PDB SATELIT. Oleh : Soen’an Hadi Poernomo Dosen Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP), Jakarta Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (ispikani)

Salah satu indikator untuk melihat kemampuan sumberdaya ekonomi nasional maupun suatu sektor, adalah dengan menggunakan Produk Domestik Bruto (PDB) nominal. Dalam sistem penghitungannya, baik atas dasar harga yang berlaku maupun atas dasar harga konstan, dihindari adanya penghitungan ganda antar berbagai sektor. Sistem tersebut diperlukan, sebab bila terjadi suatu lapangan usaha diperhitungkan lebih dari satu sektor, akan menyebabkan pembengkakan jumlah yang keliru.

Akan tetapi, ada pula titik kelemahan sistem perhitungan tersebut, yakni dalam nilai PDB nominal yang disajikan terdapat beberapa kegiatan pokok pada suatu sektor, tidak diperhitungkan dalam sektor yang sangat terkait, karena terpilih untuk dijadikan bagian dari sektor lain. Dengan demikian, maka PDB yang tertera dalam PDB nominal suatu sektor, tercatat berkurang dari hasil yang sebenarnya.

Misalnya dalam sektor perikanan, kegiatan industri pengalengan ikan akan terhitung sebagai kegiatan sektor perindustrian. Bisnis penjualan ikan di pasar, akan dimasukkan dalam sektor perdagangan. Nilai ekonomi pengalengan ikan dan jual-beli ikan di pasar, tidak terhitung sebagai PDB nominal sektor perikanan.

Untuk memperoleh gambaran nilai ekonomi obyektif suatu sektor, maka dibuatlah perhitungan ‘PDB Satelit’, yang memuat seluruh kegiatan dalam suatu sektor, tidak dikaitkan dengan akumulasi perhitungan PDB Nasional. Berikut adalah contoh PDB nominal sektor perikanan dan PDB Satelit Perikanan.

PDB Nominal Perikanan

PDB Perikanan merupakan bagian dari PDB Nasional yang menyajikan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh unit usaha pada bidang perikanan tangkap dan perikanan budidaya. PDB Perikanan pada tahun 2017 yang bernilai Rp 339.532 milyar, adalah 2,58% dari PDB Nasional yang berjumlah Rp 13,187,7 triliun; dan 11,025% dari Kelompok Lapangan Usaha/Sektor  Pertanian, Kehutanan dan Perikanan yang nilai PDBnya Rp 1.814,3 triliun (13,76% dari PDB Nasional). Jika dibandingkan dengan PDB Perikanan tahun 2016, mengalami kenaikan 6,81%.

Apabila dilihat kegiatan per-subsektor, PDB Perikanan porsinya sedikit lebih besar pada perikanan budidaya (54,16%), dibanding dengan perikanan tangkap (45,84%). Sedangkan dari nilai ekonomi tiap kegiatan, yang paling menonjol hasilnya adalah perikanan tangkap di laut (42,19%), disusul perikanan budidaya di tambak air payau (20,59%), budidaya air tawar di kolam (15,25%), dan budidaya di laut (10,80%)—terutama komoditas rumput laut (9,92%).

PDB Satelit Kelautan dan Perikanan

PDB Satelit KP memberikan informasi jumlah nilai tambah yang lebih utuh, karena mencakup seluruh lapangan usaha yang ada di sektor kelautan dan perikanan, termasuk pengolahan hasil perikanan, perdagangan besar dan eceran, ekstraksi garam, dan jasa wisata tirta.

Badan Pusat Statistik (BPS) bekerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menghitung PDB Satelit Kelautan dan Perikanan. Data terakhir, tahun 2015, PDB Satelit KP adalah Rp 405.437 miliar. Apabila dibandingkan dengan PDB Nasional 2015 (seluruh sektor), yang bernilai Rp 11.540.790,-, maka persentase PDB Satelit KP terhadap PDB Nasional adalah 3,51%. Pada tahun yang sama, PDB Perikanan (nominal) adalah terhitung Rp 288.917 milyar, atau 2,53% dari PDB Nasional.

Kegiatan yang memiliki bagian terbesar pada sektor ini adalah lapangan usaha perikanan budidaya dan perikanan tangkap, yakni total keduanya adalah 72,05%, dengan nilai Rp 292.136 milyar. Disusul dengan lapangan usaha Perdagangan Besar dan Eceran 20,46% (Rp 82.943 milyar) dan Industri Pengolahan Hasil Perikanan 7,04% (Rp 28.544 milyar). Berikutnya adalah kegiatan yang bernilai relative kecil, yakni Jasa Wisata Tirta 0,17% (Rp 696 milyar), Ekstraksi Garam 0,16% (Rp 631 milyar), serta Konstruksi 0,12% (Rp 487 milyar).

Dari kondisi data antar kelompok lapangan usaha ini terlihat bahwa kegiatan produksi penangkapan ikan dan budidaya—yang dalam PDB nominal sebagai sektor ‘perikanan’, dan sebagai kegiatan “hulu”, jauh lebih besar dari pada kegiatan (sektor) perdagangan yang berada di “tengah”, dan yang terendah yaitu pada (sektor) industri, sebagai posisi “hilir”. Besarnya kelompok produksi (72,03%) dapat difahami, karena potensi sumberdaya alam, berupa laut yang luas, pantai yang panjang, serta lahan dan sumberdaya manusia yang tersedia, menghasilkan nilai ekonomis secara kuantitatif sangat besar. Namun produksi sumberdaya alam yang tinggi ini hendaknya senantiasa diiringi dengan paradigma yang mempertimbangkan pelestarian sumberdaya alam, atau keberlanjutan (sustainability).

Kegiatan perdagangan (20,36%) yang posisinya cukup tinggi, namun masih jauh dari kegiatan produksi, menunjukkan terdapatnya peluang sekaligus hambatan. Peluang yang ada, yakni tersedianya produk yang diperdagangkan, serta konsumen yang menerima, baik domestik maupun ke luar negeri. Namun kendala yang banyak dijumpai dalam perdagangan adalah kurangnya fasilitas pendukung perdagangan, distribusi dan pemasaran, serta mahalnya biaya transportasi—terutama antar pulau dan yang jauh ke pedalaman. Hambatan yang bersifat alami adalah sifat produk perikanan yang mudah mengalami kemunduran mutu (perishable food).

Kegiatan yang dalam posisi terakhir, atau relatif paling kecil adalah sektor industri (7,23%). Dalam sistem perekonomian, sebaiknya posisi “hilir” ini menjadi yang terbesar, karena banyak memberikan nilai tambah, sehingga banyak memberikan sumbangan kepada pelaku usaha, masyarakat dan negara. Namun kenyataannya yang masih rendah, menunjukkan perlu dengan serius untuk ditingkatkan. Tantangan yang harus dihadapi, atau solusi yang harus diupayakan pemecahannya adalah keterbatasan modal, kurangnya sarana dan prasarana, penguasaan teknologi, atau lemahnya kualitas sumberdaya manusia, baik ketrampilan atau tingkat produktivitasnya. Namun dibalik kekurangan itu semua, mungkin juga disebabkan oleh keunikan ekonomis produk perikanan yang bersifat positif, yakni kondisi produk yang paling bernilai ekonomis tinggi adalah justru saat segar, belum melewati industri pengolahan.***