Dituduh Cuci Uang 12 Milliar Dolar AS, SBY Buru Situs Asia Sentinel Sampai Ke Hong Kong

Media asal Hong Kong, Asia Sentinel pada Selasa (11/9) mengeluarkan laporan mendalam terkait dugaan konspirasi kejahatan keuangan di era pemerintahan SBY. Laporan yang ditulis John Berthelsen tersebut berdasarkan 488 halaman gugatan Weston Capital International yang diajukan ke Mahkamah Agung Mauritian.

Dalam laporannya, Berthelsen menyebut bahwa SBY menggunakan Bank Century untuk mencuci uang negara hingga US$ 12 miliar. Berthelsen menulis, Century direkayasa sebagai bank gagal pada 2008.

Berthelsen juga menyebut bahwa aliran dana kasus Century mengalir ke kas Demokrat. Sebanyak 30 pejabat turut diduga terlibat dalam kasus tersebut, termasuk Wakil Presiden RI periode 2009-2014 Boediono.

Atas pemberitaan tersebut, Demokrat pada Senin (17/9) melaporkan sejumlah media massa nasional yang ikut menyiarkan ulang berita Asia Sentinel ke Dewan Pers. Sekretaris Jenderal Demokrat Hinca Pandjaitan pun hendak berangkat ke Hong Kong untuk mengadukan Asia Sentinel ke Dewan Pers setempat.

Kepala Divisi Advokasi Bantuan Hukum DPP Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean membenarkan terkait dibentuknya tim investigasi oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Tim Investigasi kata dia, diketuai oleh Sekjen Partai Demokrat Hinca Panjaitan.

“Iya betul sekali, tim langsung dipimpin Sekjen Hinca Pandjaitan,” kata Ferdinand kepada Republika melalui telepon pada Jumat (21/9).

Ferdinand melanjutkan, tim investigasi saat ini berada di Hong Kong dan sudah bergerak. Salah satunya dengan menemui asosiasi media dan Dewan pers Hong Kong.

Hasil investigasi, terangnya, bahwa media Asia Sentinel tidak terdaftar di Dewan Pers Hong Kong. Bahkan Asosiasi Pers Hong Kong pun menyatakan bahwa mereka tidak pernah mendengar nama media tersebut.

“Dewan pers dan asosiasi jurnalis Hong Kong tidak mengenal Asia Sentinel, tidak pernah mendengar Asia sentinel dan Asia Sentinel tidak terdaftar di Dewan pers Hong Kong, artinya ini bukan media,” tegas Ferdinand.

Dengan kata lain lanjut dia, hasil penelusuran tim investigasi Demokrat bahwa Asia Sentinel tidak layak disebut sebagai media. Oleh karena itu, pihaknya pun telah memasukan nama Asia Sentinel ke dalam daftar yang untuk dilakukan proses hukum. “Asia Sentinel kami masukkan dalam list untuk diambil langkah hukum,” terangnya.

Upaya ini jelasnya, juga sebagai pembelajaran bagi media-media Nasional Indonesia agar tidak sembarangan mengutip media asing. Ini bukti tambahnya, bahwa ternyata media tersebut bahkan di negaranya tidak dianggap sebagai media.

“Saat ini tim kami sudah bergerak, kami akan terus bekerja mengumpulkan semua bahan, data, dan keterangan. Tergetnya, mungkin dua minggu kedepan sudah rampung semua,” ucap dia.