Mendahului Polisi, KPAI Simpulkan Pawai TK Dengan Cadar Dan Replika Senjata Sosialisasikan Radikalisme

Polisi belum mengambil kesimpulan apakah ada pelanggaran hukum dalam karnawal murid Taman Kanak-Kanak memakai cadar dan membawa replika senjata.Tapi, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyimpulkan ada unsur sosialisasi radikalisme.

Oleh karena itu KPAI akan memanggil pihak TK Kartika V Kota Probolinggo sebagai penyelenggara dan pihak yang bertanggung jawab dalam penggunaan atribut karnaval cadar dan replika senjata yang viral.

“KPAI minta kepada polisi terus mengusut pihak-pihak yang terlibat dalam inisiatif penggunaan atribut karnaval TK Kartika. Kegiatan seperti ini tak bisa dibenarkan dengan alasan inisiatif yang spontan, namun sesungguhnya membutuhkan persiapan yang matang sehingga dilakukan dengan sadar dan penuh tanggung jawab,” ujar Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto dalam keterangan tertulis, Minggu (19/8/2018).

Susanto mengatakan, KPAI meminta kepada Dinas Pendidikan Probolinggo untuk memberikan sanksi tegas kepada pihak sekolah. Sebab, pihak sekolah menggunakan atribut cadar dan replika senjata dalam kegiatan karnaval tanpa koordinasi.

Selain itu, KPAI meminta kepada Kantor Kementerian Agama Kota Probolinggo untuk melakukan pembinaan kepada sekolah-sekolah tentang ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamiin.

“Simbolisasi Islam dan ajaran Rasulullah agar tidak dinisbatkan pada simbol kekerasan sebagaimana sering diasosiasikan dengan simbol Taliban atau ISIS,” ujarnya.

KPAI juga menyayangkan alasan pihak sekolah mengangkat tema “bersama perjuangan Rasullullah, kita tingkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT” sebagai pembenaran pemakaian atribut yang biasa dilekatkan kepada kelompok ISIS. Padahal, kegiatan yang sedang diselenggarakan adalah Pawai Budaya dalam Rangka HUT RI ke-73.

Harusnya, pawai budaya yang sesuai dengan khasanah budaya Indonesia.

KPAI juga meminta banyak pihak, khususnya mereka yang menjadi pendidik di sekolah PAUD, SD, SMP dan SMA untuk tidak menjadikan symbol gerakan radikal sebagai bahan lucu-lucuan dalam pertunjukan karnaval. Apalagi jika pemakaian atribut cadar dan replika senjata diniatkan untuk hal serius (bukan lucu-lucuan).

Menurut Susanto, hal ini patut disayangkan karena terkandung sosialisasi ajaran radikalisme melalui visualisasi atribut yang kenakan anak. Penjelasan Kepala TK Kartika V bahwa penggunaan atribut tersebut karena tersedia barangnya di sekolah sehingga tidak perlu menyewa kostum lainnya justru menimbulkan tanya publik.

“Kok bisa sekolah menyediakan seragam cadar dalam jumlah banyak?” Susanto mempertanyakan.

Sebelumnya, KPAI telah menerima pengaduan masyarakat pada Sabtu (18/8) perihal karnaval TK Kartika V Kota Probolinggo yang menggunakan cadar dan replika senjata. Kegiatan karnaval merupakan rangkaian Pawai Budaya TK dan PAUD Se-Kota Probolinggo.

Dalam pengaduan yang disampaikan via WhatApps, masyarakat prihatin dan menyayangkan karnaval anak TK Kartika V mirip atribut ISIS di Suriah. Sebab, pihak sekolah menggunakan anak-anak yang masih polos sebagai propaganda gerakan radikal. Sementara, TK Kartika V adalah sekolah milik Persatuan Istri Tentara (Persit) dan di bawah binaan Kodim 0820.

Komisioner KPAI Susianah Affandy telah melakukan koordinasi dengan Kapolresta Probolinggo AKBP Alfian Nurrizal dan Dandim 0820 Probolinggo Letkol Kav Depri Rio Saransi.

Hasil koordinasi menyebutkan, tak ada pengajuan izin oleh Dinas Pendidikan kepada pihak kepolisian dalam penyelenggaraan kegiatan Pawai Budaya TK dan PAUD Se-Kota Probolinggo. Sementara, pihak sekolah menyatakan itu sebagai inisiatif spontan tanpa adanya koordinasi dengan Kodim sebagai pembina TK tersebut.

Pihak sekolah berdalih penggunaan cadar dan replika senjata karena barang-barang tersebut tersedia di gudang milik sekolah sehingga tidak perlu menyewa. Alasan lainnya, penggunaan atribut cadar dan replika senjata karena karnaval TK Kartika mengusung tema “Bersama perjuangan Rasullullah, kita tingkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT”.