Bidan Penjual Obat Penggugur Kandungan Cuma Seharga Rp 500 Ribu

Nur Saadah Utami (25) warga Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik menjual obat penggugur kandungan Rp500 ribu untuk lima butir ke tersangka pembawa bayi bayi dalam jok sepeda motor N-Max. Pelaku mendapat keuntungan Rp407 ribu.

Kapolres Mojokerto, AKBP Leonardus Simarmata mengatakan, hasil dari keterangan yang diberikan ke penyidik, pelaku memberikan saran menggugurkan kandungan dengan obat. “Caranya meminum lima butir dengan harga Rp15 ribu/butir. Pelaku menjualnya Rp500 ribu untuk 5 butir,” ungkapnya, Jum’at (24/8/2018).

Masih kata Kapolres, obat tersebut dikirim ke tersangka menggunakan jasa POS seharga Rp18 ribu. Keuntungan sekitar Rp400 ribu. Pelaku mengaku baru kali pertama menjual obat penggugur kandungan, pelaku merupakan tetangga dari tersangka laki-laki.

“Komunikasi keduanya lewat HP dan WA, pelaku mengarahkan cara meminum obat tersebut. Pelaku mengaku membeli obat tersebut di apotik di Langkat dengan cara mengaku sebagai bidan karena memang obat ini golongan obat keras yang tidak dijualbelikan secara bebas,” katanya.

Meski pelaku lulusan Diplomat 3 (D3) Kebidanan, lanjut Kapolres, pelaku tidak mengetahui dosis obat tersebut. Hal tersebut terlihat di percakapan dengan tersangka melalui Whatsapp (WA). Pelaku mengaku hanya membantu tersangka yang merupakan bekas tentangganya yang minta saran.

“Pelaku sendiri bekerja di salah satu rumah sakit di Sumatera Utara. Pasal 77A ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2014 Subs Pasal 194 UU RI Nomor 36 Tahun 2009 Subs Pasal 56 KUHP dengan ancaman 15 tahun penjara,” tegasnya.

Sebelumnya,  Nur Saadah Utami mengaku, tidak tahu usia kehamilan tersangka. Namun pelaku mengaku tahu resiko jika memberikan obat tersebut.

“Saya lulusan D3 Kebidanan di Gresik tahun 2014 dan magang di Gresik. Tahun 2015 baru ke Aceh, ikut nenek karena Aceh tempat kelahiran saya. Dia telepon bilang ada keponakam sedang hamil tapi tidak menyebutkan nama dan tidak tahu usia kehamilan,” ungkapnya, Jum’at (24/8/2018).

Tersangka, Dimas Sabhra Listianto (21) warga Agung, Desa Cagak Agung, Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik mengatakan kepada pelaku jika usai kehamilan kurang lebih dibawah lima bulan sehingga pelaki berani memberikan obat penggugur kandungan tersebut.

“Dia mengatakan kurang lebih di bawah 5 bulan. Dia nanya dan saya bilang tahu dan minta tolong dibelikan. Iya saya tahu resikonya makanya saya tanya berapa usia kehamilan, ternyata sudah besar. Kalau tahu besar, tidak saya kasih,” katanya.

Warga Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik yang bekerja di salah satu rumah sakit di Langkat, Sumatera Utara ini mengaku tahu, jika digugurkan maka bayi dalam kandungan tersangka Cicik Rocmatul Hidayati (21) warga Desa Gunung Sari, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto akan meninggal.

“Iya tahu kalau dikonsumsi akan meninggal karena obat tersebut merupakan obat keras. Keuntungan (hasil penjualan obat penggugur kandungan, red) tidak buat apa-apa,” tuturnya sembari meneteskan air mata tanda penyesalan.