Wabah Kolera Makin Ganas

Puluhan tewas dan ribuan lainnya terjangkit penyakit mematikan. Pemerintah Zimbabwe terapkan langkah darurat.

Para pejabat kesehatan Zimbabwe waspada setelah lima orang meninggal tampaknya akibat wabah kolera di Ibu Kota, Harare. Wabah kolera pada 2008 menewaskan 5.000 orang di negara Afrika selatan itu, yang mengalami kesulitan pasokan air bersih dan sanitasi. Kondisi di Indonesia lebih baik dari situasi yang dilaporkan Wartawan VOA Columbus Mavhunga dari Harare.

Dikisahkan oleh seorang warga bernama Lizzy Maupa, dia menggunakan ember untuk mengangkut air yang ia pakai untuk mandi dari bak ke toiletnya. Maupa mengatakan ia punya bayi berusia empat minggu dan seorang anak berusia tiga tahun, tapi persediaan air di kota itu tak kunjung mengalir selama sebulan.

Ia mengambil air dari sungai terdekat, yang ia rebus untuk air minum. Maupa ekstra hati-hati setelah Departemen Kesehatan Zimbabwe, Kamis (6/9), mengumumkan kolera merebak di bagian kota mereka. “Saya sudah mendengarnya tadi malam. Jadi saya berusaha menjaga kebersihan agar bisa mengurus anak yang masih kecil. Sulit karena kebutuhan air saya banyak sekali,” kata Maupa.

Menteri Kesehatan Zimbabwe David Parirenyatwa pada Kamis malam mengatakan kepada wartawan, sekitar 40 orang dirawat akibat kolera. Lima lainnya meninggal karena diare dan muntah-muntah, gejala khas penyakit yang ditularkan lewat air.

Selama kunjungan ke kamp sementara untuk pengobatan kolera di Harare, Parirenyatwa memperingatkan orang-orang untuk mencuci tangan mereka dan hanya minum air bersih. “Ini biasanya masalah air yang terkontaminasi. Orang-orang ini kami duga minum air dari satu atau dua sumur yang sampelnya airnya sudah diambil oleh tim kami,” kata Parirenyatwa.

“Jika terkontaminasi, sumur itu akan dinonaktifkan. Mereka yang dirawat di sini semakin membaik. Seperti biasanya pencegahan adalah kunci jika tidak kita akan mengalami wabah di seluruh negeri,” ujarnya,

Wabah kolera pada 2008 di Zimbabwe berlangsung selama satu tahun dan menewaskan sekitar 5.000 orang. Wabah tersebut berhenti setelah kelompok-kelompok internasional seperti USAID menyumbangkan obat-obatan dan bahan kimia pengolah air.

Staf medis memeriksa warga dari gejala penyakit kolera yang tengah mewabah di ibu kota Zimbabwe di Harare (kompas.com)

Pimpinan Dokter HAM Zimbabwe, Calvin Fambirai, memperingatkan Zimbabwe harus meningkatkan sanitasi mendasar untuk mencegah wabah lebih jauh. “Kondisi yang menyebabkan penyebaran kolera dan tipus di Zimbabwe belum berubah. Kondisinya lebih buruk dari hari ke hari,“ kata Calvin.

Fambirai mengatakan buruknya kebersihan, kualitas air, dan pembuangan limbah di daerah padat penduduk masih belum terpecahkan.

Pemerintah Zimbabwe juga mengumumkan situasi darurat di ibu kota Harare. Keputusan itu diambil setelah merebaknya wabah kolera.”Kami memberlakukan situasi darurat di Harare. Ini dilakukan untuk mencegah menyebarnya kolera atau wabah lain, kami belum bisa menyampaikan keterangan lain saat ini,” sebut Moyo seperti dikutip dari Reuters, Rabu 12 September 2018.

Saat ini, Pemerintah Zimbabwe telah melarang penjualan ikan serta daging di daerah yang terimbas wabah kolera, seprti di Budiriro dan Glenviews.Selain itu, beberapa kelas di satu sekolah di Harare untuk sementara ditiadakan. Pasalnya, dua orang siswa sekolah itu meninggal dunia akibat terjangkit kolera.

Untuk mencegah situasi semakin buruk, Zimbabwe meminta bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta beberapa perusahaan swasta untuk menyalurkan air bersih.

Untuk meminimalkan penularan, Polisi Zimbabwe mengeluarkan larangan atas semua pertemuan umum untuk mengendalikan penyebaran kolera, Rabu. Larangan itu diterbitkan sehari sesudah pemerintah mengumumkan keadaan darurat menyusul perluasan wabah penyakit yang telah menewaskan 21 orang di Ibu Kota Harare.

Dalam pernyataannya, juru bicara polisi nasional Zimbabwe, Charity Charamba, mendesak anggota masyarakat memperhatikan pelarangan itu. Ia menegaskan masyarakat bisa membantu mengurangi penyebaran kolera dengan tidak berkumpul dalam jumlah banyak.

Akan tetapi, Charamba tidak mengatakan berapa lama pelarangan itu diberlakukan.

Pemimpin oposisi utama, Nelson Chamisa, merencanakan mengadakan unjuk rasa pada Sabtu. Ia diduga telah meniru sumpah jabatan presiden, tiga pekan sesudah Presiden Emmerson Mnangagwa dilantik menyusul putusan pengadilan yang memenangkan perselisihan kemenangan pemilihan umumnya. Juru bicara Chamisa, Nkululeko Sibanda, belum memberikan tanggapan.

Pemimpin oposisi itu pada Rabu pagi mengunjungi klinik tempat penderita kolera dirawat dan menyerukan kerja sama pejabat kesehatan kota itu dengan pemerintah. Menteri Kesehatan Obadiah Moyo pada pertemuan departemen penangan wabah itu menyatakan lebih dari 3.000 orang terpapar kolera dan penyakit itu sekarang menyebar ke luar Ibu Kota.

Kejadian tersebut merupakan wabah kolera terbesar sejak 2008. Saat itu, 4.000 orang meninggal dan lebih dari 40.000 dirawat karena penyakit tersebut, demikian data kementerian kesehatan.JIR