Polsek Helvetia Selamatkan 42 Anak Korban “Penyekapan”

Diimingi Kerja Perusahaan Berkedok MLM di Medan

Polsek Helvetia mengungkap kasus penipuan berkedok perusahaan MLM di Medan, Senin (6/8/2018). Polisi juga berhasil menyelamatkan 42 anak dibawah umur korban “penyekapan” perusahaan tersebut.

Ke-42 anak itu diselamatkan dari dua lokasi tempat “penyekapan” berupa rumah kos-kosan. Dari rumah di Jalan Melati Medan, polisi menemukan 20 anak laki-laki yang berasal dari luar Kota Medan dalam kondisi trauma. Sedangkan dari sebuah rumah di Jalan Filisum Raya Medan, polisi mendapati 22 anak perempuan yang juga berasal dari luar Kota Medan. “Mereka diiming-iming akan dipekerjakan. Tapi mereka juga ada yang dikutip biaya Rp 5-11 juta untuk dapat pekerjaan,” tutur Kapolsek Helvetia, Kompol Trila Murni SH.

Ismar menangis saat di Mapolsek Helvetia.

Terungkapnya kasus perusahaan MLM “menyekap” 42 anak dibawah umur setelah Polsek Helvetia menerima informasi dari seorang ibu yang berasal dari Teluk Pulau, Tanjung Ledong, Labuhanbatu Utara. Ibu bernama Ismar ini mencari anaknya, Rizky Ananda (18 tahun) yang sudah lima hari tidak diketahui keberadaanya setelah dibawah Thamrin Hutapea yang menjanjikan pekerjaan. Padahal, Thamrin merupakan bekas anak murid Ismar sewaktu Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Informasi itu kemudian ditindaklanjuti. Kapolsek Kompol Trila seketika membawa anggotanya menyisir lorong-lorong gang di seputaran Helvetia. Mereka blusukan dari satu gang ke gang lainnya. Dari hasil blusukan itu, didapat informasi bahwa PT Ritem perusahaan Multi Level Marketing (MLM) menampung puluhan anak di bawah umur di kawasan perumahan untuk dipekerjakan.

Tanpa menunggu lama, Kompol Trila langsung menuju sebuah rumah di Jalan Melati Medan yang diyakini tempat penampungan anak laki-laki di bawah umur. “Kita lakukan penyelidikan. Blusukan dari lorong ke lorong. Kemudian kita dapat informasi ada suatu PT yang berkedok MLM di Jalan Melati, dan kita menemukan 20 anak laki-laki yang semuanya berasal dari luar kota, Mereka diimingi akan dipekerjakan, tapi dikutip biaya Rp 8-11 juta,” kata Kompol Trila saat ditemui di Polsek Medan Helvetia.

Polisi kemudian melakukan pengembangan dan menemukan rumah kos yang diduga bagian dari perusahaan tersebut. “Kemudian kita berbagi lagi tugas dan bergerak ke Jalan Filisium Raya. Kita menemukan rumah kos disitu ada 22 anak perempuan yang berasal dari luar daerah. Mereka ada yang berasal dari Garoga, Balige, Siantar, Binjai dan daerah lainnya,” sambungnya.

Para anak dibawah umur itu direkrut PT Ritem karena diimingi pekerjaan. Namun, pekerjaan yang dijanjikan itu tidak ada, para anak malah sudah harus membayarkan sejumlah uang. Mereka diimingi training yang diduga hanya kedok penipuan. Soalnya, dari hasil wawancara, belum ada satu pun anak yang ditempatkan untuk bekerja.

“Saya berterimakasih kepada salah satu keluarga korban yang melaporkan kejadian ini, hingga akhirnya bisa diungkap. Karena mereka semua sebenarnya korban,” ungkap Kompol Trila.

Total ada 42 orang yang diselamatkan dari perusahaan berkedok MLM itu. Diantaranya 20 orang laki-laki dan 22 orang perempuan. Beserta dengan para senior yang termasuk pekerja yang dulunya merupakan korban yang sama. “Tidak ada perlawanan saat diamankan. Karena masyarakat sekitar mendukung petugas. Masyarakat banyak bercerita sudah lama resah, tapi begitu ada informasi dari masyarakat kita langsung melakukan blusukan,” ujarnya.

Para anak itu sebelumnya dijanjikan bekerja di PT Ritem dengan iming – iming menjual salah satu produk perusahaan tersebut. Mereka juga dijanjikan hasil yang cukup memuaskan. Namun, sebelum menjadi member, mereka diwajibkan membayarkan biaya atau uang administrasi sebesar Rp 8 hingga Rp 11 juta lebih.

PT Ritem diduga perusahaan fiktif yang seolah menjadi anak perusahaan dari PT Amoeba Internasional yang disebut-sebut terletak di Trenggalek, Jawa Timur. Namun saat diinterogasi para pekerja juga tidak mengetahui dan belum pernah ke PT Amoeba Internasional tersebut.