Asa Belum Habis Terbakar

TRIASA NITORIZKI HAWARI, Kriminologi UI

 

Brak!! Tap-tap-tap!!

Aku tiba-tiba terbangun oleh suara hentakan keras dan derap langkah yang berat. Kuusahakan memfokuskan pandangan yang masih kabur karena terbangun dari tidur pada asal suara. Pandangan yang yang terjadi di hadapanku adalah sesuatu yang mengerikan. Di depan pintu kamarku, yang sepertinya adalah asal suara bantingan keras yang membangunkanku, berdiri sekumpulan sosok yang tegap dan tinggi. Mereka berseragam lengkap dan membawa sesuatu yang kuperkirakan adalah senjata laras panjang di tangan mereka. Tidak ada satu pun dari kami yang berbicara seakan-akan siapapun yang lebih dulu berbicara harus mati duluan.

Keheningan itu ternyata tidak bertahan lama. Tanpa ancang-ancang, mereka menarik dan menggiring tubuhku dengan kasar untuk keluar dari kamar. Sebelum aku sempat melihat sekeliling, pandangan ku sudah terhalang oleh semacam kain hitam. Sempet terpikirkan oleh ku untuk berontak dan berusaha lari sekencang-kencangnya atau berteriak minta tolong pada siapa pun yang mungkin mendengar suaraku tapi ada bagian dari diriku yang merasa bahwa hal itu akan sia-sia. Aku pun mengurungkan niat.

Kurasakan tubuh ini dihempaskan ke dalam suatu ruang sempit. Lalu terdengar dari arah yang agak jauh bisikan-bisikan percakapan, sepertinya petugas yang tadi menangkapku.

“Ini sudah semuanya, kan?”

“Sudah semua. Semua yang ada di daftar telah kita angkut, sebaiknya kita segera bergegas kembali ke markas,”

Dari pernyataan tersebut rasanya aku sedang berada dalam sebuah truk. Mulai terasa gerakan pada pijakanku, seakan-akan tanah adalah anjing yang sedang gatal dan berusaha menghilangkan serangga yang menempel padanya dengan menggoyangkan tubuhnya dengan cepat. Truk ini berjalan. Entah ke mana (markas apa maksudku, aku tidak paham) dan akan diapakan, satu satunya yang ku tahu saat ini adalah aku tidak sendirian. Jalanan tidak rata yang kami lewati menjadikan setiap beberapa detik sekali tubuhku membentur tubuh lain. Kurasakan udara yang panas dan pengap mulai memuakan. Apapun yang terjadi, aku hanya ingin segera pulang.

Perlahan lahan truk yang mengangkut kami memperlambat lajunya.

Berhenti lalu sunyi.

Tak lama, terdengar suara pintu yang dibuka lalu kembali ditutup. Salah satu petugas sepertinya sempat mengatakan sesuatu tapi suaranya begitu jauh dan aku terlalu kebingungan untuk berusaha mentranslasi suara acak tersebut menjadi kata-kata.

Entah mengapa tidak ada satupun dari kami yang membuka suara sampai ku rasa kami berbicara satu sama lain dengan helaan nafas dan suara detak jantung yang masih terus melaju tanpa melambat.

Mungkin karena terlalu syok atas kejadian aneh malam tadi atau kekurangan oksigen kurasakan diriku mulai mengantuk. Aku jatuh tertidur.

***

Aku terkejut saat membuka mata dan menemukan bahwa ternyata ruangan tempat aku berada tidak sepenuhnya tertutup. Cahaya matahari berebutan melewati celah-celah yang ada.

“Sebentar lagi rasa-rasanya kita akan mati,” sebuah kalimat terdengar dari sisi sebelah kananku.

Aku merasa mengenalnya. Ya, sepertinya benar. Dia adalah salah satu ahli dan sumber rujukan utama orang-orang saat membicarakan pertentangan kelas dan konsep-konsep lain yang tidak sepenuhnya ku pahami. Kupandangi wajahnya yang mulai keriput dan bajunya yang acak-acakan. Janggut itu! Tentu itu yang membuatku ingat padanya!

“Negeri ini bukan tempat yang tepat untuk orang-orang seperti kita, nak. Sudah lama sekali tidak ada yang berusaha menemuiku. Mereka lebih senang dengan apa yang mereka temukan digenggaman mereka,” tambahnya. Matanya nanar dan pandangannya jauh, seperti memerhatikan suatu benda dibalik badanku, sampai-sampai ku kira diriku ini tembus pandang.

“Saya mengenal anda pak, pak Marx bukan? Tapi saya tidak mengerti maksud perkataan anda, apa maksudnya kita akan mati?” tanyaku dengan hati-hati.

“Aku rasa kamu pasti baru pertama kali masuk ke daftar yang dibuat oleh pemerintah ini. Baiklah akan aku jelaskan. Kita yang ada di sini adalah nama-nama yang tercatat di daftar terlarang yang tidak boleh lagi menyebarkan pengetahuan apapun yang kita miliki. Mereka beralasan pengetahuan yang kita miliki tidak bermanfaat, korup, bohong, dan hanya akan menimbulkan pertentangan. Kit..” Penjelasannya membuatku terkejut hingga tanpa sadar dengan segera aku menimpali ucapannya.

“Apa?! Tapi aku tidak pernah tahu dan tentu saja tidak menyangka. Siapalah aku ini. Aku hanya ahli sejarah, pendongeng fakta masa lalu negeri ini. Aku tidak mengerti semua ini, aku ingin segera pulang!” kurasakan detak jangtungku kembali berpaacu kencang. Semua hal ini berlebihan! Siang kemarin baru saja professor dari jurusan politik itu berdiskusi denganku tentang peristiwa-peristiwa gelap di masa lalu.

“Tentu siapa yang suka masa lalu gelapnya diungkit-ungkit, nak. Terlebih lagi tentang kesalahan-kesalahan yang mungkin membuat posisinya di kursi kekuasaan menjadi dipertanyakan,” jawab Marx, tanpa sedikit pun terlihat sedih atau menderita atas masa depan yang menurutnya akan kami hadapi, kematian.

“Kalau begitu siapa mereka-mereka ini dan apa yang mereka lakukan hingga ada di sini bersama kita?” tanyaku sambil melihat sekeliling. Wajah-wajah mereka nampaknya tidak asing tapi aku tidak bisa mengingat siapa mereka.

“Ya kurang lebih sama lah, itu yang dipojok, dia ahli ekonomi dan punya terobosan baru tentang bagaimana cara membangun negeri yang sejahtera, ya tapi sayangnya bertolak belakang dengan haluan negara ini. Nah kalo perempuan yang di sana, dia adalah ahli ilmu pengetahuan alam, rasanya tidak ada yang tidak ia ketahui, ya tapi penjelasannya tentang polusi dan tambang tidak sesuai dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh negara dua bulan lalu jadi ya jelaslah mengapa ia di sini.” Jelasnya sambil menunjuk ke setiap orang yang ia jelaskan.

Penjelasannya terus berlanjut hingga kira-kira telah ada dua lusin sosok yang ia jelaskan dan ia jelaskan apa saja ‘kesalahannya’.

“Negeri ini merasa mereka tidak butuh akademisi, jurnalis independen atau segala ilmu pengetahuan yang teruji. Kebenaran adalah apa yang mereka percayai. Fakta tidak lagi berharga dan pengetahuan dan penelitian hanyalah judul kosong untuk mengambil uang negara, tidak ada yang perlu benar-benar dibahas secara akademis di sini karena toh pada akhirnya orang-orang hanya akan mempercayai apa yang mereka ingin percayai, tak peduli seberapa sampahnya bukti yang mendukung pendapat mereka,”ujar salah satu sosok yang dikenalkan Marx sebagai wartawan yang berhasil menemukan noktah-noktah bobrok dari penguasa yang sekarang sedang ongkang-ongkang kaki di istana.

Pembicaraan terus berlanjut beberapa saat sampai akhirnya tiba-tiba pintu belakang truk terbuka dan kami digiring ke depan deretan bangunan kecil dengan corong tinggi yang terus menerus mengeluarkan asap hitam. Aku rasa ini adalah saatnya. Kami semua akan dibakar hingga hangus dan jadi abu.

Perlahan tapi pasti satu persatu dari kami ditelanjangi, baju kami dikoyak-koyak lalu dilemparkan ke dalam bangunan yang ternyata adalah tungku-tungku dengan suhu tinggi. Dikerling mata kulihat dia, ya, dirinya, adikku, ahli sejarah organisasi-organisasi pergerakan, ditelanjangi dan di lempar masuk ke dalam tungku-tungku dari neraka itu. Di matanya tidak ada kesedihan, malah anehnya kulihat ada bara yang tak kalah bergeora di nyala matanya.

“Tidak usah takut, kita tidak akan benar-benar mati selama di luar sana masih ada yang membaca kita, berdiskusi tentang kita, dan mengingat apa yang kita ketahui meski dalam gelap dan keheningan. Meski dalam pelarian dan pengejaran,” kata Marx sebelum ia dilemparkan masuk ke dalam tungku. Kulihat tiap lembar tubuhnya mulai dengan lahap di makan api.

Giliranku pun tiba, aku diangkat dan dilucuti, baju-sampulku terlebih dahulu dilahap pita-pita merah di depan sana. Tak lama kemudian kurasakan tubuhku terlempar dan akhirnya merasakan neraka. Panas api mulai menggerogoti halaman-halamanku. Aku menghitam dan merapuh. Jadi debu.

Dalam benakku terus kuulang-ulang perkataan Marx, “kita tidak akan benar-benar mati… kita tidak akan benar-benar mati…”

***

“Semua buku di daftar sudah dibakar?” tanya Tunduk pada bawahannya.

“Sudah pak, semua buku telah di bakar habis, sudah saya pastikan tidaka ada satu lembar pun yang tersisa, semuanya habis jadi abu.” Jawab Asa, bawahannya. Asap dari tungku-tungku yang ada pun telah habis, tanda semua buku telah lenyap terbakar.

“Kerja yang baik, Asa. Kamu boleh pergi sekarang,”timpal Tunduk, wajahnya nampak bangga atas apa ia lihat di depan matanya.

“Baik, pak. Kalau begitu saya permisi untuk pulang,” kata Asa sambil menganggukan kepala dan bergegas pulang.

Asa segera berlari pulang. Ia dan kelompoknya harus segera pergi dari tempat ini, semua buku-buku penting telah dibakar. Mereka beruntung kali ini, pertemuannya dengan Profesor politik yang ditangkap kemarin itu tidak diketahui, bahkan mereka sempat menyelamatkan beberapa buku dari perpustakaanya yang baru saja ia bakar hari ini.

Hatinya merasa ini tidak akan segera berakhir, perjalanan mereka masih sangat panjang. Tiba-tiba terlintas dipikirannya tentang kutipan dari sebuah buku yang entah apa judulnya.

“Dimanapun mereka membakar buku, pada akhirnya mereka akan membakar manusia.”