Karena Bayinya Jadi Buta, Orang Tua Gugat RS Omni Internasional

Jared mengalami buta permanen. Jayden menderita kerusakan mata silinder 2. Rumah Sakit Omni Internasional Tangerang dituding bertanggung jawab atas kerusakan mata bayi kembar berusia satu tahun itu.

Juliana Dharmati, ibunda Jared dan Jayden, mengatakan, kerusakan mata putra kembarnya terjadi diduga akibat kelambanan perawatan RS Omni saat membantu persalinannya setahun silam.

Atas kondisi itu, Juliana sempat membawa Jared dan Jayden berobat ke rumah sakit di Australia. Namun dokter di Australia mengatakan, kerusakan mata keduanya tak dapat disembuhkan. Itulah mengapa Juliana dan suaminya, Kiki Kurniadi menggugat RS Omni atas tuduhan kelalaian yang mengakibatkan seseorangt cacat.

Gugatan telah didaftarkan akhir pekan lalu. Kemarin, Senin 15 Juni 2009, selama lebih dari lima jam, Juliana dan Kiki memberikan keterangan kepada penyidik kepolisian terkait kronologi kerusakan mata Jared dan Jayden.

Sementara Direktur RS Omni Internasional, Bina Ratna, membantah, tim dokter rumah sakitnya yang menangani persalinan Jared dan Jayden melakukan malpraktik. Penanganan bayi kembar yang dilahirkan prematur itu sudah sesuai dengan standar operasional prosedur atau SOP.

Bina mengatakan, tim dokter sudah memberi tahu keluarga mengenai risiko gangguan penglihatan pada bayi prematur. Penanganan medis untuk bayi prematur juga telah dilakukan dengan terapi inkubator selama 40 hari dan pemberian oksigen.

Jared dan Jayden terlahir prematur sekitar setahun lalu. Mereka terlahir 10 minggu sebelum jadwal kelahiran normalnya. Kala itu sang ibu sudah mengalami pecah ketuban sehingga bayi harus dikeluarkan. Diduga akibat kelambanan penanganan, Jared mengalami buta permanen, sedangkan Jayded silinder 2.

Kepolisian Polda Metro Jaya segera memintai keterangan dari saksi ahli dalam kasus dugaan kelalaian yang dilakukan Rumah Sakit Omni, Alam Sutra, Tangerang, dalam menangani bayi kembar prematur Jared dan Jayden.

“Saksi ahli dari Ikatan Dokter Indonesia akan dimintai pendapat terkait prosedur penangan bayi prematur,” ujar Kepala Satuan Remaja, Anak dan Wanita, Ajun Komisari Besar Agustinus Pangaribuan, Kamis 25 Juni 2009.

Menurutnya, saksi akan dimintai keterangan untuk menjelaskan prosedur penanganan bayi prematur. Tapi dirinya belum mau memastikan waktu pemeriksaan saksi ahli tersebut.

“Penanganan Rumah Sakit Omni sudah sesuai dengan prosedur atau belum,” ujarnya lagi.

Enam saksi yang terlibat langsung dalam persoalan itu sudah dimintai keterangan. Baik dari pihak keluarga dan dokter yang menangani korban setelah keluar dari Rumah Sakit Omni Internasional, Alam Sutera Tangerang.

“Dokter Rumah Sakit Aini dan Rumah Sakit Bintaro yang menangani korban setelah keluar dari rumah sakit,” katanya