Hasil Sidak Dirjen Pemasyarakatan Di Lapas Sukamiskin

Direktur Jenderal Pemasyarakatan Sri Puguh Budi Utami mengungkapkan hasil inspeksi mendadak (sidak) di Lapas Sukamiskin, pada Ahad (22/7) malam, sehari setelah Kepala Lapas, Wahid Husen, ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dalam sidak di Lapas Sukamiskin, total terdapat 522 kamar tahanan yang diisi oleh 444 narapidana di Lapas Sukamiskin.

Berbagai barang seperti kulkas dua pintu, televisi, speaker, kompor gas, tabung elpiji, microwave, mesin pemanas atau pendingin air, alat-alat masak, hingga uang tunai berjumlah Rp 102 juta ditemukan dalam sidak tersebut. Khusus untuk uang, jumlah yang terbesar dari satu kamar mencapai Rp 5.500.000 milik narapidana bernama Ahmad Kuncoro. Bahkan, ditemukan pula alat pertukangan seperti gergaji, kunci inggris, dan obeng.Padahal berdasarkan aturan, barang-barang tersebut tidak boleh masuk ke dalam Lapas.

Utami mengungkapkan barang-barang yang tidak sesuai dengan standar kelengkapan ruangan akan dikeluarkan dari sel. “Akan dikeluarkan untuk diserahkan kepada keluarganya atau dimusnahkan sesuai dengan aturan yang berlaku,” tutur Utami saat dikonfirmasi, Senin (23/7).

Utami menambahkan, selain Lapas Sukamiskin, pihaknya juga sudah melakukan inspeksi ke beberapa Lapas. Salah satunya adalah Lapas Bandar Lampung, Lapas Cipinang, Rutan Cipinang. Inspeksi tersebut menyasar fasilitas dan barang-barang ilegal.

Utami menambahkan, pihaknya sebenarnya sedang membangun sistem tidak menggunakan uang tunai dengan bekerjasama dengan bank pemerintah.

“Sekarang sedang dalam proses sebagaimana disampaikan oleh bapak Menteri sejak kami dilantik. Tugas kami utama adalah melakukan revitalisasi pemasyarakatan sebagai satu sistem yang mudah mengukur kinerja dari masing-masing UPT,” terangnya.

Dirjen PAS, sambung dia, juga sedang menyusun mengubah jaringan listrik di tiap Lapas se-Indonesia supaya tidak ada barang-barang elektronik masuk. Ia mengungkapkan, seperti di Lapas Besi Nusakambangan sudah dijadikan percontohan. Alat-alat pribadi milik warga binaan ditempatkan di satu lemari di luar kamar para warga binaan.

“Karena ada maximum securitynya soal faslitas diberikan warga binaan. Dan untuk medium securitynya untuk pemilihan kesatuan hidup warga binaan,” tuturnya.

Comments are closed.