Loly Candy’s Masih Beraksi

Meski Polisi telah menangkap bahkan pelaku telah menjalani persidangan, namun jaringan pornografi yang menyasar anak-anak masih beroperasi. Pemain baru bermunculan.

Polisi menangkap 3 tersangka baru terkait pornografi anak melalui akun Facebook Official Loly Candy’s. Ketiga pelaku mengincar anak-anak di bawah umur sebagai sasaran pornografi di dunia maya.

“Dari hasil pemeriksaan pelaku WH bersama teman-teman di grupnya berusaha mencari korban usia anak-anak melalui sekolah TK (taman kanak-kanak) dan KB (kelompok bermain),” ujar Kasubdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Roberto Pasaribu dalam keterangannya.

WH (19) ditangkap tim Sundit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya di kawasan Kedaung RT 001/001 Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, pada Rabu (20/6) lalu. Selain WH, polisi juga menangkap AD dan dan IW. “Dari hasil pemeriksaan diakui oleh tersangka WH bahwa benar sejak 2016 yang bersangkutan bergabung ke grup official Loly Candy, kemudian keluar grup karena mengetahui bahwa admin tertangkap,” paparnya.

Disita polisi dari tersangka, berupa CPU dan ponsel. Dari hasil pemeriksaan CPU tersebut, ditemukan ada ribuan konten video dan gambar porno dengan objek anak di bawah umur. “Ditemukan di percakapan grup WA dalam handphone milik tersangka dan hardisk CPU yang telah disita oleh penyidik,” ucapnya.

Polisi saat ini masih mengembangkan kasus tersebut. Polisi juga masih menyelidiki sumber video dan gambar tersebut. “Saat ini sedang dikembangkan untuk mencari sumber gambar dan video tersebut serta pelaku lainnya yang diduga mencapai puluhan pelaku,” tuturnya.

“Kita jadi begini, kemarin kita melakukan penangkapan yang Loly Candy’s yang kasusnya tahun 2017 bulan Maret. Itu kan ditangkap ada empat tersangka. Ada banyak channel, ada 40 channel di mana satu channel itu ada 200 anggota yang tergabung dalam 63 negara,” kata Kanit III Subdit Cyber Ditreskrimsus Polda Metro Jaya Kompol Haerudin di Polda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta.

Haerudin mengatakan Polri langsung berkoordinasi dengan FBI untuk melacak keberadaan anggota tersebut. Dari hasil penyelidikan, polisi akhirnya menangkap tiga pelaku yang berada di Indonesia. “Setelah itu diolah sama FBI data tersebut dikasihkan kembali ke Polda Metro Jaya dan beberapa negara. Ada beberapa negara yang telah melakukan penangkapan, Chile, Ekuador, Guatemala itu sudah melakukan penangkapan ada 13 orang. Kita, setelah kita dikasihkan lagi data dan kita olah, didapatlah tiga tersangka ini. Jadi pengembangan dari awal,” ujar dia.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono saat konprensi pers kasus jaringan dan member FB Loly Candy yang menyajikan konten pornografi anak di Mapolda Metro jaya (liputan6.com)

Menurut Haerudin, ketiga orang itu tidak kenal satu sama lain. Dari hasil pemeriksaan sementara, mereka diduga masih sebatas penyebar konten pornografi saja. “Dia hanya menyebarkan. Admin keluar, masukkan anggota. Tapi tiga ini nggak saling kenal nih, jadi mereka masing-masing membuat grupnya,” tuturnya.

Para pelaku dijerat dengan Pasal 27 ayat 1 juncto Pasal 45 ayat 1 UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 11/2008 tentang ITE dan/atau Pasal 4 ayat 1 juncto Pasal 29 dan/atau Pasal 4 ayat 2 juncto Pasal 30 UU RI Nomor 44/2008 tentang Pornografi dan/atau Pasal 76D, Pasal 81, dan/atau Pasal 76E juncto Pasal 82 dan/atau Pasal 76 juncto Pasal 88 UU No 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 5 miliar.

Perburuan terhadap pelaku pornografi Loly Candy’s tak hanya dilakukan oleh Polri. Sejumlah negara melakukan perburuan terhadap pelaku penyebaran pornografi anak yang tergabung dalam jaringan Loly Candy’s. Kepolisian Guatemala salah satunya, berhasil menangkap 13 pelaku.

Kasus pornografi anak yang pernah diungkap oleh tim Subdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya ini dilaporkan ke pihak Federal Bureau of Investigation (FBI), mengingat member dari grup Loly Candy’s ini tersebar di 63 negara.

“Dari hasil kerja sama tersebut telah dilakukan operasi kepolisian secara serentak di 23 negara dan yang sudah berhasil melakukan penangkapan di antaranya El-Salvador, Chile, dan beberapa hari yang lalu oleh Kepolisian Guatemala dengan menangkap 13 orang tersangka hasil dari pengembangan kasus Loly Candy Facebook yang diungkap oleh Polda Metro Jaya ini,” jelas Direktur Reskrimsus Polda Metro Jaya Kombes Adi Deriyan.

Subdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya meminta bantuan melalui major cyber crimes unit (MCCU) FBI ini pada 2017 lalu. Di mana saat itu Polri menjadi negara anggota satuan tugas violent crimes against children international task force (VCACITF).

Hal ini dilakukan guna memudahkan koordinasi ke negara-negara yang diduga menjadi lokasi keberadaan para pelaku. Sementara MCCU FBI diminta untuk mengkoordinasikan ke Facebook dan WhatsApp terkait data-data yang diperoleh kepolisian tersebut.

Kepolisian Guatemala, Meksiko, Chile, El-Savador dan Paraguay mengadakan operasi untuk menindak lanjuti informasi dari Polri yang telah lebih dahulu mengungkap kasus tersebut. “Yang sudah berhasil melakukan operasi adalah Guatemala di mana dari 17 data pelaku ditangkap 13 (orang), El-Salvador dari 10 data pelaku ditangkap 2 (orang) dan Chile, Paraguay dan Argentina telah menangkap 1 pelaku,” ujarnya.

Jaringan Loly Candy’s ini memiliki sekitar 200 member yang tersebar di 63 negara, termasuk Indonesia salah satunya. Mereka mendistribusikan konten foto dan video porno melibatkan anak di bawah umur melalui grup WhatsApp ataupun Telegram messages.

“Ditemukan ada 40 grup dan channel dengan anggota per grup atau channel berkisar 200 anggota dari 63 negara (berdasarkan kode nomor telepon yang dipergunakan),” tutur Kasubdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Roberto Pasaribu.

Tim Subdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya sendiri telah berhasil menangkap 5 tersangka yang mendistribusikan konten pornografi anak melalui akun grup private Facebook ‘Official Loly Candy’s’ pada 2017 lalu. Kelimanya adalah W alias Snorlax (27), DS alias Illu Inaya (24), DF alias T-key (17) dan SHDT (16) dan AAJ (21).

Beberapa dari kelimanya telah diadili. Grup Facebook private itu dibuat sejak September 2016 lalu dan pernah memiliki 7.479 anggota di dalamnya. Kasus tersebut terus berkembang. Polisi kemudian menangkap salah satu pelaku berinisial WH yang menggunakan nama akun FB williamfernando886.

JOKO MARDIKO