Dipicu Ulah Seorang Anggota Dewan, Unjuk Rasa Mahasiswa Bireuen Nyaris Ricuh

Menuntut Pembatalan Pembelian Mobil Dinas Mewah Bupati

Bireuen, Aceh – Unjuk rasa puluhan mahasiswa Kabupaten Bireuen, Aceh yang menamakan dirinya Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Kabupaten Bireuen yang menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Bireuen, pada Senin (8/10/2018) nyaris ricuh. Hal ini dipicu oleh ulah salah seorang anggota DPRK Bireuen yang terkesan memprovokasi mahasiswa yang sedang melakukan orasi damai.

Pantauan media ini di lokasi unjuk rasa, aksi tersebut diikuti puluhan mahasiswa. Ada 10 tuntutan yang mengemuka dalam aksi tersebut, tapi isu utama yang membuat mahasiswa sampai menggeruduk DPRK Bireuen adalah masalah pembelian mobil dinas Bupati Bireuen seharga Rp 1.9 milyar dalam APBK-P 2018, yang dinilai tidak peka terhadap kondisi rakyat Kabupaten Bireuen yang masih morat-marit.

“Meski pengadaan mobil dinas ini sah secara aturan, tapi untuk mobil dinas seharga demikian, ini sungguh memberatkan keuangan daerah. Apalagi mobil dinas bupati masih baru,” seru salah seorang pengunjuk rasa yang diketahui bernama Fadhil.

Sementara itu, koordinator aksi Iskandar, menyebutkan, aksi unjuk rasa ini merupakan aksi damai yang menuntut evaluasi mobil dinas baru Bupati Bireuen.

“Mohon angggota dewan keluar temui kami. Dengarkan aspirasi kami, kalian kami yang pilih, gunakan hati nurani dalam memutuskan suatu kebijakan,” kata Iskandar.

Massa terus bersikukuh meminta anggota dewan untuk keluar menemui mereka. Tak berapa lama, Ketua DPRK Bireuen, Ridwan Muhammad, Wakil Ketua, Drs Muhammaad Arif, Muhammad Amin, Hasanuddin Usman, Rusyidi Mukhtar, menemui para pendemo.

Tapi tanpa diduga, kemudian terjadi ketegangan antara massa dengan salah seorang anggota dewan dari Partai Golkar, Muhammad Amin atau sering disapa Keuchik Min yang memakai kemeja kuning, yang terkesan memprovokasi pengunjuk rasa. Ia terlihat oleh media ini dua kali mendorong mahasiswa, sambil menggumam tak jelas.

Merasa dilecehkan, lantas mahasiswapun mencoba membalas mendorong politisi yang diketahui pada aksi unjuk rasa beberapa waktu lalu juga nyaris menimbulkan kegaduhan dengan pengunjuk rasa. Aksi itu akhirnya bisa dilerai oleh aparat keamanan dari kepolisian Polres Bireuen dan Satpol PP yang terus bersiaga.

Terkait tuntutan pengunjuk rasa untuk membatalkan pengadaan mobil mewah Bupati Bireuen, Pimpinan DPRK Bireuen di hadapan pengunjuk rasa berjanji akan membahas dalam Rapat Badan Musyawarah (Bamus).

Ketua DPRK Bireuen Ridwan Muhammad didampingi sejumlah anggota dewan, seperti wakil ketua DPRK, Muhammad Arif,  Rusyidi Mukhtar, Hasanuddin Usman, Ismail Adam, Zulfahmi, kepada 10 perwakilan pendemo yang diterima masuk di halaman gedung dewan setempat.

Perwakilan pendemo duduk di lantai halaman gedung dewan menyampaikan tuntutannya secara bergantian kepada anggota dewan yang menemui mereka yang dikawal polisi dan anggota Satpol PP Bireuen.

Sementara itu, Muhammad Amin, politisi Partai Golkar dari Fraksi Karya Indonesia Damai yang sempat memancing emosi pengunjuk rasa saat menerima perwakilan pengunjuk rasa tidak terlihat dalam pertemuan tersebut

Ridwan Muhammad di hadapan pendemo mengatakan, pihak dewan sangat terharu atas aksi yang dilakukan mahasiswa dan masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya tersebut dan pihaknya menerima aspirasi mereka tersebut.

“Dalam seminggu ini surat tuntutan pendemo yang sudah kita terima akan dibahas dalam rapat Bamus, nantinya hasilnya akan disampaikan kembali kepada pendemo hari ini,” sebut Ridwan Muhammad.

Pihaknya, sebut Ridwan Muhammad, akan membahas tuntutan yang ditujukan untuk dewan, sementara tuntutan kepada Bupati atau eksekutif, akan disampaikan kepada Pemkab Bireuen. Ini bentuk dari tugas pengawasan dewan.

Dewan sendiri sudah mengesahkan pengadaan mobil tersebut dalam APBK-P 2018, sehingga kalaupun ditinjau ulang, maka itu hanya bisa dilakukan oleh Tim Evaluasi Provinsi.

Setelah mendapatkan tanggapan dari dewan dan menyerahkan tuntutannya, pengunjuk rasa kemudian membubarkan diri dengan tertib. [Hamdani]