Marhaen

Priyono B. Sumbogo

 

Di Kampung Cipagalo, Kelurahan Mengger, Kecamatan Bandung Kidul, Kodya Bandung (Jawa Barat), Marhaen terbaring bisu. Makamnya yang dipugar sekadarnya terletak di pinggir pagar sebelah timur real estate Batu Nunggal Indah, Jalan Soekarno-Hatta, Bandung. Tak jauh dari kuburan itu terdapat sungai dangkal yang digenangi air.

Makam itu hampir tak terurus, merana, tak dikunjungi orang, tak dikenang. Sepi. Semasa hidupnya Marhaen memang bukan orang sakti. Juga bukan orang terkenal. Ia hanya petani miskin penggarap sepetak sawah dengan tenaganya sendiri untuk menghidupi keluarganya sendiri. Sawahnya tak mampu menjadikannya hidup berkecukupan. Bahkan hasil panennya sebagian besar habis di makan sekeluarga. Cuma sedikit yang bisa dijual ke pasar. Marhaen tetap miskin sampai hari kematiannya pada tahun 1943 di Kampung Cipagalo.

Tapi Marhaen adalah ilham. Kemiskinannya, kesederhanaannya, kemandiriannya merangsang lahirnya gagasan besar seorang mahasiswa cerdas dari Sekolah Tinggi Teknik Bandung – sekarang Institut Teknologi Bandung. Mahasiswa itu bernama Soekarno, yang di kemudian hari dikenal dengan panggilan Bung Karno.

Suatu hari, saat Pemerintah Belanda masih berkuasa atas Nusantara, Bung Karno berjalan-jalan ke Kampung Cipagalo. Ia menyusuri pematang sawah dan menemukan Marhaen sedang mencangkul dengan tekun. Langkah Bung Karno terhenti. Ia tertegun karena kagum melihat petani tangguh di hadapannya. Dalam bahasa Sunda, Bung Karno menyapa:

 

Bung Karno (BK): Bapak, ini sawah milik siapa?

Marhaen (M) : Milik saya, anugerah Tuhan.

BK: Sawah ini kau beli?

M : Tidak, tapi warisan turun-temurun, sebagai anugerah Tuhan.

BK: Digarap oleh siapa?

M : Oleh saya.

BK: Hasilnya untuk siapa?

M : Dinikmati oleh saya sekeluarga.

 

Percakapan Marhaen yang miskin dengan calon manusia besar itu dapat disimak dalam

buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat (1966, halaman 83-103) yang disusun oleh Cindy Adams.

Terinspirasilah Bung Karno. Sosok Marhaen bagi Bung Karno adalah manusia merdeka dan mandiri. Tidak menggantungkan kepada siapa pun dalam mencukupi kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya. Betapa nikmatnya bila Tanah Air Indonesia, milik bangsa Indonesia, dikelola dan diurus bangsa Indonesia dan hasilnya dinikmati bangsa Indonesia. Bung Karno bergelora. Jiwanya diliputi semangat untuk membebaskan Tanah Air dari penjajahan Belanda.

Dari Marhaen pula Bung Karno memperoleh ilham tentang ideologi negara yang cocok bagi bangsa Indonesia. Di mata Bung Karno, Marhaen berjiwa nasionalis, demokratis, dan pandai bersyukur pada Tuhan Yang Maha Esa.

 

Marhaen mencintai Tanah Air dengan cara memanfaatkan sawahnya sebaik-baiknya. Ia menggarap sawah sendiri untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Beras itu berasal dari tanah milik rakyat, dikelola oleh rakyat, dan untuk rakyat. Tak sekalipun Marhaen lupa berterima kasih Tuhan Yang Maha Esa kala mencangkul, memanen, atau menikmati nasi nan pulen.

Dan oleh Bung Karno, sikap Marhaen tersebut dirumuskan menjadi Trisila: nasionalisme, demokrasi, dan Berketuhanan Yang Maha Esa. Di masa berikutnya, ketika Bung Karno terjun dalam perjuangan mencapai kemerdekaan, Trisila dikembangkan menjadi Pancasila yang hingga kini melandasi tujuan eksistensi Republik Indonesia.

Marhaen bukan legenda, bukan tokoh khayalan Bung Karno. Ia benar-benar ada. Cintanya pada Tanah Air, kemandiriannya, dan kepasrahannya pada Tuhan Yang Maha Esa adalah fakta. Kemiskinan dan kelemahannya adalah kisah nyata yang berlanjut secara turun-temurun, bahkan menular ke berbagai arah.

Kemerdekaan telah dicapai, Republik Indonesia telah berdiri,  orde berganti, Presiden Soekarno telah mati, Soeharto sudah renta,  Abdurrahman Wahid meneruskan Habibie, Megawati Soekarnopurti meninggalkan istana untuk ditempati Susilo Bambang Yudhoyono. Tembang Serumpun Padi tetap mengalun, karena penciptanya meyakini bahwa “serumpun padi mengandung janji, harapan Ibu Pertiwi”.

 Tapi, presiden hanyalah presiden, dan tembang cuma tembang. Para presiden atau wakilnya yang pernah memimpin Indonesia tak mampu mencegah sawah-sawah yang disulap menjadi gedung-gedung, sementara mereka tak sanggup mengubah hutan jadi sawah. Mereka tak bisa menahan pemilik modal mancanegara mengeruk isi perut bumi Indonesia dan membawanya ke negeri seberang. Para presiden itu juga tak kuasa menghambat laju harga pupuk manakala lahan petani kian sempit dan ketika kebutuhan hidup mereka meningkat.

Hari-hari kelam para Marhaen pun selalu datang. Semakin banyak perut orang Indonesia yang harus makan nasi, sementara semakin sedikit beras dalam negeri yang bisa dijual. Barangkali memang tidak ada pilihan lain, kecuali mendatangkan beras dari negeri lain, seperti dari Vietnam, negeri yang tak seberapa luas bila dibandingkan dengan daratan Indonesia.

Esok, seperti hari-hari kemarin, petani-petani akan lebih suka mencari nafkah ke kota, meninggalkan ladang atau bahkan menjual sawahnya kepada pengusaha dari dalam maupun luar negeri. Sebab, serumpun padi bukan lagi harapan Ibu Pertiwi, melainkan serumpun jiwa lara kaum Marhaen.

Kelak tidak akan ada lagi Marhaen, karena tidak ada lagi sawah. Kelak, di atas lahan-lahan gembur akan tumbuh gedung-gedung atau pabrik-pabrik milik orang-orang asing. Kelak, akan terbit pertanyaan: Indonesia sesungguhnya milik siapa?