Memperjuangkan Destinasi Danau Toba, Suami Berdarah-darah, Istri Dipenjara

Royana Saragih nelangsa. Aura sedih memancar di wajahnya. Pejuang destinasi wisata Danau Toba ini, tak menyangka dizholimi oleh anak saudara kandungnya. Ia dikriminalisasi lalu dijebloskan ke dalam penjara. “Ini sungguh penzholiman. Tuhan pasti akan memberi keadilan,” lirihnya.

Meski berusaha tegar, Royana tetap tak kuasa memendam kepedihan. Ia acap menghela nafas panjang. Tangannya juga terkepal erat pertanda geram. Matanya berbinar-binar saat duduk di kursi pesakitan. Perasaannya pun bagai disayat sembilu. “Saya pasrahkan saja semuanya kepada Tuhan,” ucap Royana saat ditemui di sela-sela persidangan di Pengadilan Negeri Simalungun, Selasa pekan lalu.

Royana dan suaminya, Maruli Tua Sinaga, merupakan pengusaha objek wisata Bukit Indah Simarjarunjung (BIS), Kabupaten Simalungun. Mereka merintis usaha di seputaran Danau Toba, sudah puluhan tahun. Suami istri itu termasuk bahagian dari banyak orang yang turut memperjuangkan nilai estetika keindahan danau hingga menjadi destinasi wisata mendunia.

Royana Saragih di persidangan (zainul A. Siregar)

Permasalahan muncul ketika Dedi Bonardo Saragih, keponakannya hendak mendirikan usaha tempat berfoto berupa wahana balon dan wahana love di atas lahan milik Royana sekitar medio akhir 2016 silam. Padahal, sejumlah wahana milik Royana sudah ada di lokasi itu. Namun, sebagai orang tua yang ingin membantu ponakan, Royana dan suaminya Maruli mempersilahkan dengan syarat apabila BIS menggunakan lahan itu, Dedi harus pindah mencari lokasi lain. Persyaratan yang disampaikan secara lisan itu disetujui Dedi.

Setahun lebih Dedi membuka usaha wahana di lahan milik Royana tanpa dipungut biaya sepeser pun. Belakangan, usaha objek wisata BIS membutuhkan lahan tersebut untuk pengembangan fasilitas. Dedi pun diberitahu bahwa lahan itu akan digunakan BIS untuk membangun aula. Dedi diminta segera mengangkut peralatan wahana miliknya dari atas lahan milik Royana. Sialnya, Dedi tidak menggubrisnya. Berulang kali pula Maruli dan Royana meminta Dedi memindahkan wahana miliknya, tetap saja tidak diindahkan.

Hampir tiga bulan lebih Dedi bertahan tidak mau membongkar dan mengangkat peralatannya. Ia diduga terkesan ingin menguasai tanah milik Royana. Melihat gelagat itu, sekitar Desember 2017, Royana menyuruh tukang membuka semua peralatan wahana kepunyaan Dedi yang berdiri di atas lahan miliknya.

Ketika tukang hendak membukanya, Dedi datang bersama sejumlah anak buahnya. Royana kembali meminta ponakannya itu agar mengangkat semua perlatan dari atas lahan miliknya. Kembali Dedi tidak menggubrisnya.

Sebagai bentuk peringatan keluarga, Royana pun menyuruh pekerjanya membuka sebagian pagar wahana milik Dedi yang terbuat dari kayu broti. Kemudian beberapa potong kayu pagar hasil bukaan itu, dalam kondisi baik diletakkan di sekitar tiang wahana. Dedi bersama anak buahnya menyaksikan dan merekam dengan handphone saat tukang membuka kayu pagar wahana.

Bermodalkan rekaman dan kesaksian anak buahnya, Dedi melapor ke Polsek Dolok Pardamean. Meski hanya beberapa potong kayu pagar yang dibongkar, Dedi menuduh Royana dan pekerjanya telah melakukan pembongkaran/pengrusakan secara bersama-sama wahana balon dan wahana love miliknya. Laporan Dedi tercatat No. Pol.LP/26/XII/2017 tertanggal 8 Desember 2017.

Terkesan ada dugaan sudah dikondisikan, polisi langsung menetapkan Royana sebagai tersangka dengan jeratan melanggar Pasal 170 ayat 1 atau kedua Pasal 406 jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana.Terkait kasus ini, pihak keluarga sudah berupaya melakukan perdamaian, namun hasilnya sia-sia. Dedi tak bersedia berdamai dengan alasan yang tidak pasti. Padahal Dedi merupakan masih keluarga Royana yang tidak bisa terpisahkan. Lagi pula, jika Dedi merasa dirugikan akibat pembukaan beberapa kayu pagar wahananya, secara kasar dihitung hanya bernilai sekitar Rp 150 ribu saja.

Maruli Tua Sinaga (Zainul A. Siregar)

Dalam persidangan terungkap dugaan kebohongan Dedi yang mengaku lahan wahana itu miliknya. Pengakuan Dedi itu disampaikan jaksa Christianto Situmorang melalui dakwaannya. Anehnya, baik jaksa maupun Dedi tidak mampu menunjukkan bukti kepemilikan sah atas lahan tersebut. Dedi menurut jaksa mengklaim lahan itu miliknya berdasarkan ucapan Maruli Tua Sinaga yang mengatakan, jika tanah tempat wahana balon berdiri adalah milik saksi korban (Dedi).

Sementara Royana Saragih membuktikan kepemilikannya dalam surat jual beli sah lahan tersebut tertanggal 2 September 2013 yang ditandatangani Pangulu Pariksabungan dan diketahui Gamot Huta Sipintuangin. Bahkan dalam surat itu Dedi Bonardo Saragih turut membubuhkan tandatangan sebagai saksi. “Ini bukti ada suratnya,” tutur Royana melalui kuasa hukumnya sembari menyerahkan surat sah kepemilikan lahan kepada majelis hakim yang diketuai Lisfer Berutu, dengan anggota Mince Ginting dan Novarina Manurung.

Sebelumnya, Maruli Tua Sinaga dalam persidangan membantah kalau dirinya pernah mengatakan kepada Dedi bahwa lahan itu miliknya. “Tidak pernah saya mengatakan itu. Apa dasar saya memberi lahan yang secara sah bukan milik saya,” katanya.

Maruli sendiri saat ditemui usai persidangan mengaku terkejut dengan pengakuan Dedi tersebut. “Anda percaya kalau saya katakan Jakarta itu milik Anda? Atau saya sebut Pulau Samosir saya serahkan kepada Anda tanpa surat sah kepemilikan, Anda percaya? Ini kan lucu-lucu,” tuturnya.

Maruli curiga ada upaya kriminilisasi terhadap istrinya, Royana Saragih. Kecurigaan itu sangat mendasar. Berdasarkan laporan Dedi, pihak Polsek Dolok Pardamean langsung menetapkan istrinya sebagai tersangka tanpa lebih dulu melakukan olah tempat kejadian perkara.

Proses hukum yang dinilai sepihak itu sempat dilaporkan Maruli kepada Kapolda Sumut. Melalui suratnya tertanggal 15 Mei 2018, Maruli mohon perlindungan dan kepastian hukum. Pasca surat itu, pihak Polsek pun tidak melakukan penahanan terhadap Royana. Begitu juga saat kasusnya dilimpahkan ke Kejari Simalungun, Royana juga tidak ditahan. Namun, saat memasuki sidang di PN Simalungun, majelis hakim diketuai Lisfer Berutu memerintahkan jaksa untuk melakukan penahanan. Tak ayal, ibu berusia 53 tahun itu pun langsung dijebloskan ke dalam tahanan.

Maruli merasa miris dengan kejadian yang menimpa istrinya itu. Ia juga tak menyangka kalau Dedi Bonardo tega menzholimi bibi kandungnya sendiri. “Saya tak menyangka dia bisa begitu tega,” sesal Maruli.

Penyesalan Maruli terhadap sikap Dedi sangat beralasan. Pasalnya, istrinya Royana Saragih, telah banyak membantu meminjamkan lahannya selama setahun lebih kepada Dedi yang membuka usaha tempat berfoto berupa wahana balon dan wahana love. “Sungguh sangat disesalkan,” ujarnya.

Upaya penzholiman sebelumnya juga dialami Maruli. Pensiunan PNS ini malah sempat dianiaya hingga bersimbah darah. Meski peristiwanya terjadi Juli tahun silam, namun psikis kejiwaannya terus saja dibayang-bayangi ketakutan. Di benaknya selalu terngiang kejadian pengeroyokan yang membuatnya terluka parah. “Saya masih trauma. Psikis saya acap dibayangi rasa kekhawatiran. Lukanya memang sudah tinggal bekas, tetapi sampai sekarang saya masih sering dihantui rasa sakit akibat penganiayaan itu,” tuturnya.

Penganiayaan berat yang dialami Maruli sempat dilaporkannya ke Polsek Dolok Pardamean, Nagori Pabrik Sabungan, Simalungun. Kasus ini terhenti setelah Maruli dan pelaku penganiayaan melakukan perdamaian. “Polisi saat itu menyarankan berdamai. Demi kemanusiaan, saya pun bersedia berdamai. Tapi mengapa ketika istri saya dilaporkan, polisi tidak ada menyarankan berdamai. Padahal, pelapor dan istri saya masih saudara yang tak terpisahkan,” tukas Maruli berharap masalah yang mendera istrinya cepat selesai. (Zainul Arifin Siregar)