BIN Tepis Tudingan Intervensi Pemilihan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Indonesia.

 

Pemilihan Ketua Kwartir Nasional (KWARNAS) Gerakan Pramuka Indonesia. berlangsung di Kendari Sulawesi Tenggara pada 28 September 2018 menyisakan tiga kandidat dari 11 kandidat yang diusulkan kwarda. Ketiganya adalah Adhyaksa Dault, Budi Waseso dan Jana Anggadiredja.

Juga menyisakan tudingan bahwa Badan Intelijen Negara (BIN) campur tangan untuk menentukan calon Ketua Kwarnas.

Dari 35 suara yang ada, Budi Waseso memperoleh 19 suara, Adhyaksa 14 suara dan Jana 2 suara.

“Adanya tudingan bahwa intelijen mengintervensi pemilihan Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka yang berujung pada keterpilihan Budi Waseso adalah tidak benar (Hoax),” kata Wawan Hari Purwanto Juru Bicara Kepala BIN dalam siaran pers tertulis, 2/10/2018.

Menurut Wawan pemilihan berlangsung secara Luber (Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia) serta Jurdil (Jujur dan Adil), tidak ada yang tahu ketika terjadi pencoblosan di bilik suara.

“Tidak ada intervensi intelijen terhadap ketua-ketua Kwartir Daerah (Kwarda). Jalannya pemilihan sangat fear, terbuka dan semua pihak dapat menyampaikan pendapat,” ujar Wawan.

Tidak ada kepentingan di balik pemilihan tersebut, siapapun yang terpilih harus mampu mengemban amanat mendidik kader pandu Indonesia ke depan.

Soal regenerasi kepemimpinan di Kwarnas bukan hal baru, dari waktu ke waktu kepemimpinan silih berganti. Tiap orang ada masanya, dan tiap masa ada orangnya. Semua saling mengisi dan saling berkontribusi satu sama lain.

Mengenai siapa yang terpilih diupayakan ada musyawarah mufakat, namun karena musyawarah mufakat tidak dapat diperoleh maka dilakukan voting.

Siapapun yang terpilih dalam voting harus ditegak-hormati. Hal ini menjadi pembelajaran demokrasi yang baik bagi adik-adik pandu Indonesia. Tidak perlu mencari kambing hitam dalam sebuah proses pemilihan.