Diduga Idrus Marham Bertalian Dengan Aliran Uang Pelicin Proyek PLTU Riau-1

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menduga Menteri Sosial Idrus Marham sudah sejak awal mengetahui skandal suap proyek pembangunan PLTU Riau-1. Idrus diduga mengetahui skandal ini saat masih menjabat sekjen di Partai Golkar.

Berdasarkan waktu kejadian perkara atau tempus celicti, KPK menduga Idrus mengetahui hal itu ketika belum menjadi menteri sosial atau masih menjadi fungsionaris Partai Golkar. “Dari informasi yang didapatkan KPK, kami duga tentu saja ada bagian dari peristiwa yang diketahui oleh saksi,” kata Kabiro Humas KPK, Febri Diansyah, Jumat (3/8/2018).

Karena itu, ia mengatakan, KPK perlu melakukan klarifikasi lebih lanjut kepada Idrus. Klarifikasi, di antaranya terkait rekaman CCTV yang disita KPK dari sejumlah lokasi.

Dalam video tersebut, Idrus dan Dirut PLN Sofyan Basir terekam beberapa kali melakukan pertemuan dengan kedua tersangka dalam kasus ini. Keduanya, yakni Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Eni Maulani Saragih (EMS), dan bos Blackgold Natural Recourses Limited, Johannes Budisutrisno Kotjo (JBK).

Selain terkait pertemuan-pertemuan dengan para tersangka, KPK juga mengonfirmasi dugaan Idrus bertalian aliran dana pelicin. “Informasi mengenai aliran dana. Itu yang kami dalami,” ujar Febri.

Karena itu, Febri menjelaskan, penyidik KPK melakukan pemeriksaan cukup lama terhadap Idrus beberapa waktu lalu. “Itu artinya, ada sejumlah hal yang perlu kami kroscek, perlu‎ diklarifikasi, sehingga informasi didapat KPK (dielaborasi) dengan mencari keterangan saksi di ruang pemeriksaan,” kata Febri.

Idrus yang diperiksa pada Kamis (26/7) pekan lalu mengaku sudah menjawab semua pertanyaan penyidik KPK. Saat itu, Idrus dicecar 20 pertanyaan selama sembilan jam.

“Secara keseluruhan, pertanyaan-pertanyaan yang ada sekitar hampir 20 pertanyaan itu yang disampaikan kepada saya tadi secara keseluruhan, dan semuanya sudah saya jelaskan, seperti apa yang ditanyakan oleh penyidik,” kata Idrus di gedung KPK, Jakarta, Kamis (26/7).

Menurut Idrus, dia sudah mengungkapkan semua informasi yang ia ketahui terkait kedua tersangka kasus ini, yakni kader partai Golkar Eni Maulani Saragih dan pemegang saham Blackgold Natural Limited, Johannes B Kotjo. Termasuk mengenai pertemuannya dengan Eni, Johannes Kotjo, dan Dirut PLN Sofyan Basir yang membahas proyek PLTU Riau.

“Semua sudah saya jelaskan kepada penyidik, yang saya ketahui dan didengar oleh penyidik,” ucapnya. “Semua sudah saya jelasin semua. Saya kira semua materi-materinya, sesuai pertanyaannya, semua sudah saya jelaskan secara rinci.”

Idrus juga mengklaim tak pernah menerima uang atau hadiah saat Eni datang ke rumahnya untuk menghadiri acara ulang tahun sang anak pada Jumat (13/7). Saat di rumah Idrus itu, Eni ditangkap oleh tim Satgas KPK dalam operasi tangkap tangan (OTT) lantaran diduga menerima suap dari Johannes.

“Apakah ada korelasinya atau tidak. Yang pasti, Ibu Eni pada hari ulang tahun anak saya datang tidak membawa kado. Tidak membawa apa-apa,” kata dia.

Dalam kasus suap terkait proyek pembangkit listrik milik PT PLN di Riau-1, Eni disangka sebagai penerima suap, sementara Johanes Kotjo sebagai pemberi suap dengan nilai total Rp 4,8 miliar. Johanes Kotjo merupakan pihak swasta pemegang sajam Blackgold Natural Resources Limited.