Siapa Punya Kalibata City, Sarang Prostitusi Anak Itu?

Sekarang Kalibata City kian kondang setelah terungkap sebagai sarang prostiusi anak. ? Apartemen ini kini salah satu yang paling banyak dicari. Tidak saja oleh penyewa, melainkan oleh investor pemburu keuntungan.

Lokasinya lumayan strategis, mudah diakses dan terintegrasi dengan sistem transportasi publik, commuter line dalam konsep transit oriented development (TOD). Selain itu, Kalibata City juga dekat dengan central business district (CBD) Kuningan, dan Gatot Subroto.

Hal ini kemudian membuat apartemen kembangan konsorsium beberapa pengembang, Agung Podomoro Group dan Synthesis Development di antaranya, tersebut mengalami turn over tinggi.

Saking tingginya minat investor dan penyewa terhadap apartemen ini, harganya terus melambung tinggi. Untuk tipe studio saja, yang awalnya dibanderol Rp 88 juta-Rp 144 juta pada 2008, kini Rp 450 juta hingga Rp 600 juta. Tergantung ketinggian, dan pemandangan yang bisa diakses. Sementara untuk harga sewanya, tipe studio dengan view kolam renang, dibanderol Rp 30 juta hingga Rp 35 juta per tahun.  Biaya sewa ini harus dibayarkan minimal satu tahun masa sewa bila tak ingin unit yang kita incar berpindah ke tangan orang lain.

Tak mengherankan bila Kalibata City ini didominasi investor, bukan lagi end user kelas bawah sebagaimana tujuan awal rumah susun milik (rusunami) bersubsidi ini dibangun dalam program Seribu Tower Rusunami.

Pernah sekali waktu di kompas.com Sales and Marketing General Manager Synthesis Development Imron Rosyadi, mengungkapkan, pemilik Kalibata City sekarang adalah investor.

Imron mengakui, pembeli pertama unit apartemen Kalibata City sebenarnya terkontrol sesuai tujuan awal sebagai rusunami bersubsidi. Tetapi kini diperkirakan sebagian besar telah menjual apartemen miliknya kepada pihak lain dan mendapat keuntungan cukup tinggi dari penjualan tersebut.

“Mereka menguasai apartemen ini dengan porsi sebanyak 80 persen, sementara sisanya kelas menengah bawah sebagai kelompok sasaran,” sebut Imron saat bertandang ke kantor redaksi Kompas.com, Selasa (24/6/2016).

Jadi, tambah dia, saat ini penghuni Kalibata City sebagian besar bukan lagi pembeli pertama, tetapi sudah pembeli kedua, ketiga dan seterusnya. Ini berarti, investor menguasai 11.200 unit apartemen dari total 14.000 unit yang sudah dibangun. Sementara sisanya dimiliki end user.  Karena didominasi investor, tak heran bila dalam perkembangannya kemudian Kalibata City menjadi etalase, untuk tidak dikatakan, percontohan gaya hidup yang didambakan kalangan urban Jakarta. Bagi investor, apartemen ini adalah tambang uang karena tingkat sewanya yang tinggi. Sementara bagi penyewa harus siap dengan pundi tebal bila ingin tinggal di sini. “Ke mana-mana dekat, di tengah kota, dan mendatangkan investasi tinggi,” tandas Imron.