Dugaan Suap Jabatan Direksi PDAM Tirtanadi Kembali Dipertanyakan Kepada KPK

Kasus dugaan suap jabatan direksi PDAM Tirtanadi kembali dipertanyakan. Soalnya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) disebut-sebut sudah melakukan pemeriksaan terkait kasus tersebut. Karena itulah, KPK didesak segara menetapkan tersangkanya.

“Kasus ini sudah cukup lama. Tidak baik disimpan begitu saja tanpa ada kepastian hukum. Kita tidak ingin nantinya muncul asumsi negatif terhadap KPK. Kalau memang ada suap untuk mendapatkan jabatan direksi di PDAM Tirtanadi, perlu secepatnya ditetapkan para tersangkanya. Jika tidak ada, beritahu publik bahwa direksi PDAM yang menjabat saat ini bersih dari suap menyuap,” tutur penggiat antikorupsi, Batara MH, Sabtu (4/8/2018).

Kasus dugaan suap jabatan direksi PDAM Tirtanadi memang sudah tidak lagi menjadi rahasia umum. Banyak elemen masyarakat mempertanyakan tindak lanjut pemeriksaan yang telah dilakukan KPK. Apalagi lembaga antirasuah itu disebut-sebut sudah melakukan proses verbal terhadap sejumlah oknum yang menjadi mata rantai jajaran direksi menuju Gubsu semasa dijabat Gatot Pujonugroho, dalam dugaan penyuapan untuk mendapatkan jabatan.

“Ini bukan kasus rantai terputus. Tidak ada yang namanya suap masuk dalam kategori rantai terputus. Ini ranah gratifikasi bagian dari korupsi untuk mendapatkan jabatan. Tidak boleh dong kasus ini dibiarkan begitu saja tanpa kepastian hukum,” ujarnya.

Sejauh ini KPK disebut-sebut sudah memeriksa Anuar Zailani yang punya hubungan dengan Zulkarnain ST alias Zul Jenggot. Dalam pengakuannya kepada penyidik, Anuar menerima uang dari seorang wanita yang terindikasi menjadi perantara cukong atau oknum yang menginginkan jabatan direksi di PDAM Tirtanadi. Uang itu disinyalir mengarah kepada Zul Jenggot yang diduga diteruskan kepada Gatot.

“KPK telah memverbal kasus ini. Dari Anuar Zailani juga sudah diketahui uang yang diterimanya itu diberikan kepada siapa, dan untuk mendudukkan siapa di jajaran direksi PDAM. Kasusnya kan jelas, kok diperlama-lama proses penegakan hukumnya,” kata Batara.

Menurutnya, wanita pengantar uang suap kepada Anuar Zailani itu patut dimintai keterangan agar diketahui siapa yang menyuruhnya. Diduga wanita itu suruhan cukong yang ingin menempatkan orangnya menjadi direksi di Tirtanadi. “Balas budi kepada cukong itu, bisa saja proyek. Sekarang ini, ada tidak pemain proyek yang bisa mengatur semuanya di perusahaan itu? Kalau ada, dugaannya mengarah kepada dia,” tukasnya.