Pandu Wicaksono Pantesnya Dihukum Kebiri

 

Pandu Dharma Wicaksono (22) divonis 12 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Balikpapan, Kaltim, pada Rabu (19/9). Pemuda ini dianggap terbukti melakukan kekerasan seksual kepada 9 bocah lelaki di bawah umur sepanjang 2013.

Kala itu ia menjabat sebagai presiden “Green Generation”, organisasi lingkungan untuk remaja. Pandu juga dikenal sebagai sosok pemuda berprestasi lulusan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta yang juga sedang mempersiapkan keberangkatannya ke Inggris untuk melanjutkan pendidikannya.

Tak hanya vonis 12 tahun penjara, majelis hakim juga menjatuhkan denda dengan nilai yang cukup fantastis terhadap terdakwa.

“Juga menjatuhkan denda Rp1 miliar kepada terdakwa,” kata Ketua Majelis Hakim Agus Akhyudi, seperti dikutip dari Antara.

Walaupun denda itu bisa diganti dengan kurungan 6 bulan. Hukuman penjaranya juga dikurangi masa tahanan yang sampai vonis dijatuhkan sudah mencapai 8 bulan sejak November 2017.

Pemerhati anak nasional, Seto Mulyadi atau Kak Seto berharap agar Pandu Dharma Wicaksono mendapat hukuman kebiri sintetis.

Pelantun lagu Si Komo Lewat itu mengaku geram dengan mantan tokoh pemuda yang sempat memimpin Green Generation Indonesia, namun ternyata berperilaku sebagai predator anak.

“Meski telah dijatuhi hukuman 12 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar, saya terus terang punya ekspektasi lebih tinggi daripada sebatas 12 tahun penjara bagi terdakwa,” kata Kak Seto kepada pers, Minggu 22/9/2018.

Kak Seto  berharap diterapkannya hukuman  kebiri sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2016.perppu itu diberlakukan kepada sang predator anak.

Dalam perppu itu dikatakan, seseorang yang melakukan tindak kekerasan seksual terhadap anak dengan korban lebih dari satu orang, maka ancaman penjara minimal 10 tahun dan maksimal 20 tahun.

Menurut Kak Seto, hukuman yang diberikan kepada Pandu hanya selisih dua tahun dari hukuman minimal.

“Lain hal, dengan alasan yang sama pelaku dapat dikenakan sanksi tambahan berupa pengumuman identitas pelaku serta kebiri kimiawi. Vonis hakim ternyata juga belum memuat dua ragam pidana tambahan tersebut,” ungkap Seto.

Di Indonesia memang belum ada seorang pun yang mendapatkan ancaman hukuman kebiri kimiawi meski sudah dituangkan dalam perppu.

Selaku pemerhati anak, dia mengaku khawatir terhadap angka kejahatan seksual terhadap anak bergerak laksana deret ukur.

“Kenaikan hukuman bagi predator anak seperti laksana deret hitung. Jumlah kasus membumbung, lama pemenjaraan relatif, segitu-segitu saja,” ujarnya.