Bidadari-Bidadari Muslim Dari China Yang Ditindas

Uighur adalah sebuah suku di wilayah Xinjiang, China, selalu melahirkan wanita cantik bak bidadari yang turun dari kayangan. Secara fisik, perempuan yang terlahir dari suku ini relatif sangat cantik. Mulai dari wajah, bentuk tubuh, hingga ciri khas rambut dapat dikatakan sempurna.

Meskipun Suku Uighur mendiami negeri tirai bambu China, namun wajah mereka tak mirip orang China pada umumnya. Hampir dari semua perempuan di suku ini berkulit putih dan sedikit berparas Arab.

Beberapa orang bahkan terlihat seperti blasteran Asia Timur dan Juga Eropa. Ada lagi yang membuat kagum, yaitu mata mereka yang coklat agak kehijauan, dan dan juga yang terlahir dengan rambut pirang.

Wilayah Xinjiang, China terletak pada lokasi daerah paling utara dan barat negeri China. Xinjiang sendiri artinya adalah perbatasan baru.

Di Xinjiang Suku Uighur menjadi mayoritas dan hidup berdampingan dengan suku-suku lain, misalnya Kazakh dan Han.

Mayoritas penduduk suku ini adalah pemeluk agama islam. Nenek moyang Uighur merupakan pecahan dari negara muslim yang akhirnya mendiami wilayah Xinjiang. Suku ini secara fisik memang sangat mirip dengan bangsa Turki.

Namun kini mereka hidup dalam ketakutan. Beberapa waktu lalu Xinjiang sempat menjadi perhatian dunia soal kebebasan beragama di tempat tersebut. Suku Uighur yang mendiami wilayah ini mayoritasnya muslim dan perlakuan pemerintah China sangat buruk terhadap hal tersebut.

Bulan Ramadhan beberapa waktu lalu, gencar diberitakan jika pemerintah China melarang muslim Uighur berpuasa. Hal ini pun menimbulkan kecaman dari berbagai pihak. Namun China berdalih jika hal tersebut hanya isu belaka yang dibesar-besarkan media barat.

Tak hanya soal larangan berpuasa, pada 1990 lalu muslim Uighur dilarang mendirikan masjid dan madrasah. Hal ini berujung konflik yang akhirnya menghasilkan kebijakan Strike Hand, yang mana pemerintah jadi punya hak untuk mengatur segala sesuatu tentang keagamaan di tempat ini.

Tak hanya hal-hal yang berkaitan dengan agama saja, suku Uighur juga dipersulit soal birokrasi. Misalnya saja membuat paspor untuk berhaji yang takkan berjalan mudah. Mereka juga sangat kesulitan mendapatkan pekerjaan. Perusahaan sekitar lebih mempertimbangkan menerima suku Han yang notabene hidup berdampingan Uighur. Tak salah jika akhirnya suku Uighur hingga saat ini masih terus berupaya lepas dari China.