Serbuan Arapaima di Brantas

Ikan predator berukuran raksasa dilepasliarkan oleh oknum tak bertanggungjawab di Sungai Brantas. Mengganggu ekosistem.

Masyarakat di sekitar sungai Brantas terkejut dengan ditemukannya ikan raksasa beberapa waktu lalu. Belakangan diketahui, ikan tersebut adalah ikan Arapaima yang habitatnya di luar Indonesia. Ikan itu sengaja dibuang oleh pemiliknya.

Habitat asli spesies ikan arapaima berasal dari Sungai Amazon yang mempunyai iklim tropis. “Sehingga penyebarannya ada pada daerah iklim tropis, di antaranya Indonesia, Australia bagian utara, Papua Nugini, Amerika Selatan,” ucap Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Hasil Perikanan KKP, Rina, di Jakarta, Kamis, 28 Juni 2018, diwartakan Antara.

Dengan demikian, peluang penyebaran di Indonesia cukup tinggi. Sebab, pada prinsipnya penyebaran secara alami bisa terjadi pada daerah yang beriklim sama dengan habitat aslinya, padahal keseluruhan spesies Arapaima sp itu bersifat invasif.

Selain itu, ikan Arapaima gigas juga adalah jenis ikan predator yang bisa memakan hampir semua hewan yang bisa ditelan, terutama ikan yang berukuran kecil dan satwa lain yang ada di permukaan air. Dalam piramida rantai makanan, ikan arapaima menempati pucuk piramida di ekosistem perairan tawar setempat.

Arapaima gigas termasuk ikan bersifat kompetitor. Artinya, mereka bersaing dengan jenis ikan lain untuk mendapatkan makanan terutama memangsa ikan yang lebih kecil.

Disebut bersifat karnivora, makanan utama ikan Arapaima sp adalah ikan-ikan yang ukurannya lebih kecil, meskipun terkadang ikan tersebut bisa memakan unggas, katak, atau serangga yang berada di dekat permukaan air.

Ikan Arapaima gigas juga dikenal sebagai pembawa parasit golongan protozoa, serta dapat melukai manusia, di mana saat dewasa ukuran mereka bisa mencapai lebih dari dua meter dengan berat tubuh lebih dari 200 kilogram.

ikan Arapaima Gigas raksasa yang berhasil ditangkap penduduk di Sungai Brantas (theworldnews.net)

Terkait itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyebut pelanggaran bagi warga Indonesia jika diketahui memelihara ikan arapaima (Arapaima gigas) urusannya dengan penegak hukum.

Dalam kesempatan di Surabaya, Jawa Timur, Senin, 2 Juli 2018, Menteri Susi menjelaskan yang menjadi kewenangan di kementeriannya adalah mengimbau bagi warga Indonesia pemelihara ikan arapaima agar segera menyerahkannya ke petugas di instansi yang berada di bawah kementeriannya di daerah sekitar tempat tinggalnya.

Keberadaan ikan jenis predator berukuran besar asal Sungai Amazon, Amerika Selatan, itu sebelumnya terpantau berenang secara berkelompok di aliran Sungai Brantas, Jawa Timur. Puluhan ikan arapaima sempat ditangkap oleh warga Desa Mliriprowo, Kecamatan Tarik, Kabupaten Sidoarjo, provinsi setempat, pada 26 dan 27 Juni lalu.

Jumlahnya diperkirakan mencapai 30 ekor, yang diduga milik seorang penghobi ikan, yang terlepas atau sengaja dilepas dari kolamnya.

Susi mengungkapkan, jika ikan jenis air tawar yang disebut terbesar di dunia itu oleh pemeliharanya dilepas di sungai, dipastikan akan menghabisi populasi ikan. “Karenanya saya imbau bagi masyarakat yang memelihara ikan arapaima untuk menyerahkannya secara sukarela kepada petugas kami yang ada di daerah dekat tempat tinggalnya,” ucapnya, dilansir Antara.

Tentu saja, pelanggaran bagi masyarakat Indonesia yang diketahui memelihara ikan predator ini bukan menjadi wewenang Kementerian Kelautan dan Perikanan yang dipimpinnya. “Itu urusannya penegak hukum,” imbuh Menteri Susi.

Menyikapi kejadian ini, pemerintah di antaranya telah menerbitkan Surat Edaran tertanggal 29 Juni 2018, yang memerintahkan Balai Besar Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) di seluruh daerah Indonesia untuk membuka pos komando (Posko) pelaporan dan penyerahan sukarela bagi masyarakat pemelihara ikan arapaima.

Tentang bahaya ikan Arapaima gigas juga diungkapkan Dosen Departemen Manajemen Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr Mukhlis Kamal. “Karena habitat aslinya adalah perairan tropis sehingga akan sangat adaptif di perairan Indonesia yang juga beriklim tropis,” kata Mukhlis.

Ia menjelaskan, ikan Arapaima gigas memiliki habitat asli adalah daerah aliran sungai (DA) Amazon, Amerika Selatan. Memiliki ukuran tubuh besar dibanding ikan tawar lainnya, menjadi kompetitor ruang bagi ikan-ikan lainnya.

“Mulutnya yang besar serta gigi yang besar dan tajam dapat dipastikan ikan ini termasuk predator yang akan memakan semua jenis ikan,” katanya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, potensi reproduksi ikan Arapaima juga tinggi, sekali bertelur bisa mencapai 10-20 ribu butir. Bahkan, memiliki kemampuan hidup dalam lingkungan perairan yang kekurangan oksigen.

Pencarian Ikan Arapaima di Sungai Dungus, Sidoarjo (FaktualNews.co/Alfan Imroni)

Selain bernapas dengan insang, lanjutnya, ikan Arapaima juga memiliki kemampuan benapas menggunakan organ lain seperti paru-paru yang merupakan transformasi dari gelembung gas.

Menurutnya, penduduk asli di wilayah DAS Amazon menyebut ikan ini dengan sebutan pirarucu yang berarti ikan merah (pira=ikan, rucu=merah). “Ikan ini menjadi sumber protein hewan dari perairan tawar dari kegiatan budidaya,” katanya.

Ia mengatakan, ikan ini masuk ke Indonesia untuk dipelihara di akuarium atau kolam, menjadi daya tarik pengunjung di lokasi wisata. Ikan tersebut menjadi sangat menarik, karena menjadi ikan air tawar terbesar di dunia. Panjangnya dapat mencapai tiga meter.

Karena ukurannya yang besar, dan bukan ikan asli Indonesia, ikan tersebut tidak memiliki pemangsa (predator) alami di alam. Hal itu menjadi pertimbangan Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Peraturan Menteri KP No 41/2014 untuk melarang ikan tersebut masuk ke Indonesia.

“Ikan Arapaima gigas termasuk salah satu jenis ikan invasif yang dilarang masuk ke Indonesia,” kata Mukhlis.

Lembaga Konservasi Lahan Basah (Ecoton) menyebut, pemilik Ikan Arapaima gigas memberikan keterangan palsu tentang jumlah arapaima yang disebar di aliran Sungai Brantas.

Sebab, Minggu 8 Juli 2018 kemarin, dua ekor ikan predator itu kembali ditemukan warga di Desa Bangsri, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo, Jawa Timur. “Pemilik ikan arapaima telah memberikan keterangan palsu. Pemerintah harus bertindak tegas,” kata Rully Mustika Adya dari Departemen Hukum Ecoton, Senin 9 Juli 2018.

Semula, sambung dia, pemilik ikan arapaima kepada penyidik Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu Surabaya menyebut ada delapan ekor yang dilepas. Kemudian diralat 18 ekor. “Tapi sampai kemarin yang ditemukan sampai 20 ekor,” ujar Rully.

Balai Karantina Ikan Dan Pengendalian Mutu Surabaya sendiri sudah memeriksa sejumlah saksi atas beredarnya ikan predator tersebut. Termasuk seorang warga Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Mojokerto, yang disebut seorang kolektor ikan Arapaima gigas.

Sampai hari ini, kolektor tersebut masih memiliki 30 ekor ikan arapaima gigas di rumahnya. Namun, ikan-ikan itu sudah diserahkan ke pemerintah dalam hal ini Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu. Tersebarnya ikan arapaima di aliran Sungai Brantas disebut akan merusak ekosistem karena sifat ikan arapaima yang predator.

IIEN SOEPOMO

Comments are closed.