PSIKOPAT KECIL

ARDIN WIRAYUDA AQMA Kriminologi UI

 

Kumpulan asap mengisi ruangan, 7 orang duduk melingkari sebuah meja dengan lampu redup sebagai alat penerangannya. Rokok-rokok itu sudah habis, dan kertas kertas berserakan diatas meja.

“Sudah satu Bulan!” Seseorang berjanggut putih berteriak dan berdiri didepan sebuah papan berwarna putih. “Kalian semua tidak becus! Apa aku sendiri yang harus turun tangan?”  Pria itu melanjutkan kata katanya sambil membanting beberapa kertas keatas meja.

“B-bukan begitu pak, kami sudah melakukan semua yang kami mampu. Namun—“ Pria berambut coklat berbaju putih  mencoba untuk memberi penjelasan sebelum omongannya terpotong.

“DIAM!! Jika belum ketahuan siapa pembunuhnya maka kalian semua tidak berusaha maksimal” Pria itu berteriak sambil menunjuk wajah pria berambut coklat yang ada didepannya. “Tapi pak, ki-“ Lagi-lagi omongan pria berambut coklat itu terpotong, kali ini ketukan pintu yang menghentikan omongannya.

“Tok-tok-tok”

“Maaf pak Rahmat, ini rokoknya sama kembaliannya” Sambil membuka pintu ruangan seseorang masuk membawa kantung plastic berwarna hitam. “Ya taruh saja diatas sana, makasih Tur” Jawab Pria berjanggut putih.

Mastur menaruh kantong plastic hitam diatas meja sambil mencuri pandang kearah kertas kertas yang ada di atas meja. Kemudian dia berjalan keluar ruangan sambil mencuri pandang sekali lagi kearah papan tulis, lalu berjalan keluar meninggalkan ruangan.

Orang-orang didalam ruangan pun melanjutkan pembicaraan mereka, suara mereka terdengar jelas hingga keluar ruangan. Mastur duduk persis disebuah kursi disamping ruangan itu sambil mendengarkan pembicaraan ke-7 orang itu. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam dan tidak ada lagi pekerjaan untuk seorang Office Boy di kantor polisi. Obrolan malam pun dimulai, dan Mastur mengeluarkan buku miliknya sambil mendengarkan dengan penuh antusias.

“Pembunuhan terjadi sekitar pukul 14.30 sampai dengan 18.00 pak”

“Bagaimana bisa? Itu sore hari, seharusnya banyak saksi!”

“Betul pak, tapi setiap pembunuhan bersih, tidak ada saksi”

“Apa motifnya? Curanmor?”

“Bukan pak, hampir setiap kendaraan roda 2 ditinggal oleh pelaku ditempat yang jauh dari tempat kejadian”

“Bagaimana dengan senjata yang digunakan korban?”

“Sepertinya golok pak, semua korban tergorok dileher mereka”

“Sebuah golok ya.. Bagaimana dengan barang-barang berharga korban?”

“Semuanya lengkap pak, tidak ada barang berharga korban yang hilang satu pun. Dan hampir semua korban dibunuh diatas sebuah motor”

“Bagaimana bisa? Kalian sudah cek hubungan antar korban?”

“Sudah pak. Tidak ada hubungan,antar ke 12 korban, mereka hanya pengendara motor biasa. dan para korban dikenal sebagai orang-orang yang baik”

“Sudahlah, kita lanjutkan rapat esok hari”

Mendengar perkataan itu, mastur langsung bergegas kembali menuju ruang kerjanya, yaitu ruang OFFICEBOY sambil berpura-pura membuat sebuah kopi.

“Udah selesai pak Rahmat?” tanya Mastur pada pria berjanggut yang keluar ruangan paling akhir.

“Sudah tur, coba kertas-kertas diatas meja kamu rapihkan lagi ya nanti kamu letakkan diruangan saya”

“Oke pak!” Jawab mastur penuh semangat.

Mastur masuk kedalam ruang rapat itu, dinyalakannya tombol lampu dan ia mulai memunguti kertas-kertas yang berjatuhan. Sebelum diletakkan di ruang pak Rahmat, dia sempat membaca kertas-kertas yang berserakan itu.

Total kertas ada 12, isinya adalah data tempat korban ditemukan, data tempat motor korban, dan data waktu kematian. ke-3 hal itu dia catat dengan sangat cepat dan dimasukkan kedalam tas.

Korban 1 Ditemukan di jalan Padang, motor dijalan Haji Ali.  Pkl: 14.50 SENIN

Korban 2 Ditemukan di jalan Patimura motor dijalan Juanda.    Pkl: 17.20 SELASA

Korban 3 Ditemukan di Jalan Antasari, motor dijalan Panglima. Pkl: 18.00 JUMAT

Korban 4 Ditemukan di Jalan Semarang, motor dijalan Pelabuhan. Pkl: 14.45 SENIN

Korban 5 Ditemukan di jalan Sunda, motor dijalan Mandar.  Pkl: 15.05 RABU

Korban 6 Ditemukan di jalan Dewantara, motor dijalan Demak. Pkl: 17.05 KAMIS

Korban 7 Ditemukan di jalan Padang, motor dijalan Juanda   Pkl: 14.30 JUMAT

Korban 8 Ditemukan di jalan Ahmad Dahlan, motor dijalan Kopral Pkl: 17.00 SENIN

Korban 9 Ditemukan di jalan Riau, motor dijalan Fatimah Pkl: 14.35 SELASA

Korban 10 Ditemukan di jalan Soekarno, motor dijalan Pelabuhan Pkl: 14.55 KAMIS

Korban 11 Ditemukan di jalan Aceh, motor dijalan Haji Rhoma Pkl:15.00 SENIN

Korban 12 Ditemukan di jalan Maluku, motor dijalan Pelabuhan Pkl.15.20 RABU

Data itu tak langsung diolah oleh mastur, dia membereskan ruangan itu dengan cepat dan berjalan pulang. Menunggu angkot didepan sebuah warung internet dia duduk sambil membaca poster yang ada didepannya “KNIFE IN DAY” “Rasakan ketegangan bertahan hidup hanya dengan peralatan rumah”. Dia tidak peduli, seakan-akan itu hanyalah permainan biasa.

Sesampainya dirumah, dia terfikir akan poster yang tadi ada di depannya, dan dia mengambil data-data yang sudah dia tulis dikertas kemudian ia satukan. Dengan sangat cepat dia tahu ciri–ciri pelaku

Keesokan harinya dikantor.

Mastur mengetuk ruangan pak rahmat sambil membawa kertas–kertas miliknya.

“Selamat pagi pak!” Mastur memunculkan kepalanya dari balik pintu

“Ya tur, ada apa?” tanya pak rahmat

“Anu pak.. Boleh ngobrol sebentar?”

“Kenapa Tur? Anak kamu sakit?”

“Ndak pak anu, boleh saya duduk pak” Mastur menunjuk kearah kursi didepan meja pak Rahmat.

“Oh boleh, kenapa engga. Duduk aja”

“Ini pak, saya punya teori dan ciri–ciri pelaku” Mastur duduk sambil memberikan kertas–kertas yang dia tulis rapih

“HAH!” “Kunci pintu, lalu kamu jelaskan”

Mastur mengunci pintu ruangan itu dan mulai menjelaskan teorinya.

Semua kejadian di jalan dengan nama daerah terjadi antara pukul : 14.30 – 15.20

Semua kejadian di jalan dengan nama pahlawan terjadi antara pukul 17.20 – 18.00

Ada 3 buah sekolah dijalan dengan nama daerah, yaitu SD, SMP,dan SMA. Kebetulan anak mastur ada yang sedang menjalani pendidikan di 3 tempat itu.

SD kelas 6, SMP kelas 3, dan SMA kelas 1. Jadi dia sangat paham.

Anak sekolah   SD  pulang pukul : 12.00

Anak sekolah SMA pulang pukul :15.00

Anak sekolah SMP pulang pukul :14.00

Anak sekolah SMP kelas 3 pulang pukul : 15.40 karena ada yang namanya ‘pemantapan’ atau belajar tambahan untuk mengejar ujian nasional.

Sebuah permainan baru dirilis bulan lalu, namannya “Knife n day” sebuah permainan pembunuhan dengan menggunakan pisau. Dan di jalan dengan nama– nama pahlawan terdapat warung internet yang berjajar sepanjang jalan disana.

“Maaf pak, sudah jelas?”

“Lalu bagaimana cara memancing pelaku itu keluar?” Tanya pak Rahmat

“Pura– pura bikin questioner aja pak kesekolah itu hanya untuk anak smp kelas 2,1”

“Ah! Kamu sok tau questioner aja” jawab pak Rahmat

“Bener pak, anak–anak yang mengerti ‘knife n day’ kita kumpulkan dan kita geledah setelah itu”

“MASTUR! Hari ini kamu saya pecat!” Pak Rahmat mengumpulkan berkas miliknya dan berdiri dari duduknya

“KOK BEGITU PAK?” Nada mastur meninggi ia tak percaya bahwa ia bisa dipecat, padahal dia sudah menyelesaikan kasus yang dianggap polisi sulit.

“Hari ini kamu saya angkat jadi staff ahli saya, sekarang ikut saya ke ruang rapat”

3 hari kemudian pelaku ditangkap, dengan barang bukti sebuah pisau dapur dengan sarungnya ditemukan didalam tas anak itu.