Hate Crime Pada Wanita Bercadar

 

Priyono B Sumbogo

Di masa awal pemerintahan Orde Baru, ada larangan bagi perempuan Muslim untuk mengenakan jilbab. Larangan tersebut berhubungan dengan pengekangan kebebasan berekspresi.

Isu hijab dan cadar itu mengemuka pada 1979-80an. Pada saat itu, gerakan Islam Indonesia sedang terinspirasi oleh Revolusi Iran. Studi Islam pada waktu itu sangat terinspirasi dengan upaya penggunaan identitas politik sebagai Muslim atau Islam untuk melawan pemerintah. Oleh karena itu, pada masa Orde Baru, identitas Islam diredam—termasuk juga komunisme, gerakan perempuan, dan gerakan anak muda.

Akibatnya, delapan siswi di Bandung terancam dikeluarkan karena adanya kekhawatiran bahwa jilbab yang mereka kenakan mengandung unsur politik yang melawan pemerintah.

Titik balik terjadi ketika rezim Orde Baru merasa memerlukan dukungan Islam. Soeharto sadar ia tak dapat menjadi presiden terus-menerus, dan pesaing kuatnya pada waktu itu adalah Benny Moerdani, yang beragama Katolik. Dalam tubuh ABRI, pendukung Soeharto dan Benny Moerdani sama-sama kuat, sehingga potensi bagi Benny untuk menjadi penerus kepresidenan cukup tinggi. Pada saat itulah, Soeharto akhirnya mencabut larangan berjilbab.

Pencabutan larangan berjilbab, ujarnya, menandai masa-masa awal kemesraan Orde Baru dengan Islam, disusul dengan berita bahwa Soeharto naik haji dan ibu negara, Tien Soeharto, yang tiba-tiba menggunakan jilbab.

Tapi sekarang kebencian itu muncul kembali. Setekah terjadinya bom bunuh diri di salah-satu gereja di Surabaya, Jawa Timur, pada Minggu 13 Mei 2018. Bom bunuh Surabaya memang menampilkan fenomena baru yang mencengangkan dakam aksi tindak pidana terorisme di Indonesia. Bom bunuh diri terebut dilakukan oleh seorang ibu bersama dua anak perempuannya yang berpakaian panjang dan bercadar. Ketiganya tewas seketika.

Sehari sebelumnya, yakni pada Sabtu 12 Mei 2018, dua wanita bercadar ditangkap Polisi karena memperlihatkan tingkah aneh, karena mereka diduga berencana melakukan penusukan terhadap anggota Brimob di Markas Komando Brigade Mobil (Brimob), Kelapa Dua, Depok.

Setelah terjadinya dua peristiwa di atas, masyarakat dan media massa cenderung mengaitkan penggunaan cadar dengan gerakan radikal dan terorisme.Bahkan, melalui judul berita atau redaksional content berita, pemberitaan tersebut menyiratkan adanya kebencian atau kecurigaan media massa kepada wanita bercadar.

Dalam sudut pandang kriminologi, pemberitaan seperti itu dapat dikategorikan sebagai kejahatan kebencian (hate crime), yang menempatkan  wanita pemakai cadar menjadi korban kejahatan media massa.

Istilah hate crime, yang dapat diterjemahkan “kejahatan bermotif kebencian” atau “kejahatan karena kebencian”, tapi dapat juga di-Indonesiakan dengan “kejahatan kebencian”.  Istilah ini pertama muncul pada tahun 1980 untuk mengklasifikasikan sebuah insiden rasil di Howard Beach, New York.

Mokhtar Ben Barka, dalam jurnal berjudul Religion, Religius Fanaticism, and Hate Crime in the US, menjelaskan kejadian-kejadian hate crime yang terjadi dimana korban diserang karena kepercayaan agama mereka. Yang pertama, Charles Goldmark beserta isteri dan kedua anak laki lakinya dibunuh di rumahnya oleh seorang pemuda anggota dari group ekstremis bernama the Duck Club yang membenci orang Yahudi. Pemuda tersebut melakukan pembunuhan itu karena yakin bahwa Charles adalah seorang Yahudi.

Kasus berikutnya adalah kekerasan yang menimpa Daniel Romano, seorang Satanis. Ia diserang ketika sedang berjalan dengan menggunakan jaket hitam dan salib terbalik di jalanan New York oleh dua remaja yang tidak senang dengan satanism karena ajarannya yang mereka nilai kejam.

Kasus ketiga adalah penembakan terhadap Sodhi, seorang Sikh yang biasa menggunakan sorban. Pria ini ditembak setelah kejadian teror 11 September 2001, pembunuhnya mengaku menembak Sodhi karena ia salah mengasumsikannya sebagai muslim.

Dari insiden-insiden tersebut, kemudian Mokhtar Ben Barka menyimpulkan  kejahatan itu terjadi karena prasangka para pelaku terhadap identitas orang yang menjad target mereka.

Dalam bukunya, Hating Hate : Policy of Hate Crime Legislation 2000, Beverly S. McPhail menjelaskan bahwa hate crime merupakan perilaku kejahatan dengan motif bias. Menurut McPhail, motif biaslah yang menyebabkan hate crime berbeda dengan tindak kejahatan lainnya, karena ia didasari pada prasangka, kecurigaan, atau  kebencian Selanjutnya McPhail menulis bahwa istilah hate crime lebih menggambarkan sebuah tipe kejahatan ketimbang sebuah tindak kejahatan yang melanggar hukum pidana. Dengan kata lain, istilah hate crime cenderung menjadi sebuah konsep ketimbang definisi legal. Tindakan membunuh misalnya, adalah tindakan yang melanggar hukum pidana, tapi latar belakang seseorang melakukan tindak pembunuhan itulah yang kemudian menjadi tipe dari kejahatan itu sendiri.

Gelombang prasangka, kecurigaan, dan kebencian itulah yang sedang dihadapi para wanita pemakai cadar di Indonesia, sehingga mereka disingkiri dan dicurigai secara tidak adil oleh masyarakat, penyelenggara negara, dan media massa.