Intelijen Kejatisu Kembali Bekuk Buronan Korupsi

Asintel Leo Simanjuntak Ingin Kejatisu Zero Tunggakan Eksekusi Badan

Tim Intelijen Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) kembali berhasil menangkap buornan terpidana kasus korupsi. Keberhasilan ini tidak terlepas dari kegigihan tim dibawah komando Asintel Leo Simanjuntak yang gencar memburu tersangka dan terpidana kasus rasuah yang melarikan dari proses hukum.

Kali ini, tim Intel Kejatisu mencokok Drs Hasnil MM, pimpinan Kantor Akuntan Publik Hasnil M Yasin & Rekan. Hasnil merupakan terpidana kasus korupsi di Langkat dan Pematang Siantar. Ia masuk daftar pencarian orang setelah Pengadilan Tipikor menyatakannya terbukti bersalah dalam kasus korupsi penghitungan kelebihan pembayaran pajak penghasilan PNS.

Hasnil yang sudah lama diburon berhasil ditangkap di rumahnya Jalan Mangga I Kompleks PU, Kelurahan Rengas, Kecamatan Ciputan Timur, Kota Tangerang Selatan, Minggu (29/7/2018). Pria berusia 68 tahun ini, saat dibekuk tidak melakukan perlawanan. “Beliau tidak melakukan perlawanan,” ucap Kasipenkum Kejatisu, Sumanggar Siagian.

Terpidana kasus rasuah yang menjadi buronan di Kejari Langkat dan Kejari Pematang Siantar, Hasnil MM (baju merah) saat berada di ruang penyidikan di Kejatisu

Sebelumnya, tim Intelijen Kejatisu dipimpin langsung Asintel Leo Simanjuntak, dua minggu mengikuti jejak Hasnil yang berpindah-pindah tempat. Semula Hasnil bersembunyi di sebuah rumah kawasan Komplek Mabad 60 Nomor D-47 Rt. 002/05, Tangerang Selatan. Pergerakannya yang berpindah-pindah sempat menyulitkan tim Intelijen Kejatisu. Namun, pelarian Hasnil kandas setelah Asintel Leo Simanjuntak terjun langsung memimpin penangkapan. Hasnil pun tak berdaya ketika tim intelijen membekuknya di kawasan perumahan komplek PU.

Selanjutnya Asintel Leo Simanjuntak bersama anggotanya membawa Hasnil ke Kejari Jakarta Selatan guna persiapan pemberangkatan menuju Medan. “Terpidana pun diboyong dengan menggunakan pesawat Batik Air ID-6886. Tiba di Medan, sekitar siang tadi,” tutur Sumanggar.

Hasnil tercatat masuk DPO di Kejaksaan Negeri Langkat dan Kejaksaan Negeri Pematang Siantar. Ia merupakan terpidana selaku Jasa Akuntan Publik dalam rangka penghitungan kelebihan Pembayaran Pajak Penghasilan PNS Tahun 2001 dan 2002 pada Sekretariat Kabupaten Langkat Tahun 2003 yang menimbulkan kerugian negara sebesar Rp. 1.193.574.876. Ia juga terpidana dalam kasus yang sama di Simalungun.

Dua hari sebelumnya, Asintel Leo Simanjuntak bersama timnya juga berhasil menangkap mantan Kasi Upaya Kesehatan Lintas Wilayah Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Pekanbaru, drg Mariane Donse br Tobing, saat belanja di kawasan Kota Tarutung. Mariane merupakan terpidana penggelembungan harga vaksin meningitis bagi para calon jemaah umroh dari Januari 2011 hingga Juli 2012, dengan kerugian negara mencapai Rp 580 juta lebih. Dalam kasus ini, Marine divonis 4 tahun penjara, denda Rp 200 juta. Namun, Marine kabur sebelum dieksekusi untuk menjalani hukumannya.

Sepanjang Januari hingga Juli 2018, tercatat sudah 142 DPO yang berhasil ditangkap kejaksaan se-Sumatera Utara. Penangkapan itu berkat arahan Kajatisu Bambang Sugeng Rukmono dan gebrakan Asintel Leo Simanjuntak. Bahkan, Leo yang menjabat Asintel sejak April 2018 lalu, telah berhasil menggerakan tim Intelijen Kejatisu dengan menangkap 18 DPO. “Minimal satu DPO tertangkap dalam setiap triwulan kinerja kita. Saya ingin agar Kejati Sumut nantinya zero tunggakan eksekusi badan,” kata Leo usai dilantik menjadi Asintel Kejatisu beberapa waktu lalu.