Baru Dibangun, Pemecah Gelombang Di Bangka Barat Sudah Ambrol

Forumkeadilanbabel.com, Bangka Barat — Proyek pembangunan pemecah gelombang pantai atau yang sering di sebut talud pantai pada dasarnya dibangun dengan perencanaan yang matang sehingga menghasilkan suatu bangunan kontruksi yang kekuatannya bisa bertahan hingga puluhan tahun. Namun bagaimana dengan bangunan kontruksi Talud pantai Desa Pala Kecamatan Jebus Bangka Barat yang belum lama dibangun namun kondisinya sudah memprihatinkan?

Dari pantauan di lokasi beberapa waktu lalu, sebagian dinding talud pantai Desa Pala sudah ambrol. Bahkan sebagian material batunya sudah berhamburan di sekitar kaki talud. Dari lobang dinding talud yang ambrol terlihat jelas jika susunan material batu batunya disusun tanpa diisi semen atas bawah, akan tetapi langsung diplaster. Kuat dugaan pelaksanaan pekerjaan talud tersebut tidak sesuai spek pekerjaan (spesifikasi tehnik, red)

Dari data yang diperoleh melalui LPSE kabupaten Bangka Barat pada tahun 2013 ada pembangunan Talud Pantai Pala Sepanjang 100 M dengan nilai Rp. 987.000.000 bersumber dari APBD tahun 2013, yang dikerjakan oleh CV. Okta Jaya Anugrah. Lalu kemudian di tahun 2017 Pemkab Bangka Barat melalui Dinas PU Tata ruang dan Perhubungan kembali mengucurkan anggaran untuk proyek bangunan Talud Pantai Pala dengan nilai Rp.2.496.000.000 bersumber dari APBD Kabupaten Bangka Barat tahun 2017.

Berdasarkan informasi yang dihimpun forumkeadilanbabel.com proyek pekerjaan talud pantai Pala tersebut dimenangkan oleh CV Mianda Karya dengan banting harga hanya 0,75 persen. Perusahaan CV Mianda Karya ini disebut sebut dimiliki oleh kontraktor bernama Andre yang beralamat di Kecematan Jebus Parittiga. Dalam pelaksanaan proyek talud pantai Pala tahun 2017 dikabarkan diawasai oleh kakak kandung Andre sendiri bernama Suherman, PNS Dinas PU Bangka Barat kala itu.

Namun menurut kepala dinas Pekerjaan Umum Tata ruang dan Perhubungan kabupaten Bangka Barat, Suharli mengatakan jika pelaksanaan proyek pekerjaan talud tersebut dikerjakan tahun 2010.

“Menurut anak buah kegiatan yang ada di gambar (talud yang rusak, red) itu proyek di tahun 2010. Andre yang meneruskan sambungannya. Soal kerusakan nanti kita perbaiki. Terima kasih atas informasinya” kata Suharli singkat via WA messenger, Jum’at (3/8/2018).

Sementara itu, menurut salah satu sumber menyebutkan jika pada proyek talud yang dibangun di Desa Pala itu terdapat kesalahan pada item pekerjaan pemasangan batu belah pada bawah bangunan. Bahkan data dari sumber terpercaya ini masih banyak lagi ditemukan pelanggaran dalam pelaksanaan proyek talud tersebut.

Sumber ini mengaku apa yang disampaikannya baik melalui data maupun informasi dapat dipertanggungjawabkan apabila dikemudian hari perkara ini dibawa ke ranah hukum.

Terpisah, Dedi Wahyudi selaku wakil ketua LSM Gerakan Barisan Komitmen Konstitusi (Gebrakk) Sriwijaya Bangka Belitung meminta pihak aparat Kejaksaan Tinggi maupun Tipikor Polda Kep. Babel untuk menelisik proyek talud di desa Pala yang dibangun milyaran rupiah dari uang rakyat namun belum lama dibangun kondisinya sudah sangat memprihatinkan.

“Ini tidak boleh didiamkan. Masak bangunan kontruksi belum mencapai puluhan tahun sudah pada ambrol. Ini jelas kwalitas pekerjaannya sangat jelek. Saya meyakini dugaan adanya indikasi penyimpangan dalam pelaksanaan pekerjaan talud di desa Pala itu. Dugaan penyimpangan itu harus diungkap sehingga pihak yang terlibat dapat dimintai pertanggung jawabannya. Kita tidak mau uang rakyat habis terkuras akibat proyek yang tak berkwalitas seperti halnya proyek talud ini. Oleh karenanya kami meminta pihak Kejati maupun tipikor Polda Kep. Babel untuk turun menelisik proyek talud di Desa Pala tersebut,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, forumkeadilanbabel.com masih dalam upaya melakukan konfirmasi ke pihak perusahaan kontraktor pelaksana pekerjaan yakni CV Okta Jaya Anugrah dan CV. Mianda Karya.

(Red/FkB)