Orang Tua Murid Desak Guru Preman Dipecat Dari SMK Tujuh Lima Purwokerto

Kasus kekerasan di SMK Tujuh Lima 2 Purwokerto menyulut emosi keluarga siswa yang menjadi korban. Mereka mendesak oknum guru pelaku pemukulan dikeluarkan.

Hal itu sesuai hasil kesepakatan saat mediasi yang dilakukan antara orang tua siswa, pihak sekolah dan yayasan yang menaungi sekolah tersebut, Selasa (21/8/2018).

Retno Indriyani kakak dari salah satu korban, mengatakan jika oknum guru tersebut masih mengajar di sekolah tersebut kedepan akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi para korban. Bahkan, bisa saja para korban tidak akan mengikuti mata pelajaran yang diajar oleh oknum guru tersebut.

“Kita inginkan gurunya dikeluarkan, pokoknya tidak lagi mengajar di sekolah ini. Ini demi kenyamanan para korban yang dipukul guru tersebut,” katanya ditemui metrojateng.com usai mediasi.

Dikatakan, jika permintaan para orang tua siswa tidak dipenuhi mereka bersepakat akan melaporkan oknum guru ke polisi. “Dampak dari pemukulan oleh guru tersebut membuat adik saya sedikit trauma secara psikis. Selain itu juga sakit akibat pukulan gurunya juga masih terasa,” ujarnya.

BACA JUGA: Viral, Guru SMK di Purwokerto Pukuli Siswa di Dalam Kelas

“Korban juga tidak hanya empat anak yang ada di video, tapi lebih banyak. Menurut adik saya ada sekitar 12 anak yang tidak kerekam. Adik saya termasuk yang tidak terekam saat dipukul, jadi saya dan para orang tua lainnya meminta oknum guru tersebut segera dikeluarkan,” Retno menambahkan.

Orang tua lainnya, Iswandi mengaku ingin segera melaporkan oknum guru tersebut ke polisi. Namun, karena hasil mediasi disepakati agar gurunya dikeluarkan maka dia juga mengikuti kesepakatan yang ada.

“Pinginnya dilaporkan ke polisi, ini sudah keterlaluan. Tapi, kesepakatan hasil mediasi gurunya dikeluarkan saja,” katanya.

Tidak Terulang

Menanggapi permintaan para orang tua siswa, Kepala SMK Tujuh Lima 2 Purwokerto, Diah Retno Lukitaningsih mengaku akan segera menindaklanjuti oknum guru tersebut. Menurutnya, sebelum ada mediasi dengan orang tua oknum guru sudah diklarifikasi dan mengakui memang telah melakukan tindakan kekerasan tersebut dengan sadar.

“Jelas kami akan menindaklanjuti beliau, sudah klarifikasi yang bersangkutan sudah mengakui memang melakukan tindakan tersebut,” ungkapnya.

“Kami di bawah naungan yayasan, kalau sesuatu terjadi di sekolah ini kami akan duduk satu meja, berembuk bareng untuk mengambil keputusan. Secepatnya akan diputuskan, besok kami putuskan,” imbuhnya.

Ke depan, lanjutnya sekolahnya akan lebih ketat lagi mengawasi para guru saat mengajar. Selain itu, sekolah juga melarang tindak kekerasan terhadap siswa dalam bentuk apapun.

“Intinya, sekolah kami tidak memberikan hukuman bagi siswa yang melanggar untuk dipukul. Sanksi yang ada justru lebih mendidik, yakni jika tidak salat menyapu musala, jika telat lari keliling lapangan atau pushup, dan hormat ke bendera Merah Putih,” ujarnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kejadian pemukulan oleh oknum guru berawal dari siswa yang tidak mengerjakan salat dhuhur berjamaah. Peristiwa yang terjadi pada Senin, (20/8) tersebut sempat direkam oleh salah seorang siswa dan kini beredar luas melalui WhatsApp.