Membobol Lewat Kredit Fiktif

Tiga pejabat Bank Mandiri di Bandung membuat kredit fiktif dan menguntungkan pihak lain. Kini disidangkan.

Bekerja di lembaga keuangan yang bergelimangan uang, membuat tiga pejabat Bank Mandiri di kota Bandung lupa bahwa uang-uang tersebut bukanlah milik mereka. Dengan sesuka hati mereka menguasai uang-uang tersebut dengan menggunakan kredit fiktif. Akibatnya mereka kini menjadi pesakitan dan menjalani persidangan.

Roni Tedi dan tiga pejabat Bank Mandiri Bandung didakwa Pasal 2 ayat 1 juncto Pasal 18 Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 KUH Pidana, subsider Pasal 3 juncto Pasal 18 Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 KUH Pidana serta dakwaan lebih subsidair Pasal 9 Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 KUH Pidana.

Kedua pasal itu mengatur soal perbuatan melawan hukum untuk menguntungkan diri sendiri maupun orang lain sehingga menimbulkan kerugian keuangan negara.”Ancaman hukumannya mencapai maksimal 20 tahun,” ucap jaksa Fathoni saat membacakan surat dakwaan.

Tiga terdakwa dari Bank Mandiri itu yakni Surya Beruna selaku commercial banking manager Bank Mand‎iri cabang Bandung, Teguh Kartika Wibowo selaku senior credit risk manager Bank Mandiri Cabang Bandung dan Frans Eduard Zandstra selaku ‎senior relation manager Bank Mandiri Bandung.‎‎‎

“Bahwa ketiga‎ terdakwa secara melawan hukum dengan tidak memverifikasi dalam membuat dan usulkan nota analisis kredit sebagaimana diatur di di Pasal 8 ayat 2 Undang-undang Perbankan sehingga perbuatan melawan hukumnya itu memperkaya diri orang lain dalam hal ini Roni Tedi dengan kerugian negara Rp 1,8 triliun,” ujar Fathoni, jaksa penuntut umum (JPU).

Jaksa menyebutkan Roni terbukti telah memalsukan laporan keuangan dengan seolah-olah memiliki aset dan piutang mencapai Rp 1,1 triliun. Sehingga dirinya mengajukan kredit kepada Bank Mandiri.

Namun kenyataannya, laporan keuangan tersebut tidak ada alias fiktif. Pada pokoknya, jaksa menyebut Roni mengajukan fasilitas kredit sejak 2008 hingga 2012 dengan data-data fiktif. “Laporan keuangan yang menyebutkan adanya piutang Rp 1,1 triiun lebih adalah fiktif untuk mendapat fasilitas kredit,” kata jaksa.

Empat terdakwa di ruang sidang PN Bandung (Foto: Dony Indra Ramadhan/detikcom)

Dalam dakwaannya, jaksa menyebut peran tiga pejabat Bank Mandiri. Jaksa menyebut ketiganya lalai karena tidak memverifikasi pemberian kredit dengan nilai fantastis. “Tidak melakukan verifikasi pemberian fasilitas kredit dan abaikan proses pemberian kredit hingga pertimbangan pemberian kredit berdasarkan piutang tidak didasarkan pada syarat yang seharusnya. Sehingga negara dirugikan sebesar 1,83 triliun rupiah,” ujar Fathoni.

Ketiga terdakwa juga didakwa Pasal 9 Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi tentang pemalsuan buku-buku administrasi dalam pekerjaannya sebagai bankir Bank Mandiri. “Terdakwa telah melakukan percobaan pembantuan atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana korupsi, yaitu selaku pembuat atau pengusul nota analisis kredit pada Bank Mandiri dengan sengaja memalsu data-data yang khusus pemeriksaan saksi-saksi,” ujar Fathoni.

Dalam kasus itu, pihak yang diuntungkan adalah Roni Tedy selaku Direktur PT Tirta Amarta Bottling yang sejak 2008 hingga 2015 mengajukan fasilitas kredit secara berkelanjutan menggunakan data-data yang tidak sebenarnya.

Namun pada akhirnya tidak bisa mengembalikan kredit tersebut meski Bank Mandiri sudah memberikan tambahan waktu pelunasan hingga 31 Desember 2017. “Dan fasilitas ‎kredit tersebu juga tidak digunakan sebagaimana mestinya sehingga berdasarkan pemeriksaan BPK RI, negara dalam hal ini Bank Mandiri mengalami kerugian keuangan negara senilai Rp 1,8 triliun (lebih),” ujar Fathoni.

Usai pembacaan dakwaan, Teguh Kartika Wibowo sempat menyatakan bahwa ia tidak bersalah dalam kasus ini. “Karena saya pegawai,” ujar Teguh.

Saat persidangan, tim pengacara akan mendalami surat dakwaan. Pihaknya mengajukan eksepsi atau bantahan atas dakwaan tersebut. “Kami akan sampaikan eksepsi di sidang selanjutnya. Yang pasti, tidak ada gratifikasi yang diterima klien kami,” kata Jonas M Sihaloho, pengacara terdakwa.

Kasus ini sudah bergulir sejak Januari lalu dan kasusnya ditangani oleh kejaksaan. Ketiga tersangka pejabat Bank Mandiri Cabang Bandung itu adalah, Surya Baruna Semenguk selaku Manager Komersial Perbankan, Frans Eduard Zandra selaku Relationship Manager dan Teguh Kartika Wibowo selaku Senior Kredit Risk Manager.

Tiga pejabat Bank Mandiri Bandung terancam hukuman penjara maksimal 20 tahun (fotografer: Syamsuddin Nasution)

Diduga, para tersangka telah menyalahgunakan otoritasnya dengan prinsip kehati-hatian bank.”Ketiganya pengusul kredit yang diajukan PT TAB itu sudah sempat menyalahi kuasa dalam penghargaan dan penambah kredit,” ujar Kepala Pusat Penerangan Kejagung M. Roem  .

Ia juga menyampaikan, kerugian negara sebesar Rp 1,4 triliun itu berdasarkan hasil perhitungan dari audit independen mulai dari utang pokok dan bunga.

Sekadar mengingatkan, kasus bermula saat Direktur PT TAB pada 15 Juni 2015, berdasarkan Surat Nomor: 08/TABco/VI/205, mengajukan perpanjangan dan tambahan fasilitas kredit kepada Bank Mandiri Commercial Banking Center Bandung.

TAB mengajukan perpanjangan seluruh fasilitas Kredit Modal Kerja (KMK) senilai Rp 880,60 miliar. PT TAB juga mengajukan perpanjangan dan tambahan plafond LC sebesar Rp 40 miliar, sehingga total plafond LC menjadi Rp 50 miliar. Ada pula fasilitas Kredit Investasi (KI) senilai Rp 250 miliar selama 72 bulan.

Dalam dokumen pendukung permohonan perpanjangan dan tambahan fasilitas kredit, terjadi penggelembungan data aset PT TAB dari aset riilnya. Hal itu yang kemudian menyebabkan nota analisa pemutus kredit Nomor CMG.BD1/0110/2015 tanggal 30 Juni 2015 menyebutkan kondisi keuangan PT TAB mengalami perkembangan dan bisa memperoleh perpanjangan serta tambahan fasilitas kredit sebesar Rp 1,170 triliun di tahun 2015.

Selain itu, lanjut Roem, PT TAB juga telah menggunakan uang fasilitas kredit, antara lain sebesar Rp 73 miliar yang tidak sesuai perjanjian KI dan KMK. Adapun hingga saat ini, Kejagung telah menetapkan empat orang tersangka. Sebelumnya pada Oktober lalu Kejagung menetapkan Rony Tedy sebagai tersangka.

Rony merupakan pengendali PT TAB termausk soal keuangan. Sekadar tahu saja, PT TAB merupakan produsen air minum dalam kemasan (AMDK) dengan merek Viro. JIR