Duka dari Danau Toba

KM Sinar Bangun karam di Danau Toba. Penyebabnya adalah kelebihan muatan. Kapal motor bermuatan 40 orang ini dipaksa mengangkut 188 penumpang serta puluhan kendaraan. Tiga orang ditemukan tewas, 21 berhasil diselamatkan. Sedangkan 164 orang lagi hilang bersama kapal yang tenggelam di kedalaman 450 meter dasar danau. Inilah bukti keserakahan berujung bencana.

Kapal Motor Sinar Bangun karam di Danau Toba, Sumatera Utara, dalam perjalanan dari Pelabuhan Simanindo, Kabupaten Samosir menuju Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun, Senin dua pekan lalu. Selain faktor cuaca buruk, keserakahan nakhoda kapal yang mengangkut penumpang hampir enam kali lipat kapasitas normal menjadi penyebab kecelakaan maut ini.

KM Sinar Bangun yang merupakan kapal wisata hanya berkapasitas 40 penumpang. Namun tim investigasi menemukan fakta pada saat kejadian nakhoda kapal mengangkut 188 penumpang. Kapasitas yang sangat melampaui batas normal ini semakin sesak setelah sisi kiri dan kanan kapal dipenuhi sepeda motor.

Hingga hari kesebelas pelaksanaan operasi pencarian korban, Badan SAR Nasional sudah menemukan 24 penumpang, tiga di antaranya tewas. Sementara keberadaan 164 penumpang yang dinyatakan hilang mulai menemui titik terang. Pada Kamis lalu, regu penolong mendeteksi dan mengenali objek yang merupakan bagian dari KM Sinar Bangun pada posisi koordinat 2 47 04.144 N – 098 45 10.560 E, kurang lebih sejauh 4,3 kilometer barat daya Pelabuhan Tigaras.

KM-Sinar Bangun di dasar Danau Toba terdeteksi (istimewa)

Melalui kecanggihan peralatan ROV, diketahui objek tersebut merupakan korban, sepeda motor ataupun bagian kapal seperti kursi dan tali. Namun bangkai kapal belum terlihat dari rekaman ROV karena tingkat visibilitas yang terbatas.

“Alhamdulillah membuahkan hasil yang signifikan, kita lihat suspect puing kapal, bangkai motor diduga milik penumpang, dan beberapa korban yang tertangkap alat pencari, seperti ROV dan multi-beam sonar,” kata Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI M Syaugi saat jumpa pers di Gedung Basarnas, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Pencarian dengan peralatan menggunakan ROV diketahui menjangkau kedalaman hingga 300 meter. Namun, hal tersebut belum menapaki titik dasar danau. Kemudian, dengan mendatangkan alat Multi-Beam Sonar, Basarnas dan tim gabungan menjangkau kedalaman di titik 2000 meter. “Indikasi adanya objek di dasar, antara ketinggian 450 meter dan 490 meter, itu kita ketemu dua (objek). Kita dalami terus alat ini kita menemukan papan yang kemungkinan itu adalah dari KM Sinar Bangun, dan siang hari ini menemukan objek korban manusia dengan kedalaman 450 meter,” jelasnya.

Posisi korban yang berada pada kedalaman 450 meter menyulitkan proses evakuasi. Basarnas masih mencari cara mengangkat jasad korban. Basarnas belum punya alat untuk mengangkat dari kedalaman 450 meter. Tim SAR gabungan juga sudah memberikan tanda pada titik temuan jasad korban di kedalaman 450 meter.

Korban tewas ditemukan Tim SAR (istimewa)

Dalam kejadiaan naas itu, kapal dinakhodai Poltak Saritua Sagala. Poltak ditangkap polisi di kawasan Samosir dan saat ini sudah dijadikan tersangka. Dari keterangannya diketahui kalau prosedur pelayaran di Danau Toba sama sekali tidak mengindahkan keselamatan. Ia mengaku mengangkut penumpang melebihi kapasitas.

Sesuai dengan sertifikat kapal, KM Sinar Bangun hanya berbobot 17 gross ton dengan ukuran panjang 17 meter, lebar 4 meter dan tinggi 1,5 meter. Kapal ini dimodifikasi menjadi tiga lantai sehingga mampu menampung daya angkut lebih 40 penumpang.

Sistem yang sangat rancu ini menyebabkan jumlah korban yang simpang siur. Sebelumnya terjadi perbedaan data korban yang sangat mencolok, mulai dari 80 orang hingga 192 orang. Ini disebabkan tidak ada manifest. Penumpang disuruh naik ke kapal, pembayaran tiket dilakukan di atas kapal.

“Disepakati dalam pelayaran itu kapal mengangkut 188 penumpang, 24 penumpang ditemukan, 21 dalam kondisi selamat, tiga meninggal dan 164 penumpang hilang,” jelas Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

Selain Poltak, Polda Sumut sudah menetapkan tiga pegawai Dinas Perhubungan Sumut sebagai tersangka, yakni Kepala Bidang Angkutan Sungai dan Danau Rihard Sitanggang, Kapos Pelabuhan Simanindo Golpa F Putra dan pegawai honorer Dishub Samosir Karnilan Sitanggang. Para tersangka dikenakan Pasal 302 dan 303 UU No 17 tahun 2008 tentang Pelayaran jo Pasal 359.

Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kabupaten Samosir, Nurdin Siahaan pun berpotensi menjadi tersangka karena diduga melakukan kelalaian mengawasi operasional KM Sinar Bangun. Penyidik saat ini belum meningkatkan status Nurdin dari saksi menjadi tersangka. Peningkatan status tersebut akan dilakukan dalam waktu satu hingga dua hari ke depan. “Hasil gelarnya didapatkan unsur yang mengarah ke Kadishub Kabupaten Samosir sebagai tersangka karena lalai. Tapi penetapannya belum, mungkin satu sampai dua hari ini. Sampai hari ini masih empat tersangka, ditambah satu lagi yang itu (Nurdin) nanti,” jelas Kapolda Sumatera Utara Irjen Paulus Waterpauw.

 

 

Korban KM Sinar Bangun saat ditolong kapal lain (istimewa)

Kapolri Jenderal Tito Karnavian berjanji akan mengusut tuntas kasus ini agar tidak terulang. Polri masih terus melakukan proses penyelidikan. Kasus ini menjadi momentum melakukan perbaikan menyeluruh dalam angkutan penyeberangan di Danau Toba. “Kita melihat kasus ini terjadi bukan hanya karena masalah kesalahan murni nakhoda sebagai pengemudi dan pemilik kapal. Kita kembangkan penyidikan ke sistem dan manajemennya,” katanya.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi berharap kasus ini jadi momentum perbaikan pelayanan angkutan penumpang di Danau Toba. Budi bertekad institusinya memperbaiki cara tata laksana, SOP, klasifikasi, dan sebagainya. Kemenhub sendiri disebutnya sudah membentuk tim ad hoc untuk mengawasi layanan angkutan di Danau Toba.

Pasca-insiden maut ini Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengeluarkan petunjuk pengawasan penerbitan surat persetujuan berlayar (SPB) bagi kapal-kapal di Danau Toba. Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP), Junaidi mengatakan surat edaran nomor KL.202/1/14/DN-18 yang diterbitkan tanggal 25 Juni 2018, ditujukan untuk para pemilik/operator kapal dan nakhoda. “Selama ini SPB kapal-kapal yang berlayar di Danau Toba diterbitkan oleh petugas pemegang fungsi keselamatan pelayaran angkutan sungai dan danau pada Dinas Provinsi/Kabupaten/Kota setempat,” kata Junaidi.

Prosedur penerbitan SPB diterbitkan terkait keselamatan pelayaran di Danau Toba pasca tragedi tenggelamnya KM Sinar Bangun pada Senin (18/6/2018). Sebelum mendapatkan SPB, nakhoda kapal mengajukan surat permohonan kepada petugas pemegang fungsi keselamatan pelayaran angkutan sungai dan danau pada Dinas Provinsi/Kabupaten/Kota setempat.

Basarnas memperlihatkan bangkai sepeda motor di KM Sinar Bangun yang karam di dasar Danau Toba (istimewa)

“Selanjutnya, nakhoda membuat surat pernyataan (master sailing declaration) dan ditandatangani sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan nomor PM.82 tahun 2014 tentang Tata Cara Penerbitan SPB. Nakhoda juga harus melampirkan dokumen/surat-surat kapal dan manifest serta daftar penumpang sebelum penerbitan SPB,” tegas Junaidi.

Para pemilik/operator kapal dan nakhoda juga berkewajiban memastikan kapal sebelum berlayar dilengkapi dengan perlengkapan keselamatan dan alat pemadam kebakaran tersedia yang dapat berfungsi dengan baik. “Nakhoda harus memastikan keadaan cuaca sebelum berlayar dalam kondisi baik dengan memantau prakiraan cuaca melalui website BMKG. Nakhoda juga harus memastikan kapal sebelum diberangkatkan tidak dimuati penumpang lebih dari kapasitas yang diterapkan dalam aspek keselamatan kapal,” sambung Junaidi.

Sementara Menteri Sosial Idrus Marham ketika mengunjungi keluarga korban menyampaikan pesan Presiden Joko Widodo yang meliputi pencarian korban, memerhatikan nasib keluarga korban, mendirikan dapur umum lapangan dan membantu meringankan beban keluarga korban. “Jika korban tidak ditemukan, Kemensos akan menyiapkan santunan ahli waris setelah ada rekomendasi dari bupati yang menjelaskan identitas keluarga korban meninggal,” katanya. (Zainul Arifin Siregar)