Penculikan Hasmi Ternyata Diketahui Keluarganya Sendiri

Tete Jago (83), pelaku penculik Hasmi (25), warga Dusun Penyapu Desa Galumpang Kecamatan Dakopamean, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, ternyata dikenal sebagai dukun kampung di tempatnya. Yaitu di Desa Bajugan Kecamatan Galang.

Dalam praktek dukunnya, Tete Jago cukup terkenal melayani pengobatan tradisional. Ia bahkan dikenal mampu melayani pengobatan spiritual.

Tak heran, banyak warga yang menjadikan Tete Jago sebagai guru spritual. Rumahnya kerap didatangi warga untuk konsultasi masalah rumah tangga atau percintaan.

Menurut Sugeng yang sehari-hari mengaku berkebun tak jauh dari lokasi penyembunyian korban. Pelaku memperdayai korban dengan janji akan dikawinkan dengan jin sahabat pelaku.

Pelaku juga mengancam korban bahwa dia selalu diawasi jin di gua tempatnya bersembunyi.

“Korban ini sudah seperti dicuci otaknya. Jadi takut lari dan takut kalau bertemu orang karena diawasi jin,” sebut Sugeng.

Masih menurut Sugeng, penculikan korban sebenarnya diketahui oleh kelurga dekat pelaku. Istri dan anaknya termasuk kakak korban sendiri.

Istri pelaku masih satu rumah dengan pelaku. Sedangkan menantu korban tinggal tak berjauhan dengan rumah pelaku.

Namun keluarga pelaku sangat tertutup. Mereka merahasiakan aksi pelaku karena takut. Sebab pelaku selalu mengancam akan membunuh siapa saja yang membocorkan rahasia itu.

Lokasi penyembunyian korban bahkan diketahui oleh kakak kandung korban yang tak lain menantu pelaku. Satu-satunya yang tidak mengetahui aksi pelaku adalah ayah korban. Sementara ibu korban kata dia sudah lama meninggal dunia.

“Sebenarnya kalau saya tidak anggap ini penculikan. Tapi sengaja disembunyikan pelaku,” katanya.

Awal terbongkarnya aksi penculikan ini terjadi saat pelaku dan kakak korban cekcok di rumah pelaku. Tepatnya malam sebelum korban ditemukan. Keduanya bertengkar dan saling memaki.

Dalam pertengkaran itu kakak korban keceplosan mengancam akan melaporkan ke polisi prihal penyekapan adiknya.

“Nah dari situ ada tetangga mendengarnya. Lalu melapor ke polisi,” sebutnya.

Sugeng kemudian berbagi sedikit cerita yang beredar mengenai kronologis awal pelaku menyembunyikan korban.

Sekitar tahun 2003 silam, pelaku memberi tahu orang tua korban bahwa pelaku melihat korban telah berangkat ke Jakarta untuk mencari kerja.

Bahkan untuk meyakinkan orang tua korban, pelaku sering membawa bahan sembako kepada orang tua korban dan menyatakan bahwa sembako itu adalah kiriman korban atas hasil pekerjaan korban di perantauan.

Seiring berjalannya waktu, pelaku mengakui tidak lagi mengetahui keberadaan korban. Hingga orang tua korban akhirnya pasrah. “Padahal semua itu hanya rekayasa pelaku,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, korban ditemukan pada Minggu (5/8/2018) siang dalam kondisi memprihatinkan. Korban ditemukan tanpa busana di dalam gua yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari rumah pelaku di Desa Bajugan, Kecamatan Galang. Desa yang bersebelahan dengan tempat tinggal korban.

“Ada ruangan kecil berukuran satu meter setengah kali satu meter setengah di dalam batu itu. Lokasinya perbukitan tak jauh dari rumah pelaku,” ucap Kapolsek Dakopamean Ipda Dickri Sukarjo.