BMKG Bilang Tsunami Cuma 0,5 Meter, Tak Tahunya Ada Yang Lebih 3 Meter

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mempertanyakan peringatan dini tsunami yang diakhiri hanya 30 menit setelah diaktifkan. Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, biasanya peringatan dini tsunami diakhiri setelah lebih dari satu jam sejak diaktifkan.

“Saya tidak bisa mengatakan seperti itu (tidak akurat). Tapi  kalau melihat kecepatannya, mereka menyampaikan peringatan dini begitu cepat, tapi kenapa berakhirnya juga cepat? Itu kemarin juga menjadi tanda tanya kami,” kata Sutopo di Graha BNPB, Sabtu (29/9).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan dini tsunami untuk wilayah Donggala bagian Barat, (Sulawesi Tengah/Sulteng), Donggala Bagian Barat (Sulteng), Kota Palu Bagian Barat (Sulteng), dan Mamuju Bagian Utara, pada Jumat (28/9) pukul 17.02 WIB. Peringatan dini tsunami tersebut diakhiri pada Jumat (28/9) pukul 17.36 WIB.

Menurut Sutopo, peringatan dini tsunami biasanya diakhiri setelah satu jam diaktifkan. Akibatnya, kata dia, masyarakat menafsirkan tsunami tidak akan terjadi dan kondisi akan aman pascagempa.

Sutopo menceritakan, setelah peringatan dini tsunami diakhiri, ia mendapat laporan video tsunami dari berbagai medsos. Sutopo pun mencoba mengonfirmasi pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat kondisi terkini. Hasil konfirmasi itu membenarkan video yang beredar di dunia maya. Ia pun langsung mengonfirmasi kepada BMKG keakuratan video tersebut.

“Saya begitu dapat informasi dari medsos, langsung menanyakan pejabat-pejabat yang ada di BMKG. Sosial media videonya benar atau tidak, ya mereka menyatakan benar,” katanya.

Akibatnya, lanjut Sutopo, ada jeda waktu yang cukup lama bagi BNPB menyampaikan kejadian tsunami yang menerjang beberapa pantai dan menimbulkan korban. Meski begitu, ia tak mau menyebu BMKG “kecolongan”.

Sutopo mengatakan, tsunami itu memang terjadi dengan ketinggian lebih dari tiga meter. Bahkan, kata dia. BNPB mendapat laporan masyarakat harus naik pohon untuk menyelamatkan diri. Artinya, tsunami yang terjadi memiliki ketinggian lebih dari tiga meter di beberapa tempat.

Sebelumnya, Deputi Bidang Geofisika BMKG Muhamad Sadly menjelaskan, gempa tektonik telah terjadi di Kabupaten Donggala, Sulteng Jumat (28/9) pukul 17.02 WIB dengan kekuatan 7,7 SR. Lokasi gempa berada di 0.18 lintang selatan dan 119.85 bujur timur dan berjarak 26 km dari utara Donggala, Sulteng, dengan kedalaman 10 km.

Setelah bertambahnya rekaman seismometer, yang dipantau dari 146 sensor maka data diperbaharui menjadi gempa berkekuatan 7,4 SR yang berpusat 0.20 lintang selatan dan 119.89 bujur timur dengan kedalaman 11 km.

Ia menjelaskan, berdasarkan hasil pemodelan tsunami dengan level tertinggi siaga (0,5-3 meter) di Palu dan estimasi waktu tiba jam 17.22 WIB. Dengan begitu, BMKG mengeluarkan potensi tsunami.

“Estimasi ketinggian tsunami di Mamuju menunjukkan level wasapada yaitu estimasi ketinggian tsunami kurang dari 0,5 m,” kata dia, Jumat (28/9) malam.

Setelah dilakukan pengecekan terhadap hasil observasi tide gauge di Mamuju, Sadly melanjutkan, tercatat adanya perubahan kenaikan muka air laut setinggi 6 cm pukul 17.27 WIB. Sementara, jarak antara Palu dan Mamuju adalah 237 km.

Berdasarkan hasil update mekanisme sumber gempa yang bertipe mendatar (strike slip) dan hasil observasi ketinggian gelombang tsunami, serta telah terlewatinya perkiraan waktu kedatangan tsunami maka Peringatan Dini Tsunami (PDT) ini diakhiri pada pukul 17.36.12 WIB.

Sementara itu, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat BMKG Hary Tirto Djatmiko berdalih, terjadinya tsunami setelah peringatan dini diakhiri disebabkan jaringan komunikasi dan listri yang lumpuh. “Hal ini terjadi dikarenakan jaringan komunikasi dan listrik lumpuh, terutama di sekitar Donggala dan Palu,” kata dia dalam grup WhatsApp Early Warning for Media, Sabtu (29/9).

ia menjelaskan, ketika tsunami memasuki teluk terjadi interferensi dan resonansi gelombang balik (pantul) dan air yang masuk teluk. Akibatnya, tejadi amplifikasi gelombang dan perlambatan atau gelombang mengumpul.  Hary menegaskan, alat peringatan dini tunami bekerja dengan baik. Begitu pula dengan alat pemantau ketinggian gelombang (tide gauge) yang tetap berfungsi.

“Namun, dikarenakan jaringan komunikasi dan listrik lumpuh, terutama di sekitar Donggala dan Palu, maka seolah-olah kurang optimal,” kata dia.