Rupiah Masih Keok

 

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus bergejolak dan tertekan. Namun tak hanya terhadap dolar AS, terhadap mata uang lain rupiah pun keok tak berdaya. Pelemahan ini disebut terjadi akibat dua faktor yakni global dan domestik. Dua faktor ini sangat mempengaruhi aliran masuk dana asing sehingga menyebabkan tekanan pada nilai tukar.

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah kemarin berada di level Rp 14.512. Nilai tukar mata uang Paman Sam masih betah di level Rp 14.500. Mengutip Reuters, Rabu 25 Juli 2018, The Greenback sempat menyentuh level tertingginya di Rp 14.525 dan level terendahnya di Rp 14.510. Mengutip laman resmi Bank Mandiri, dolar AS dijual Rp 14.530 pukul 11.40 WIB dan kurs beli dipatok Rp 14.480.

Kemudian, kurs jual dolar AS di Bank Negara Indonesia (BNI) sebesar Rp 14.547 dan kurs beli di Rp 14.492. Begitu juga dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI), kurs jual dolar AS dipatok di level Rp 14.555 dan kurs beli di Rp 14.455. Sementara itu, Bank Tabungan Negara (BTN) memasang kurs jual dolar AS di Rp 14.595 dan kurs beli di Rp 14.420. Sedangkan Bank Central Asia (BCA) mematok kurs jual dolar AS Rp 14.527 dan kurs beli di Rp 14.505.

Tekanan terhadap rupiah ini  mengingatkan pada September 2015. Pada saat itu sepanjang bulan, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS bergerak direntang Rp 14.080- Rp 14.728 per dollar AS. Kurs rupiah pada penutupan perdagangan, Jumat 20 Juli merupakan yang terendah sejak 5 Oktober 2015.

Selain terhadap dolar AS terhadap mata uang apa saja rupiah melemah? Mengutip data RTI, Rabu 25 Juli 2018, nilai tukar terhadap dolar AS tercatat Rp 14.518 per dolar AS melemah 0,03 persen. Kemudian nilai tukar rupiah terhadap dolar Australia tercatat Rp 10.738 melemah 0,29 persen.

Selanjutnya nilai tukar rupiah terhadap yuan China Rp 2.133 melemah 0,28 persen. Kemudian rupiah terhadap euro Rp 16.954 melemah 0,06 persen. Nilai tukar terhadap poundsterling tercatat Rp 19.080 melemah 0,04 persen. Kemudian nilai tukar terhadap dolar Hong Kong tercatat Rp 1.850 melemah 0,05 persena.

Sementara itu untuk nilai tukar rupiah terhadap yen tercatat Rp 130,42 melemah 0,15 persen. Kemudian untuk nilai tukar Korean won tercatat Rp 12,86 melemah 0,23 persen. Pelemahan juga terjadi pada nilai tukar rupiah terhadap ringgit Malaysia yakni Rp 3.571 melemah 0,25 persen. Kemudian terhadap dolar Singapura tercatat Rp 10.632 melemah 0,19 persen. Nilai tukar rupiah terhadap Thailand baht juga mengalami pelemahan Rp 434,5 melemah 0,16 persen. Terakhir terhadap dolar Taiwan tercatat Rp 473,3 melemah 0,25 persen.

Erwin Rijanto, Deputi Gubernur Bank Indonesia mengatakan, melemahnya nilai tukar rupiah ini tidak hanya terjadi pada rupiah saja. Namun  juga dialami di beberapa mata uang negara lain. “Jadi memang mata uang beberapa negara hampir semua melemah dibandingkan dollar AS,” kata Erwin.

Masalah utama terkait gejolak nilai tukar ini adalah pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.  Trump secara terbuka menyindir kebijakan moneter The Fed yang menaikkan suku bunga. Trump tak senang dengan kenaikan bunga The Fed tersebut karena membuat dollar AS terus menguat dan mengurangi daya saing AS.

Selain itu, beberapa kebijakan Trump seperti perang dagang terhadap China juga mempengaruhi nilai tukar. Saat ini, menurut BI, ekonomi AS  memang berada di atas angin. Soal pelemahan rupiah ini, BI mengimbau masyarakat tetap tenang. Karena BI akan selalu ada di pasar untuk melakukan operasi pasar.

Dolar Amerika Palsu (antara)
Dolar Amerika Palsu (antara)

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara melihat penurunan mata uang semata-mata akibat gejolak ekonomi global. Pelemahan rupiah masih lebih baik dibandingkan dengan mata uang negara lainnya. “Ini kan global apalagi selain faktor kenaikan suku bunga The Fed [Bank Sentral AS] dan faktor lain seperti pelemahan Yuan yang dilakukan mungkin secara sengaja,” katanya di Gedung DPR RI 25 Juli lalu.

Menurut Mirza, pelemahan nilai tukar rupiah periode Mei-Juli 2018 hanya 4,5%. Namun negara lain ada yang mencapai 7 persen. Lebih jauh Mirza mengatakan, defisit neraca perdagangan di mana impor lebih tinggi dari ekspor membuat Indonesia butuh banyak pasokan valuta asing. Sehingga terjadi keketatan likuiditas dolar global yang juga terjadi di Indonesia.

Untuk itu BI akan terus menyerap likuiditas dolar untuk pasokan intervensi nilai tukar. “Setiap hari BI lakukan operasi moneter di mana bank [yang punya] lebih likuiditas dilihat. Jadi bank itu menaruh ekses likuiditas bisa melalui instrumen BI. Setiap hari ada likuiditas perbankan masuk ke BI,” kata Mirza.

Nilai tukar rupiah masih bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Namun apresiasi rupiah kian terbatas.

Melihat kondisi itu,  Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah mengatakan, sepanjang Juli hingga Agustus mendatang, Bank Indonesia harus bisa mengembalikan rupiah atau setidaknya menjaga rupiah agar tidak terus melemah terhadap dollar AS. Sebab, pada September mendatang ada faktor risiko tekanan baru, yaitu kenaikan suku bunga Federal Reserve.

“September akan ada sumber tekanan baru, The Fed naikan suku bunga lagi, dan itu akan nekan rupiah lagi. Jadi kita punya ruang, sepeanjang Juli sampai Agustus. Seharusnya BI bisa membawa rupiah untuk menguat di Juli-Agustus, supaya ada ruang di September. Kalau Juli-Agustus terlampau tertekan takutnya kita kedodoran,” ujar Piter dikutip Kompas.com.

Banyaknya sentimen positif di bulan Juli hingga Agustus ini, menurut Piter, seharusnya cukup untuk mengembalikan rupiah ke level psikologisnya. “Kan domestik sudah ada berita baik, seperti perbaikan neraca perdagangan, dan kayanya review GSP (Generalized System of Preferences/Sistem Preferensi Umum) ada solusi yang kita dapatkan dengan AS, ini mungkin tambahan good news yg kita harapkan bisa membuat rupiah menjadi lebih stabil di Agustus,” lanjut Piter.

BI pun baru saja mengaktifkan kembali instrumen operasi moneter Sertifikat Bank Indonesia ( SBI) tenor 9 bulan dan 12 bulan. SBI merupakan salah satu sarana menstabilkan rupiah setelah kenaikan suku bunga sebesar 100 bps hingga Juni lalu yang ternyata belum cukup untuk mengembalikan rupiah ke level psikologisnya.

Piter menilai, langkah ini akan efektif untuk dapat menahan arus modal keluar dan mendorong stabilitas rupiah andai saja kondisi eksternal juga mendukung. “Kita tinggal bicara pull and push factor saya yakin ini (SBI) efektif dia menambah daya pull factor-nya, tapi seperti apa kondisi di luar itu yg akan lebih menentukan juga. selama kondisi di luar masih menimbulkan rasa tidak confident market, dan itu lebih besar dari daya tarik yang diciptakan SBI, dia (arus modal) masih akan keluar,” ujar Piter.

 

IIEN SOEPOMO