Catastrophe

YULICA EKA ELFRIANTI, Kriminologi UI

 

Dear Diary,

…..Seharusnya aku menceritakan semua ini kepadanya, tapi entah mengapa aku     tidak bisa….. Rasanya semua ini tidak benar, tapi aku rasa aku mencintainya….

********

“Woi, yul! Ayo, Buruan!” teriak Fadlan sambil menggedor pintu toilet. “Sebentar, berisik banget sih lo!” teriak Yulica dari dalam toilet. Yulica baru saja membaca beberapa kalimat dari buku diari Andre, namun sepertinya ia memilih tempat yang salah untuk membaca buku diari tersebut. Akhirnya ia buru-buru menutup buku diari tersebut dan memasukkannya ke dalam tas karena teman-temannya sudah menunggunya diluar. “Kok lo hobi banget sih di toilet lama-lama?” tanya Fajar begitu ia melihat Yulica keluar dari toilet. “Dasar perempuan”, tambah Zefanya. Yulica menghela napas. Sebenarnya ia tahu bahwa ini adalah resiko yang harus ia terima jika berteman dengan para laki-laki. Mereka tidak menghabiskan waktu lama jika sedang berada di toilet, tidak terlalu sensitif, dan tidak bisa ia ajak untuk berbicara tentang make up, fashion, ataupun diet. Meskipun begitu, Yulica sangat menyayangi mereka. Selain baik dan sering mentraktirnya makan, mereka merupakan sumber pengetahuan baginya mengenai hal-hal seputar perkembangan hukum, politik, dan psikologi. Yah, karena subjek-subjek tersebut memang jurusan kuliah yang mereka ambil.

Arif dan Zefanya melotot ke arah Yulica. “Apa, lo liat-liat!” bentak Yulica. Yulica tahu bahwa mereka berdua gemas kepadanya karena ia membuat mereka semua menunggu cukup lama. “Yaudah, let’s go!” seru Fadlan sambil berjalan duluan meninggalkan Yulica, Fajar, dan Zefanya. Setelah beberapa detik saling adu melotot antara Yulica, Fajar, dan Zefanya, mereka pun akhirnya mengikuti Fadlan. Mereka berjalan menuju rumah sakit yang letaknya kurang lebih lima ratus meter dari kampus mereka. Ketika sampai di rumah sakit. Fadlan langsung menuju ke meja administrasi pasien dan bertanya kepada salah satu perawat dimanakah ruangan pasien yang bernama Andre berada. “ICU 301”, kata Fadlan. Mereka pun segera menuju lift dan menekan angka 3 pada lift.

Begitu melihat pintu ruangan dengan tulisan ‘ICU 301’, mereka serempak mengintip melalui kaca dibagian pintu ruangan. Samar-samar, memang. Tetapi mereka mendapat pemandangan serupa. Disanalah Andre masih terbaring lemah setelah dua hari berada di ruang ICU. Yulica menangkap raut wajah teman-temannya yang diselimuti kekhawatiran. Tidak ada orang lain yang menjenguk Andre hari ini selain mereka. Mungkin karena siapapun belum diizinkan untuk menemui Andre sehingga tidak ada orang lain yang datang. Keluarga Andre tinggal di provinsi yang berbeda dan baru menerima kabar mengenai kondisi Andre pada malam harinya. Kemungkinan besar mereka baru akan tiba di Jakarta malam nanti. Untuk sementara ini, mereka sepakat akan tetap tinggal di rumah sakit hingga keluarga Andre tiba. Yulica memisahkan diri dari teman-temannya. Ia duduk di ruang tunggu sambil melamun. Ia membayangkan wajah Andre yang terlihat ceria ketika bertemu dengannya beberapa minggu yang lalu. “Yul…”, tiba-tiba Fadlan menyentuh bahu Yulica. “Oh my god! Gue kira siapa…”, Yulica terkejut, lamunannya buyar. “Makanya jangan melamun mulu”, sekarang Fadlan duduk disebelahnya.

“Lo tahu kenapa Andre bisa jatuh dari lantai tiga asrama?” tanya Fadlan.

“Yah, enggaklah. Lo kira gue sekamar sama dia?” Yulica bertanya kembali kepada Fadlan dengan nada kesal.

“Maksud gue, Andre pernah nggak cerita kalo dia lagi kenapa-kenapa atau mungkin lagi stres atau depresi, gitu.” jawab Fadlan.

“Enggak. Dia keliatan ceria terus kalo lagi sama gue. Lagian, gue kenal Andre, kok. Kita semua juga udah tahu kan kalo Andre nggak mungkin berusaha bunuh diri”, jelas Yulica.

“Iya, sih. Let’s pray semoga aja dia nggak apa”, Fadlan menatap Yulica dengan ekspresi penuh harap. Yulica membalas tatapannya, lalu mengangguk pelan.

********

Sepuluh jam setelah Andre ditemukan di lantai dasar gedung asrama pada pagi hari dengan kondisi yang mengenaskan oleh petugas asrama kampus, Yulica menyamar sebagai laki-laki dengan menggunakan jaket dan celana jeans longgar. Ia juga menutupi kepalanya dengan topi baseball dan menggunakan masker agar orang lain tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Ia menyelinap ke gedung asrama laki-laki untuk menemukan petunjuk yang berhubungan dengan peristiwa jatuhnya Andre dari lantai tiga gedung asrama tanpa sepengetahuan Fadlan, Fajar, maupun Zefanya. Setelah berhasil menghindari petugas asrama dan menemukan pintu kamar Andre tidak terkunci, Yulica mulai menggeledah kamar Andre. Lima menit telah berlalu, namun Yulica belum menemukan petunjuk apapun. Ia berharap menemukan sesuatu yang dapat menjawab rasa penasarannya terhadap peristiwa yang dialami oleh temannya itu. Tidak ingin berlama-lama berada di kamar Andre karena takut ketahuan oleh petugas asrama, akhirnya Yulica memutuskan untuk segera keluar dari kamar Andre. Ketika hendak menutup pintu kamar Andre, pandangan Yulica secara tidak sengaja tertuju pada rak sepatu yang berada tepat di sebelah kamar Andre. Ada sesuatu yang terselip didalam salah satu sepatu Andre. Awalnya Yulica mengira bahwa benda itu hanya kaos kaki Andre. Namun ketika Yulica mendekat, ia baru sadar bahwa benda itu ialah sejenis buku diari tipis yang salah satu sisinya terbakar. Tampaknya Andre sengaja melipatnya agar dapat ia masukkan ke dalam sepatunya. Tanpa pikir panjang, Yulica langsung memasukkan buku tersebut ke dalam saku celananya dan langsung pergi meninggalkan gedung asrama.

********

Dear Diary,

…..Seharusnya aku menceritakan semua ini kepadanya, tapi entah mengapa aku     tidak bisa….. Rasanya semua ini tidak benar, tapi aku rasa aku mencintainya….

Yulica tidak bisa membaca tulisan selanjutnya karena sebagian kertasnya telah hangus terbakar. Ia membuka halaman selanjutnya dan kembali membaca buku diari Andre.

Dear Diary,

            …..Ya tuhanku, hari ini dia terlihat manis sekali. Tuhan, kenapa kau tidak adil? Awalnya kau membuatku jatuh cinta pada seorang laki-laki. Tapi kenapa sekarang aku merasa jatuh cinta pada seorang perempuan…?

Yulica mengernyitkan dahinya. Astaga, Andre gay? tanya Yulica kepada dirinya sendiri. Sungguh fakta yang mengejutkan bagi Yulica, namun mau tidak mau ia harus tetap melanjutkan membaca buku diari Andre.

 

 

Dear diary,

…….Kevin terus mengancamku setiap hari. Aku memang tidak bisa menyembunyikannya lagi. Kevin tahu kalau aku mulai menyukai Yulica. Aku senang bertemu dengannya. Tuhan, biarlah Kevin memukul dan menyiksaku. Tapi jangan sampai ia menyentuh gadisku. Lindungi dia dari psikopat terkutuk itu! Aku baru sadar, ternyata bertemu dan memadu kasih dengan Kevin adalah penyesalan terbesar di dalam hidupku!  Aku tidak tahan lagi… Ingin rasanya aku mati. Seharusnya aku memberitahu Yulica. Seharusnya Yulica tahu kalau ia dalam bahaya. Tapi aku malu untuk mengakui dan menceritakan kondisiku yang sebenarnya…..

Hanya butuh waktu satu jam bagi Yulica untuk membaca seluruh isi buku diari Andre. Sebagian besar isi dari buku diari Andre menceritakan tentang hari-hari Andre yang selalu mendapat ancaman dari Kevin dan kekerasan yang dilakukan oleh Kevin terhadapnya. Ingatan Yulica kembali pada saat pertama kali Andre memperkenalkan Kevin kepadanya sebagai teman satu jurusannya. Yulica menitikkan air matanya setelah selesai membaca buku diari Andre. Ia masih tidak percaya dengan apa yang telah ia baca. Selama ini, Andre tidak pernah terlihat memiliki masalah dan selalu terlihat ceria ketika berada di dekatnya maupun teman-temannya. Belum sempat ia menutup buku diari Andre, tiba-tiba handphonenya berdering. Yulica menghapus air matanya dan berdeham pelan agar suaranya tidak terdengar seperti orang yang baru saja menangis sebelum mengangkat panggilan dari Fadlan. “Yul, dimana lo?” tanya Fadlan dengan nada yang agak tinggi. “Di rumah. Kenapa?” tanya Yulica penasaran. “Andre udah nggak ada, Yul. Andre udah nggak ada. Padahal kemaren malam kondisinya udah membaik kata suster. Aneh, gak sih? Yul… kok lo diem sih?” kemudian Fadlan menarik nafas panjang. “Andre udah ke surga, Yul”, Fadlan menurunkan nada suaranya. Yulica terdiam. Air matanya mengalir.

Upacara pemakaman Andre berlangsung tenang dan damai. Sebagian besar para pelayat menggunakan pakaian serba hitam.  Keluarga Andre masih terisak diatas tanah makamnya yang masih basah. Air mata Yulica terasa sudah terkuras habis sejak kemarin, sekarang yang tertinggal hanyalah matanya yang terlihat sembab. Fadlan, Fajar, dan Zefanya berjalan duluan meninggalkan pemakaman diikuti dengan Yulica. Ketika hendak meninggalkan area pemakaman, Yulica menangkap sosok seseorang yang menatapnya dari jauh dengan wajah yang dihiasi dengan senyuman. Yulica mengenali sosok itu.

Kevin… bisiknya.