Topeng

EDRINA MAHARANI PUSPITA, Kriminologi UI

Dia menatap langit pagi yang cerah dengan sinar mentari kekuningan, lalu tersenyum kecut kearah dalam rumahnya seraya bertanya – tanya didalam hati apa salah dirinya. Seperti anak terbuang yang diadopsi oleh orang tua yang jahat, itulah hidupnya, hidup dari seorang gadis kecil bernama Astrid Ariandi. Astrid tinggal di pulau Sumatra bersama dengan kedua orang tua kandung dan adiknya yang bernama Arumi. Arumi sangat disayang oleh kedua orang tuanya, berbeda dengan Astrid yang selalu salah dimata kedua orangnya dan kerap mendapatkan siksaan fisik dari orang tuanya namun Astrid tetap menghormati kedua orang tuanya. Diumurnya yang ke-12 tahun Astrid sangat mandiri dan menyangi keluarganya terutama adiknya namun hal yang sebaliknya yang ia dapatkan.

Setiap waktu menunjukkan sore hari Astrid akan diperintahkan ibunya untuk menjemput adiknya yang bernama Arumi untuk kembali ke rumah. Namun akan selalu terjadi perhelatan anatara Astrid dan Arumi seperti sore ini yang menyebabkan Astrid mendapat siksaan.

“Arumi ayuk pulang, ibu sudah memanggil” panggil Astrid.

“Ngapain sih kakak selalu ganggu aku kalau lagi main?!” jawab gadis kecil yang berselisih 3 tahun lebih muda dibanding Astrid.

“Arumi awas nanti kamu jatuh, bajumu nanti kotor, nanti ibu marah” khawatir Astrid kepada adiknya, namun tidak digubris sama sekali sekali oleh Arumi yang sedang berlari bersama temannya.

“Awww, gara – gara kakak kan aku jadi jatuh hiks” rengek Arumi yang langsung berlari kearah rumah dengan baju yang kotor. Sesampainya Astrid dirumah ia kaget karena mendapat tamparan dan jambakkan dari ibunya.

“Dasar ya anak tidak tau diuntung kau, sudah susah payah aku besarkan kau dan ginikah cara kau memperlakukan Arumi?!” Marah ibunya terhadap Astrid, Astrid masih tidak mengerti apa yang dimaksud ibunya, namun yang dia tau pasti bahwa Arumi sudah mengatakan yang tidak benar terhadap ibunya.

“Memangnya aku melakukan apa?” kesal Astrid.

“Masih bisa ya kau menjawab, sudah jelas – jelas kau mendorong adikmu sampai jatuh dan semua bajunya jadi kotor!!” masih dengan nada yang tinggi ibunya menjawab lalu setelah itu Astrid ditarik keluar oleh ibunya dan ibunya mengunci pintu rumahnya. Mau tidak mau Astrid berjalan kaki mengitari kampungnya karena biasanya ibunya akan membuka rumahnya jam 8 malam. Arumi adalah anak yang memang dasarnya tidak mudah sedih dan tidak suka mengeluh.

Saat sedang berkeliling ia melihat seekor kucing, kebetulan Astrid sangat menyukai kucing. Ia mengikuti kucing itu sampai ia tidak sadar bahwa ia telah menaiki bus, sesampainya di bus ia tidak menemukan kucing tersebut lalu ia menunggu bus berhenti untuk turun. Bus itu berhenti di daerah yang tidak diketahui oleh Astrid.Astrid terus berjalan menyusuri jalan tersebut, jalanan tersebut sepi dan tidak banyak rumah yang ada disana. Lalu dia bertemu dengan seorang bapak – bapak yang sedang membawa cangkul dan memakai caping. Lalu Astrid bertanya tentang keberadaan tempatnya sekarang kepada bapak tersebut.

“Permisi pak, ini ditempat apa ya pak namanya?” tanya Astrid. Lalu si bapak hanya menjawab dengan senyuman yang menurut Astrid lumayan menakutkan. Kemudian si bapak berkata..

“Kenapa nak? Kamu tersesat ya? Mau bapak antar pulang?”

“Boleh bapak antar saya pulang?”

“Boleh, tapi kamu ikut bapak dulu ya menaruh cangkul dirumah bapak disebelah sana” jawab bapak tersebut sambil menunjuk ke sebuah gubuk kecil didekat sawah tersebut. bapak tersebut menggandeng Astrid untuk mengikuti dirinya. Lalu sesampainya di gubuk tersebut Astrid dipersilahkan masuk, Astrid pun memperhatikan isi didalam gubuk yang menurutnya hampir tidak bisa dikatakan tempat tinggal karena tidak banyak perabotan disana, hanya terdapat tempat tidur, tape, kursi, dan meja. Namun yang membuat Astrid penasaran, banyak topeng – topeng tergantung didinding, topeng – topeng tersebut hampir mirip dengan topeng wayang, topeng reog, dan topeng – topeng lain yang berasal dari Pulau Jawa yang tidak diketahui namanya oleh Astrid. Setelah itu Astrid dipersilahkan duduk diatas kasur, bapak tadi kemudian mengambil tali dan mengikatkannya ditangan dan kaki Astrid yang Astrid sendiri masih mencerna apa yang dilakukan oleh orang tersebut. Setelah sadar Astrid memberontak namun tenaganya tidak sebanding dengan orang tersebut. Kaki tangannya diikat kesetiap sisi tempat tidur, Astrid berteriak namun orang tersebut hanya tertawa keras dan nyaring yang membuat Astrid takut, lelaki tersebut membakar sesuatu didalam mangkok yang terbuat dari tanah liat dan menyebarkan bau yang menyengat. Selain itu lelaki tersebut bernyanyi seperti sinden yang tidak dimengerti bahasanya oleh Astrid, ia menaruh mangkok tersebut dan menatap Astrid dengan tatapan yang menurut Astrid sangat mengerikan. Lalu ia berjalan mendekati Astrid dengan membuka kaos dan celananya sampai ia tidak memakai sehelai benangpun, ia lalu menindih Astrid dan menurunkan celana Astrid. Astrid masih tidak mengerti apa yang dilakukan oleh lelaki tersebut sampai akhirnya Astrid merasakan sakit yang amat sakit dikemaluannya akibat ada sesuatu yang menerobos masuk. Astrid menjerit saat itu juga.

“Aaaaaaa sakit, ampun aku mohon tolong aku, siapapun tolong aku, kumohon” teriak Astrid. Astrid bukan anak yang cengeng, namun ia menangis saat itu juga. Ia ingin muntah dalam tangis, rasa benci, rasa malu, dan ketakutan yang luar biasa. Lelaki tersebut hanya tertawa dengan keras dan nyaring sampai akhirnya lelaki tersebut berhenti dan astrid tidak sadarkan diri.

13 Tahun Kemudian…

Kilatan lampu yang bertubi – tubi menyilaukan matanya, tidak mencoba menepis atau menutupi wajahnya, ia sangat terlihat percaya diri. Tidak ingin menghindar sama sekali dari para wartawan, ia terus melanjutkan langkahnya dengan senyum yang mengembang. Ia adalah seorang Detektif Cantik yang sedang naik daun bersama timnya karena menangani kasus beberapa kasus pembunuhan yang belum terselesaikan namun terus menimbulkan korban. Ia bernama Difa Lawrence, Aqilla ditemani timnya yaitu Raynald dan Faris. Selain dibantu oleh timnya, Difa dibantu oleh Tim Kedokteran Forensik yang dikepalai oleh Dokter Cantik bernama Allaya Bramantyo Haris, Difa dan Allaya berselisih umur 5 tahun dengan Difa lebih muda dibandingkan Allaya, Allaya sendiri berumur 30 tahun namun tetap cantik seperti seumur dengan Difa.

“Allaya, apakah kau mendapatkan kejanggalan dari tubuh korban?” tanya Difa.

“Tidak dapat ditemukan apapun Dif dari tubuh yang sudah terbakar ini, apa yang dapat diharapkan?” Allaya menjawab sambil menghela nafas dan menatap Difa dengan raut wajah sedih.

“Tidak apa All, aku akan mendapatkan jalan untuk kasus ini” jawab Difa. Mereka sedang menangani kasus pembunuhan dengan cara membakar korbannya hidup – hidup di sebuah hotel. Sangat disayangkan bahwa hotel tersebut merupakan hotel yang amat biasa sehingga hanya terdapat satu CCTV yaitu didekat meja Recepcionis. Dalam CCTV tersebut terlihat korban masuk dengan seorang wanita berumur 20-an yang memiliki potongan rambut pendek, memakai kacamata, namun tidak terlihat jelas wajahnya karena tertutup oleh hoodie yang ia pakai. Sebelum ini terjadi beberapa kasus pembunuhan yang korbannya adalah laki – laki, yang pertama adalah ditemukannya mayat lelaki disebuah gudang tidak memakai sehelai benangpun dengan kondisi mengenaskan yaitu kemaluan yang terpotong, yang kedua adalah seorang laki – laki supir truk yang meninggal terlindas truknya sendiri yang lokasi kejadiannya tidak jauh dari lokasi pembunuhan laki – laki di gudang.

Flashback..

Saat sadar Astrid masih berada didalam gubuk tersebut namun tidak melihat siapapun, Astrid berjalan tertatih keluar gubuk tersebut dan sampai dipinggir jalan, namun Astrid kembali tidak sadarkan diri. Saat sadar kembali Astrid sudah berada didalam mobil, awalnya Astrid sangat ketakutan akan terjadi hal mengerikan kembali kepada dirinya, namun ternyata ia dibawa oleh teman bapaknya yang tidak sengaja menemukan Astrid di pinggir jalan tadi.

“Kamu habis darimana saja As? Kasihan Bapak Ibumu mencarimu” kata lelaki tersebut.

“Kesasar, kemarin Astrid naik bus” jawab Astrid seadanya.

Saat sampai dirumah Astrid mendapatkan omelan yang tidak berujung dari kedua orang tuanya, namun karna sudah lelah Astrid tidak menghiraukannya sama sekali. Sejak saat itu Astrid menjadi pribadi yang sangat pendiam, mudah cemas, dan mudah takut terhadap apapun. Astrid tumbuh menjadi anak yang penyendiri, tidak ingin bergaul dengan siapapun ditambah dengan keadaan orang tuanya tetap seperti itu membuat Astrid tertekan dan menyalurkannya dengan membaca buku dan menggambar. Disaat menggambar Astrid mulai membayangkan saat – saat dia membunuh orang – orang yang membuatnya kesal dan menggambarkannya, hal itu dapat membuat Astrid merasakan kelegaan pada hatinya.

Beranjak dewasapun Astrid masih tetap dengan kepribadiannya dan tidak pernah memikirkan penampilannya, sampai saat ia menyukai kakak kelasnya yang bernama Fauzi. Fauzi sangat baik terhadap Astrid awalnya, lama kelamaan Fauzi sering meminta sesuatu kepada Astrid berup barang ataupun uang. Astrid mengiyakan saja karna ia merasa bahwa itu wajar karna mereka saling mencintai.

“Astrid, besok aku ingin main kerumahmu, apakah boleh?” tanya Fauzi

“Boleh, besok akan kukenalkan dengan kedua orang tuaku dan adikku” jawab Astrid.

Keesokan harinya Fauzi mendatangi rumah Astrid yang disambut ramah oleh kedua orang tua Astrid.

“Hallo nak Fauzi, terimakasih sudah mau datang kerumah kami dan mau dengan anak tidak tau diri ini. Lihat saja ada pacarnya datang tapi penampilan seperti gelandangan begitu, malu aku punya anak seperti kau! Beda sekali dia dengan adiknya, nanti akan kukenalkan nak Fauzi dengan anak kedua kami ya” sapa ibunda Astrid.

“Iya bu tidak apa – apa” sambil tersenyum Fauzi menjawabnya dan duduk dikursi yang sudah disediakan. Setelah itu Arumi keluar dari kamarnya dan dipanggil oleh ibunya.

“Arumi sini nak, kenalkan dulu dengan nak Fauzi. Nah nak Fauzi ini Arumi adiknya Astrid, beda sekali kan dengan Astrid, Arumi ini sangat memperhatikan dirinya jadi lebih baik nak Fauzi lebih memilih Arumi dibandingkan Astrid” kata ibunda Astrid.

“Apaansi bu!” sentak Astrid.

“Apa kau bentak – bentak aku hah? Mau jadi anak durhaka kau melawan ibumu?!” jawab Ibunda Astrid. Namun saat itu juga Astrid melihat bahwa Arumi dan Fauzi bermain mata terang – terangan didepan Astrid.

Dihari – hari selanjutnya Fauzi jarang sekali mengabari Astrid, Astrid sampai harus mencari – cari Fauzi. Sampai suatu saat Astrid menemukan sepatu Fauzi didepan rumahnya, lalu ia menguping percakapan Fauzi dengan seseorang yang saat dia sadari adalah Arumi.

“Kapan kakak mau putusin kak Astrid?” tanya Arumi.

“Iya secepatnya kakak akan putusin Astrid, lagian kakak sudah muak dengan dia. Penampilannya acak acakan, tidak bisa disebut perempuan kalau seperti itu, tidak punya harga diri” jawab Fauzi.

Astrid tidak langsung masuk kedalam rumah, namun ia berbalik pergi dan mengumpat kedua pasangan itu.

Flashback end…

Perempuan itu tersenyum senang, penantiannya selama ini terwujud. Dimana ia akan melenyapkan orang masa lalunya yang sangat ia benci, yang membuat dirinya menjadi hina. Lelaki bertopeng yang sudah merenggut harta satu – satunya yang bisa ia jadikan senjata untuk dihargai oleh seseorang. Karna selama hidupnya sampai suatu peristiwa yang menurutnya adalah keajaiban, belum pernah ada yang menghargainya atau menyayanginya.

“Difa, kudengar orang tuamu sedang sakit ya?” tanya Allaya

“Iya, orang tua angkatku sedang sakit.” Jawab Difa.

“Orang tua angkat?” tanya Allaya lagi.

“Iya, aku diadopsi oleh mereka saat aku lulus SMA. Mereka baru saja kehilangan anaknya, dan aku adalah anak yang ditelantarkan oleh kedua orang tuaku, mereka lebih memilih merawat adikku seumur hidupnya dibandingkan dengan melihatku saja” jawab Difa dengan wajah datarnya. Allaya menunjukkan wajah sedihnya dan menepuk – nepuk bahu Difa.

Difa sedang melamun di meja kerjanya, ia berumur 25 tahun, dimana didalam timnya ada seseorang yang pernah gagal menjalin hubungan dengannya yaitu Faris. Faris tidur dengan adik dari Difa dan Difa menemukannya sendiri di Villa biasa tempatnya dan Faris menginap. Mengingat – ngingat itu membuka luka dihati Difa. Lalu ia sadar dengan pekerjaannya, kasusnya menemukan titik terang dimana Sofyan, korban laki – laki yang dibakar di hotel itu satu kampung dengan Fauzi, korban laki – laki yang tewas di gedung dengan kemaluan yang putus. Dan mereka mempunyai titik temu di keluarga Astrid, dimana Astrid pernah dituduh menjadi pelacurnya Sofyan dan Fauzi yang pernah menjalin hubungan dengan Astrid, namun sekarang keberadaan Astrid tidak diketahui, ia menghilang bagai ditelan bumi setelah ia tidak sengaja mendorong pemuda didesanya ke sungai saat ia berada didekat sungai. Semua warga dikampung menyebutnya pembunuh, padahal ia hanya melindungi dirinya yang hampir diperkosa oleh pemuda tersebut.

Satu titik terang lagi yang mereka temukan adalah buku harian Astrid, ia menuliskan akan membalaskan dendamnya kepada orang – orang yang telah melukainya salah satunya adalah lelaki pembawa cangkul dari masa lalunya. Disana Astrid menuliskan semua ciri – ciri dan tempat tinggal terdahulu laki – laki pembawa Cangkul itu. Buku harian tersebut ditemukan oleh Raynald yang menyelidiki rumah kediaman Astrid masa lalu.

Perempuan itu sudah dapat menangkap lelaki pembawa cangkul tersebut, dengan senyum kemenangan ia menggantung lelaki tersebut dengan posisi terbalik.

“Hahahahaha tidak kusangka kita akan bertemu lagi ya gadis kecil” Kata lelaki tersebut.

“Diam kau Pak Tua, bersenang – senanglah sekarang karena sebentar lagi kau akan merasakan kejamnya dunia ini haha” jawab perempuan tersebut.

“Itu tidak akan membuat aku ketakutan seperti saat dulu aku memperkosamu cantik, haha”

“Brengsek kau!” Perempuan itu menendang kepala lelaki tersebut. Setelah itu sang perempuan menguliti si lelaki hidup hidup dengan posisi menggantung terbalik, dimana dalam posisi ini orang tidak akan bisa pingsan atau dengan kata lain akan terus sadar sampai ia benar – benar mati”

Setelah puas dengan hasil karyanya, iapun kembali kerumahnya dengan senang. Melepas kacamata yang ia pakai, lalu ia memasang softlens bening ke matanya, memakai wig yang membuat rambutnya terlihat panjang dan mengenakan jas rumah sakitnya sambil berkata

“Akan ada tugas yang menyenangkan setelah ini, aku harus memberikan hasil otopsi yang sangat memuaskan untuk mereka” ia berbicara dengan dirinya sendiri di cermin sambil tersenyum manis. Ya, ia adalah Allaya Bramantyo Haris. Dahulu setelah ia pergi dari desanya ia diadopsi oleh seorang psikiater ternama yang sekaranf telah meninggal, sebelum ia meninggal ia mempunya banyak pasien yang salah satunya adalah seorang Dokter Forensik bernama Allaya tersebut namun allaya meninggal karena penyakit Skizofrenia yang dia derita membuatnya harus meninggal. Lalu Psikiater tersebut mengubah jati diri Astrid menjadi Allaya dengan Astrid yang mengubah penampilannya menjadi semirip mungkin dengan Allaya dan mengajari Astrid dunia kedokteran.

Dan semua kasus itupun tidak pernah menemukan titik temunya, namun setelah kasus itu berakhir tidak ada kasus tragis lain yang terjadi.