan 11 perempuan.

Mereka didominasi usia produktif berkisar 25-49 tahun. Sebanyak 27 orang di antaranya terinfeksi HIV akibat LSL sebagai populasi terbanyak HIV positif.

Para pelaku LSL tersebut meliputi individu berperan sebagai laki-laki umumnya berpendidikan menengah ke atas. Sedangkan individu berperan perempuan, umumnya berpendidikan menengah ke bawah.

Guntur mengingatkan perkembangan LGBT tersebut perlu diwaspadai. Selain bertentangan dengan moral dan norma keagamaan/Islam, perilaku tersebut juga menjadi penyumbang penyebaran HIV/AIDS yang keberadaannya bak fenomena gunung es. Jumlah sesungguhnya bisa jadi jauh lebih banyak daripada apa yang tampak di permukaan.

“Kalau dilihat data, kasus komunitas LGBT di Garut, rata-rata dalam satu tahun per bulannya bisa ditemukan satu orang terinfeksi HIV. Tapi apakah kondisinya lampu merah? Tentu harus ada data-data membandingkan jumlah penduduk Garut dengan komunitas LGBT,” kata Guntur.

KPA Garut sendiri, lanjutnya, kesulitan melakukan survey atau pendataan ke lapangan untuk mengetahui jumlah, dan perkembangan LGBT di Garut karena keterbatasan anggaran tersedia. KPA Garut hanya mengandalkan dana operasional sebesar Rp2 juta per bulan dari KPA Provinsi Jabar untuk 2018.