Tutup Buku Chat Porno

Kepolisian mengeluarkan SP3 perkara chat mesum Rizieq Shihab. Membantah ada intervensi.

Kabar mengejutkan datang dari kasus chat Habib Rizieq Shihab. Pasalnya, Mabes Polri mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) kepada Habib Rizieq Shihab dalam kasus dugaan chat mengandung unsur pornografi tersebut.

Kontroversi pun bermunculan. Sebagian mempertanyakan bagaimana bisa tersangka yang kabur ke luar negeri kemudian kasusnya dihentikan karena kekurangan bukti. Kubu pro memuji kinerja Polri yang memberikan SP3 ini karena memang sebetulnya Habib Rizieq tidak bersalah.

Kabar keluarnya SP3 ini disampaikan kuasa hukum Rizieq, Kapitra Ampera. Kapitra berpandangan pemberian SP3 dari pihak kepolisian adalah kado Idul Fitri terindah bagi kliennya.

Mabes Polri pun membenarkan sudah memberikan SP3 kepada Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) itu. Polisi beralasan penyidik tidak menemukan pengunggah gambar percakapan Rizieq dengan Firza Husein dalam satu percakapan di WA. “Betul, penyidik sudah menghentikan kasus ini,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Mohammad Iqbal.

SP3 ini, kata Iqbal, merupakan kewenangan penyidik. Karena, ada surat permintaan SP3 resmi dari tim kuasa hukum Rizieq. Usai gelar perkara, kasus tersebut dihentikan karena penyidik belum ditemukan pengunggah percakapan itu. Namun demikian kasus Rizieq bisa dibuka kembali terutama jika polisi menemukan bukti-bukti baru. Jika pengunggah sudah ditemukan maka bisa dimintai keterangan kembali.

Penerimaan SP3 itu disampaikan langsung oleh Rizieq melalui sebuah video yang ditayangkan di chanel Youtube, Front TV. Dalam video tersebut, Rizieq menyampaikan secara langsung bahwa ia telah menerima salinan surat asli SP3.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol M Iqbal (kumparan.com)

 “Alhamdulillah, hari ini kami mendapatkan kiriman surat asli kasus chat fitnah yang dikirim oleh pengacara kami bapak Sugito, yang beliau dapatkan SP3 ini langsung dari penyidik,” kata Rizieq dalam video yang juga ditemani oleh istri dan anak-anaknya. Ia pun berterimakasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung dan membantu menyelesaikan kasus tersebut, termasuk kepada pihak kepolisian.

Kasus ini berawal dari sebuah situs beralamat www.baladacintarizieq.com membuat geger masyarakat pada awal 2017 lalu. Situs tersebut memuat konten gambar screenshot percakapan tak senonoh dalam aplikasi Whatsapp, antara seorang pria yang disebut sebagai Habib Rizieq dan wanita yang disebut-sebut Firza Husein.

Percakapan dalam screenshot seolah-seolah menggambarkan Rizieq memiliki hubungan khusus dengan Firza. Situs ‘baladacintarizieq‘ juga memuat konten foto-foto syur yang diduga diambil Firza untuk pria yang diduga Rizieq. Tak hanya foto, situs tersebut juga mengunggah rekaman suara dua orang perempuan yang sedang membicarakan adanya hubungan terlarang antara pria diduga Rizieq dengan perempuan diduga Firza.

Kedua perempuan tersebut digambarkan sebagai Firza sendiri dan sosok temannya Fatima alias Kak Emma. Irjen Boy Rafli, yang kala itu masih menjabat sebagai Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri, mengatakan pihaknya akan mempelajari konten dari situs tersebut. Jika situs itu memang memuat konten pornografi, penyebar bisa dikenai pidana tanpa perlu menunggu ada yang mengadukan.

Sementara Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) langsung memblokir situs baladacintarizieq. Malam harinya sekelompok orang yang menamai diri Aliansi Mahasiswa Anti Pornografi melaporkan tiga situs yang mengandung konten pornografi ke Polda Metro Jaya. Pelapor, Jefri Azhar, melampirkan bukti print out percakapan antara Habib Rizieq Syihab dan Firza Husein dalam laporannya tersebut. Adapun tiga situs yang dilaporkan oleh Jefri adalah baladacintarizieq, www.4nSh0t.com, dan www.s05exybib.com.

Dalam laporan tersebut, Jefri melaporkan ketiga situs itu dengan Pasal 4 ayat (1) juncto Pasal 29 dan/atau Pasal 32 UU RI No 44 Tahun 2008 tentang Pornografi dan/atau Pasal 27 ayat (1) juncto Pasal 45 ayat (1) UU RI No 19 Tahun 2016 atas Perubahan UU RI No 11 Tahun 2008 tentang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik).

Menanggapi heboh situs baladacintarizieq.com, Rizieq dan Firza kompak mengatakan itu fitnah. Rizieq mengaku kenyang difitnah sementara Firza, lewat perwakilan keluarga, menyebut hal itu hoax dan menantang pihak-pihak yang menuding untuk membuktikan.

Selang empat bulan, polisi menetapkan Firza Husein sebagai tersangka pada 16 Mei 2017.  Sementara Rizieq ditetapkan sebagai tersangka hampir dua pekan setelah Firza. Polisi kemudian tidak bisa memeriksa Rizieq karena yang bersangkutan berada di Arab Saudi.

Sontak pihak pro-Habib Rizieq mempertanyakan sikap polisi terkait penyelidikan sosok yang menyebarkan konten porno di situs baladacintarizieq.com. Mereka menuding polisi merekayasa kasus untuk menjerat Rizieq. Polda Metro Jaya saat itu menjawab tudingan tersebut. Polisi mengaku masih mendalami kasus tersebut.

Setelah DPO, ancaman red notice pun menghantui Rizieq. Namun upaya polisi mengajukan permohonan red notice atas Rizieq ditolak Interpol. Sementara Firza yang berada di Tanah Air, harus bolak-balik memenuhi panggilan penyidik untuk menjalani proses hukum atas kasus chat porno tersebut dan menyaksikan berkasnya bolak-balik antara kepolisian dan kejaksaan.

Pengacara Rizieq, Sugito Atmo Parwiro menegaskan kliennya Habib Rizieq akan pulang ke Indonesia, namun Rizieq meminta rekonsiliasi dengan pemerintah pasalnya kasusnya sarat muatan politis. Permintaan rekonsiliasi itu tak dihiraukan. Polisi tetap memproses hukum Rizieq sepulangnya dari Arab Saudi.

SAKSI kasus dugaan penyebaran konten pornografi Firza Husein tiba di Ditreskrimsus Polda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan (tribunnews.com)

Sekitar awal Juni Persaudaraan Alumni (PA) 212 menghembuskan kabar kasus chat porno yang menjerat b Rizieq juga bernasib sama seperti kasus penodaan Pancasila. Pihak PA 212 pun mendesak polisi mengumumkan status perkara chat porno itu sejelas-jelasnya.

Namun ketika itu kepolisian menyampaikan penghentian kasus chat porno bisa sebuah kemungkinan. Pasalnya penyidik diminta melengkapi berkas dengan memeriksa pengunggah konten porno di situs baladacintarizieq.

Baru kemudian pada 15 Juni 2018, bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri, Rizieq membuat video yang didalamnya berisi rasa syukur dan pengakuan mengenai kasus chat mesum dihentikan oleh Polda Metro Jaya. Dia mengaku sudah memegang SP3 asli.

Pengakuan itu masih menjadi klaim sepihak karena kepolisian belum mau berkomentar. Karo Penmas Mabes Polri, Brigjen Pol Mohammad Iqbal akhirnya mengeluarkan pernyataan yang membenarkan penyidikan atas  kasus chat porno Rizieq telah dihentikan.

Kuasa hukum Rizieq, Kapitra Ampera mengklaim diterbitkannya SP3 atas kasus chat berkonten pornografi karena memang tidak terbukti. Sebab, pembuat dan pengupload konten tersebut tidak ditemukan. Dengan adanya SP3 ini maka semua pihak yang ditersangkakan dalam kasus chat fitnah ini dihentikan penyidikannya. Menurutnya, tidak ditemukannya bukti yang cukup, langkah kepolisian dengan mengeluarkan SP3 merupakan hal yang sudah sesuai dengan UU. Ia pun mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh pihak kepolisian tersebut.

Meskipun demikian, Ketua DPP Partai Gerindra Ahmad Riza Patria menduga ada muatan politis dalam penerbitan SP3 ini. Menurutnya, SP3 itu mengesankan pemerintah ingin mencoba berbuat baik kepada ulama. Apalagi pada era pemerintahan saat ini banyak ulama dipanggil, ditangkap atau diperiksa. Selain itu, ada juga ulama yang dianiaya, bahkan dibunuh.

Menanggapi polemik yang muncul, Wakapolri Komjen Syafruddin menekankan penerbitan SP3 kasus ini merupakan kewenangan penyidik Polda Metro Jaya. Syafruddin memastikan tidak ada intervensi dari siapapun. Dia yakin penyidik punya alasan kuat untuk menerbitkan SP3.

“Semua proses hukum adalah sistem peradilan, sistem di Indonesia adalah ada di penyidik. Bukan domainnya Kapolri, Wakapolri. Apapun yang dilakukan penyidik adalah kewenangan mereka, tidak ada intervensi sedikit pun dari kita,” ujar Syafruddin.

Wakil Presiden Jusuf Kalla pun ikut angkat bicara. Jusuf Kalla menyebut penghentian kasus lantaran polisi tidak temukan bukti yang cukup, sehingga penerbitan SP3 dianggapnya sebagai langkah yang tepat. “Itu kan SP3 dikeluarkan penyidik polisi. Kalau polisi tidak temukan bukti cukup ya harus SP3,” pungkas Jusuf Kalla.

AFHKAR