Uang Triliunan Berputar Selama Lebaran

Selama libur lebaran, perputaran uang mencapai triliunan rupiah. Daerah diuntungkan.

Budiyono, 43 tahun, warga Cilangkap Depok.  Lebaran kemarin, dia dan keluarganya mudik ke Kebumen, Jawa Tengah, kampung halaman istrinya. Dia bercerita, untuk keperluan mudik, dia telah menyiapkan uang sebesar Rp10 juta. “Ada untuk biaya perjalanan seperti bensin dan makan selama perjalanan, lalu membeli oleh-oleh dan yang paling banyak ya untuk dibagi-bagi ke saudara-saudara di kampung. Terutama untuk orangtua,” ujarnya yang mudik membawa kendaraan sendiri ini.

Beda cerita yang disampaikan Sigit Kurniawan, 30 tahun. Pria yang bekerja serabutan ini menghabiskan uang Rp5 juta untuk keperluan mudik lebaran. “Untuk tiket kereta, saya, istri dan dua anak saya. Kereta ekonomi,terus untuk oleh-oleh. Ada juga untuk beli baju lebaran anak dan istri juga orangtua,” paparnya.

Sigit mengaku, karena kerja serabutan dia tak memperoleh THR (Tunjangan Hari Raya). “Saya harus nabung, dan Alhamdulillah istri saya pintar mengelola uang meski penghasilan saya gak menentu. Prinsip saya lebaran harus di kampung, kumpul sama orangtua dan saudara dan keluarga. Gak apa-apa di Jakarta hidup pas-pasan, yang penting nabung untuk lebaran di kampung,” kata Sigit yang mudik ke Surabaya ini.

Semua tentu punya kisahnya masing-masing, bagaimana mengatur keuangan di saat hari raya Idul Fitri. Bank Indonesia (BI) mencatat terjadi peningkatan kebutuhan uang tunai yang mencapai Rp 191,3 triliun selama libur Lebaran 2018. Angka ini lebih tinggi dari proyeksi awal sebesar Rp 188,2 triliun. Jumlah ini pun juga meningkat secara signifikan jika dibandingkan dengan pola historisnya.

“Tren pertumbuhan uang kartal dan preferensi perbankan terhadap uang pecahan besar, penambahan libur dan cuti bersama, kenaikan THR bagi aparat sipil negara dan pensiunan, serta perluasan jumlah titik distribusi uang berupa kas titipan menjadi faktor pendorong peningkatan kebutuhan uang tunai,” sebut BI melalui laman resminya pada Selasa, 26 Juni 2018.  

BI pun mengklaim mampu memenuhi lonjakan kebutuhan uang tunai masyarakat dan perbankan di seluruh wilayah Indonesia.  Sementara dari sisi non-tunai, rata-rata volume harian transaksi Real Time Gross Settlement ( RTGS) dan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) pada periode Ramadhan dan Lebaran 2018 berjumlah 745.089 transaksi, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 692.593 transaksi.

Adapun rata-rata nominal harian RTGS dan SKNBI juga mengalami peningkatan dari Rp 554,7 triliun menjadi Rp 635,4 triliun. Dari total nominal transaksi non-tunai, 97 persennya merupakan transaksi Real Time Gross Settlement (RTGS).

BI juga mencatat dari kebutuhan uang tunai, hampir 38,4 persen transaksi bakal terjadi di Pulau Jawa non-wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Wilayah Jabodetabek sendiri bakal menyerap 22,8 persen dari total Rp188,2 triliun.

kantor bank indonesia (presidentpost.id)

Artinya total peputaran uang tunai di Pulau Jawa selama Ramadan dan Idul Fitri mencapai 61,2 persen, atau Rp115,5 triliun. Untuk sisa uang tunai Rp32,7 triliun akan terdistribusi di luar Pulau Jawa, meliputi wilayah Sumatera 19,9 persen dan kawasan lainnya 18,9 persen.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Rosmaya Hadi menjelaskan perkiraan kebutuhan uang tunai (outflow) di 2018 itu meningkat 15,3 persen dibandingkan periode 2017 (Rp163,2 triliun). “Periode Ramadhan dan Idul Fitri memang selalu diiringi dengan peningkatan kebutuhan uang tunai di masyarakat,” kata dia, Rabu (23/5).

Rosmaya memastikan BI berkomitmen untuk mendistribusikan uang tunai ke seluruh Indonesia untuk memenuhi total kebutuhan tersebut melalui 46 kantor perwakilan yang secara serentak melakukan aktivitas pelayanan penukaran uang kepada masyarakat.

BI juga melakukan kegiatan distribusi seperti kas titipan dan kas keliling. Di seluruh Indonesia terdapat 1.000 titik atau lokasi yang melayani kegiatan distribusi tersebut. “Juga distribusi uang ke tempat 3T (terluar, terdepan, terpencil), bahkan hingga mencapai pelosok kecamatan,” kata dia, dilansir Antara.

Menurut Rosmaya, BI akan terus berkoordinasi dengan pihak perbankan supaya memastikan kondisi ATM dan pelayanan kepada masyarakat selama libur Lebaran tidak berkurang. Langkah yang sama dilakukan terhadap peserta sistem pembayaran guna memastikan optimalnya kegiatan sistem pembayaran.

“Dengan langkah-langkah antisipatif yang dilakukan, BI berharap kegiatan ekonomi masyarakat pada bulan Ramadhan dan Idul Fitri 2018 dapat berjalan dengan lancar, aman dan nyaman,” tandasnya.

Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DKI Jakarta menyatakan selama musim mudik Lebaran 2018, uang sebesar Rp41 triliun diperkirakan menyebar ke banyak daerah di Indonesia dari kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DKI Jakarta, Sarman Simanjorang mengatakan, penyebaran uang tunai ini dikarenakan jumlah pemudik dari salah satu kawasan penggerak ekonomi utama Indonesia mencapai 7 juta orang pada tahun ini.

“Data dari Bank Indonesia menyebutkan perputaran uang selama musim liburan Lebaran tahun ini mencapai Rp188 triliun, sekitar Rp41 triliun atau 22% berasal dari Jabodetabek,” ujar Sarman, Kamis,  14 Juni 2018.

Ia menyampaikan, jumlah itu sendiri meningkat sebesar 10% hingga 13% dibanding tahun 2017. Karena itu, sejumlah daerah pada sektor-sektor ekonomi kecil, mencakup transportasi, pariwisata, kerajinan/oleh-oleh, hingga konsumsi rumah tangga, akan tergenjot oleh uang yang dibawa para pemudik ini.

“Momen Lebaran memang sangat ditunggu-tunggu oleh pelaku UKM di daerah tujuan mudik karena akan mampu mendongkrak omset mereka,” ujar Sarman.

Lebih lanjut, Sarman menyampaikan, kebijakan pemerintah memperpanjang masa libur Lebaran hingga mencapai total 10 hari, memberi dampak positif yang tinggi terhadap laju ekonomi di daerah. Para pelaku ekonomi di daerah memiliki kesempatan yang lebih lama untuk mencicipi kue ekonomi mudik.

“Geliat ekonomi di daerah semakin bergairah dan ini menjadi kesempatan yang sangat baik, terutana bagi UKM yang berdagang di sekitar kawasan wisata,” ujar Sarman.

Kereta Api mudik lebaran (katakota.com)

Tak hanya dari transaksi pemudik, perputaran uang dalam periode tersebut juga datang dari remitansi atau hasil pengiriman uang pekerja migran ke Tanah Air.  PT Pos Indonesia memprediksi, sirkulasi uang dari remitansi jelang Lebaran 2018 meningkat 5-10 persen dari tahun lalu, yaitu Rp 3 triliun – Rp 4 triliun per bulan. Banyak sektor bergairah Geliat gairah ekonomi terlihat pula dari pengiriman makanan khas pempek dari Palembang, Sumatera Selatan.

PT Pos Indonesia Cabang Palembang mencatat pengiriman pempek jelang Idul Fitri selalu melonjak hingga tiga kali lipat. Pada hari biasa, pengiriman pempek ke sejumlah daerah hanya sekitar 300 kilogram (kg) per hari. Memasuki akhir Mei 2018 kiriman pempek meningkat hingga 600 kg per hari dan diprediksi melonjak menjadi 1 ton per hari menjelang sepekan sebelum Lebaran. 

Itu baru dari sisi perdagangan, peningkatan aktivitas perekonomian juga bisa terlihat dari lonjakan volume penggunaan transportasi umum. Untuk transportasi udara saja Kementerian Perhubungan sudah menerbitkan 181 penerbangan tambahan atau ekstra baik untuk rute dalam dan luar negeri. Jumlah penumpang kereta api di Stasiun Purwokerto mulai naik memasuki musim mudik lebaran, Senin (11/6/2018). 

Sementara itu, untuk Kereta Api, Public Relations PT KAI Agus Komarudin mengatakan, pada Lebaran tahun ini perjalanan 393 KA per hari, naik 4 persen ketimbang 2017, yakni 379 KA per hari. Adapun kapasitas tempat duduk 287.684 kursi per hari, naik 2,5 persen dibanding 2017.

Dengan situasi seperti itu, maka bank pun berpartisipasi. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk menyiapkan uang tunai sebesar Rp 14,45 triliun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama libur Lebaran 2018. “Untuk periode 9 Juni 2018 hingga 20 Juni 2018, atau selama 12 hari, total likuiditas dana yang kami siapkan adalah sebesar Rp 14,55 triliun,” kata Direktur Utama BTN Maryono.

Menurut dia, angka tersebut dihitung dengan rata-rata kebutuhan likuiditas per hari sebesar Rp 1,2 triliun. Sebagian besar dana tunai tersebut disalurkan melalui ATM untuk memudahkan masyarakat mengakses dana tunai, transfer, dan transaksi lainnya selama libur Lebaran dan saat kantor bank tutup. Layanan Lebaran Selama libur Lebaran yang dimulai 11 Juni 2018 hingga 18 Juni 2018, ada 22 outlet konvensional yang tetap beroperasi di 4 kantor wilayah.

Adapun layanan yang bisa dilakukan selama periode tersebut adalah transaksi berkaitan dengan loket atau layanan kas, seperti setoran dan penarikan tabungan, setoran angsuran KPR (melalui tabungan), serta penjualan kartu Blink BTN di beberapa lokasi potensial. Sementara, untuk periode 19-20 Juni 2018, ada 193 outlet yang beroperasi yaitu seluruh kantor cabang pembantu (konvensional maupun syariah) yang tidak satu kota dengan kantor cabang induknya wajib buka dan menjalankan operasi secara terbatas.

Sementara itu PT Bank Mandiri Tbk telah menyiapkan kebutuhan uang tunai untuk libur Lebaran 2018 sebesar Rp 50 triliun. Dana ini sebesar 80% disiapkan dari kas internal sedangkah sisanya dari Bank Indonesia. Joseph Georgino Godong, SEVP Chief Technology Officer Bank Mandiri bilang uang tunai yang disiapkan BI ini meningkat 13% secara tahunan atau year on year (yoy). “Tahun lalu kami menyiapkan dana sebesar Rp 40 triliun untuk Lebaran,” kata Joseph.

Deputi Gubenur BI Rosmaya K Hadi bersama Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno meninjau stand penukaran uang di Mobil Bank Indonesia, di lapangan IRTI Monas, Jakarta, Rabu (23/5/2018). (photo.sindonews.com)

Layanan penukaran uang di Bank Mandiri ini akan dibuka selama Ramadan sampai satu minggu setelah Lebaran. Bank Mandiri mengukur sebenarnya permintaan uang tunai tertinggi terjadi 10 hari sebelum Lebaran. Uang tunai ini sebesar 70% akan disiapkan melalui ATM. Hal ini karena diperkirakan nanti sebagian besar transaksi dilakukan melalui ATM.

Tak hanya bank pelat merah, bank swasta pun juga melakukan hal yang sama. PT Bank Central Asia (BCA) menyiapkan uang tunai sebesar Rp 45 triliun untuk memenuhi kebutuhan mesin anjungan tunai mandiri (ATM) yang tersebar di Indonesia. Uang tunai tersebut disiapkan selama libur Lebaran 10 hari. Hal itu diungkapkan oleh Direktur Bank BCA Erwan Yuris Ang.

Erwan menyebutkan, jumlah ATM Bank BCA berjumlah sekitar 17.000 dan tetap beroperasi 24 jam, begitu juga dengan fasilitas seperti Halo BCA tetap beroperasi penuh. “Uang tunai selama libur 10 hari menyiapkan Rp 45 triliun, kita gunakan untuk kebutuhan ATM,” kata Erwan di ruang rapat Komisi XI DPR RI, Jakarta.

Erwan mengungkapkan, pada libur tanggal 11-12 Juni Bank BCA pun masih membuka 106 kantor cabang dengan pengoperasian yang terbatas. Sedangkan pada tanggal 19-20 mengoperasikan 136 kantor dengan operasional terbatas. “Karena Bank Indonesia membuka kantor dengan operasional terbatas,” jelas dia.

Sedangkan layanan yang lain, Erwan Yuris memastikan sistem Bank BCA tetap beroperasi meskipun libur Lebaran selama kurang lebih 10 hari. “EDC, kartu kredit baik di kota besar maupun kecil, lalu kartu Flazz tetap berfungsi, sistem kita tetap aktif,” tutup dia.

IIEN SOEPOMO