Ujung Yang Tragis

PUTRI QODRIATI, Kriminologi UI:

 

Malam hari, Ardi berjalan melewati perumahan di kampungnya. Terhenti ia di salah satu rumah, bernomor 37, yang bercat putih hijau dan tidak memiliki pagar. Terpana ia melihat gadis, berparas cantik dengan rambut sebahu, tampak baru saja sampai rumah selepas pulang kantor. Ia mengenakan jas hitam dengan rok span diatas lutut, menenteng map yang tebal berisi dokumen.

Ardi dikenal sebagai anak tunggal dari keluarga yang memiliki kuasa dan kepemimpinan tinggi di kampung Subang, lokasi ia betempat tinggal. Diketahui bahwa tanah di kampung tersebut ialah tanah warisan almarhum kakeknya, sehingga ia dan keluarganya dianggap memiliki pengaruh di kampungnya tersebut. Semasa kecil, orang tuanya senantiasa bekerja di luar kota, sedangkan dirinya dibiarkan sendiri hanya dititipkan pada tetangganya. Sejak kecil pun ia kerap bergaul dengan orang dewasa, sehingga pemikirannya pun turut lebih dewasa dibanding apa yang umumnya seusianya miliki.

Orang tua yang seringkali meninggalkan dirinya sendiri dirumah, membuat Ardi menjadi pribadi yang terbengkalai oleh didikan nilai dan norma yang seharusnya diajarkan oleh kedua orang tuanya. Emosinya tidak stabil. Dan membuat dirinya mengonsumsi narkotika dan alkohol dengan frekuensi yang tinggi.

“Heh, Man! Beli lah minum. Bawain gua ke rumah nanti” Ujar Ardi terhadap salah satu temannya, Iman

“Kagak ada uang gua… heh To, beli dong lu gantian! Tadi malem kan udah gua tuh yang beli, giliran elu.” Jawab Iman terhadap Dito, yang duduk di sebelahnya

“Iye iye.”

“Bener lu! Bawain gua satu botol buat gua doang!” Ucap Ardi

“Iye bos (ucapan sindiran)” Jawab Dito

Malam itu, Ardi bersama Iman dan Dito minum-minuman alkohol di rumahnya. Warga kampung tersebut sudah menganggap biasa hal tersebut terjadi, ditambah mereka yang selalu berbuat onar tiap malam, seperti membunyikan motor dengan knalpot yang nyaring, menyetel lagu dengan volume yang keras tiap malam, dan mengambil barang dagangan di warung yang ada di kampung.

“Heh, Mat! Sini mana rokok gua?”

“YaAllah di.. saya sudah rugi total kalau situ hutang mulu disini.” Tangkas Pak Ahmad, penjual warung di kampung tersebut

“Yeee.. berani lu sama gua? Udah sini mana rokok, gua hajar juga lu!” Ujar Ardi memaksa

“Jangan dong, Di.. sumpah saya udah gaada uang lagi kalau ni rokok dikasih ke situ”

“Haah.. banyak alasan lu! (meremas kerah baju dan melemparkan badan Pak Ahmad ke lantai”

“Elu kebanyakan alesan! Gua ambil nih dua bungkus!” Ujar Ardi sambil bergegas pergi dari warung tersebut

Ardi melanjutkan pesta mirasnya bersama teman-temannya. Tak mengenal waktu, ia tetap melanjutkan pesta mirasnya tersebut hingga larut pagi. Namun, pesta miras malam tersebut belum membuat dirinya hingga ia dan teman lainnya benar-benar tak sadarkan diri.

Malam selanjutnya, ia keluar rumah mengendarai motor untuk pergi menghampiri kedua temannya. Pagi sebelumnya ia ditelfon kedua orang tuanya untuk tidak bertindak onar di kampung karena beberapa warga telah menelfon dan meminta untuk menghentikan aktivitas tersebut. Dengan rasa amarah, Ardi kesal dan justru ingin menambah onar di kampung tersebut.

Niatnya terhenti, ketika ia kembali melihat gadis di kampung tersebut yang pernah ia temui sebelumnya. Penampilannya tak jauh berbeda, mengenakan  setelan baju hitam dengan rok nya diatas lutut, tanpa ditutup dengan celana berbahan tipis ataupun stocking. Saat ia ingin menghampirinya, langkah terhenti ketika ia melihat ternyata gadis tersebut tidak lagi sendirian memasuki rumah, namun ada sosok laki-laki yang juga mengantarkannya hingga pintu rumahnya. Bergegas ia menghampiri kedua temannya di tongkrongan warung, dan menanyakan perihal gadis tersebut.

Citra namanya. Gadis kembang desa yang ternyata digandrungi di kampung itu. Anak tunggal dari keluarga yang sederhana. Kedua orang tuanya yang sudah tidak lagi bekerja, mengharuskan dirinya menjadi anak mandiri yang bekerja sebagai karyawati sebuah perusahaan. Setiap harinya ia menempuh sekali perjalanan selama dua jam lamanya, sehingga ia berangkat subuh dan pulang larut malam, sekitar pukul 10 malam. Ia juga diketahui sebagai seorang yang tertutup dan tidak banyak keluar rumah selain bekerja dan membeli bahan masakan ke pasar. Begitu tertutup dirinya, Citra menjadi wanita yang semakin membuat para laki-laki yang menginginkannya penasaran terhadap kepribadiannya.

Sejak malam itu, Ardi semakin sering untuk melewati rumah bernomor 37 tersebut, tepat pukul 10 malam. Setiap itu pula, ia melihat bahwa Citra mengenakan jenis setelan yang sama. Hingga suatu hari, Ardi memberanikan diri untuk menghampiri Citra dan mengajaknya berkenalan.

“Halo”

“Eh.. siapa ya?” Ujar Citra, nampak ketakutan ketika dihampiri di depan gang rumahnya

“Sori sori ganggu. Kenalin gue Ardi, kampung sini juga. Lo Citra ya?”

“Iya, sori udah malem. Gue masuk duluan ya” jawab Citra dengan tergesa-gesa

Atas kejadian tersebut tidak membuat diri Ardi menyerah untuk mendekati Citra.  Malam-malam berikutnya hingga hari Jumat malam, Ardi menunggu Citra didepan gang. Namun usaha itu gagal akibat sejak saat itu, Citra selalu ditemani seorang laki-laki yang mengantarkannya ke rumah mengendarai sepeda motor.

“Eh, Citra susah banget dah dideketin! Diajak kenalan aja susah banget”

“Hahahaha ya namanya juga kembang desa ya begitu. Dari dulu banyak yang udah ngejar-ngejar dia, tapi tetep dia anaknya dirumah terus, kerja terus, atau ke pasar. “ Jawab Dito, yang telah mengenal Citra jauh lebih dahulu daripada Ardi

“Iya, lo kemana aja sih, Di? Awewe geulis kitu (bahasa sunda perempuan) kayak Citra ga boleh diangggurin gitu” Imbuh Iman

“Hah lo berdua sih kagak ngasih tau gua dari dulu!” Jawab Ardi

“Coba aja lo samperin dia hari libur. Ajak kenalannya jangan malem-malem, ya mana dia ga takut kayak gitu” Timpal Iman

“Wah iya bener juga lo! Besok pagi lah gua samper” Jawab Ardi

Keesokan paginya, ia menghampiri rumah Citra. Tampak sepi dan tidak ada satupun terlihat seseorang yang berada didalam rumah tersebut. Benar saja, setelah lima belas menit ia menunggu, nyatanya Citra baru saja pulang dari pasar bersama ibunya, menenteng belanjaan. Ardi yang melihat kejadia tersebut, mengurungkan niatnya untuk menghampiri Citra hari itu, dan mencobanya esok hari.

Malam hari, Ardi bersama kedua temannya kembali berpesta miras dirumahnya. Hingga larut pagi mereka melakukan pesta tersebut, diiringi dengan lantunan musik rock dengan volume yang keras, yang membuat tetangga sebelah Ardi menggedor-gedor pintu tersebut. Hal itu tidak dihiraukan olehnhya. Seluruh pintu rumah telah dikunci rapat, tak terlupakan pagar yang mengelilingi rumahnya juga dipasangkan pecahan kaca sehingga tidak ada seseorang yang dapat memanjat pagar tersebut tanpa terluka.

Menjelang pagi pukul  10, ia terbangun mengingat ingin menghampiri Citra dirumahnya. Segera ia bergegas dan bergegas berangkat menuju rumah Citra. Sesaat ia sampai dirumah Citra, tidak ada perubahan atas penamapakan rumah Citra bagian depan. Masih sepi, tak nampak seperti ada tanda-tanda seseorang berada didalam rumah. Namun ketika ia ingin pulang ke rumah, ia melihat kedua orang tua Citra yang pergi keluar rumah dengan berjalan kaki, tampak seperti ingin pergi ke suatu tempat. Tak lama kemudian, Citra keluar rumah dengan membawa handuk dan menyilangkannya di pundak kirinya.

“Hati-hati ya abi, umi”

“Iya Cit, assalamualaikum”

“Waalaikumsalam”

Melihat keadaan tersebut, Ardi menyembunyikan diri dibalik tembok depan rumah Citra. Ia memandangi dan mengamati hingga Citra memasuki rumahnya tersebut. Tidak terdengar ada bunyi kunci yang pintu yang menandakan pintu rumah tersebut benar-benar dikunci. Selang lima menit kemudian, Ardi memberanikan diri untuk memasuki rumah bernomor 37 tersebut. Ia mengendapkan setiap suara kaki yang melangkah. Membuat setiap pergerakan yang ia lakukan tidak menimbulkan suara sama sekali. Dan benar saja, pintu rumah tersebut tidak terkunci. Ia kemudian menutup pintu itu kembali dan memasuki rumah yang sederhana tersebut. Terlihat didalam rumah tersebut dengan penataan perabotan yang rapi, namun juga terasa sepi karena didalam rumah tersebut hanya ada Citra dan Ardi.

Ardi melihat sekeliling. Terlihat pintu kamar yang terbuka. Pintu tersebut digantungi sebuah papan nama yang bertuliskan Citra. Jantung Ardi berdegup kencang. Ia sempat berpikir mengapa sebodoh dan seberani itu hingga memasuki rumah orang tanpa izin pemiliknya. Namun di satu sisi, ia terus melanjutkan menelusuri seisi rumah Citra. Tak lama, terdengar suara cipratan air dari arah bagian dalam rumah. Ardi segera menghampiri suimber suara tersebut.

Ardi terkejut melihat kamar mandi yang ia kira sebagai sumber suara ternyata tidak berisi orang didalamnya. Tak lama berikutnya, muncul Citra yang hanya berbalut handuk memasuki kamar mandi lagi dan melanjutkan mandinya. Dengan pintu kamar mandi yang tidak tertutup rapat, Ardi dapat melihat sekilas bahwa Citra sedang mencuci baju. Citra membuka balutan handuk tersebut dan menggantungkannya di belakang pintu kamar mandi tersebut. Tanpa mengenakan pakaian, Citra melanjutkan mencuci baju-bajunya tersebut. Melihat keadaan tersebut dan  memanfaatkan keadaan yang ada, Ardi mengambil ponsel di sakunya dan merekam kegiatan yang dilakukan oleh Citra. Selama kurang lebih dua menit lamanya Ardi menikmati visual yang menggairahkan seksualnya dan meningkatkan produksi testosteronnya tersebut.

Selama proses tersebut, Ardi sambil merogoh tangan kedalam celananya dan mencoba masturbasi dibalik pintu kamar mandi tersebut. PRAK!! Ponselnya terjatuh dan Ardi gelagapan mengambilnya. Agar tidak ketahuan, Ardi berlari menuju pintu depan rumah dan keluar dari pintu tersebut. Dengan keadaan resleting yang masih terbuka dan berlari tergesa-gesa, warga yang menyaksikannya merasa heran dan berteriak untuk menutup resleting Ardi yang terbuka tersebut. Sambil berlari, Ardi menutup resleting tersebut dan pulang kerumahnya yang berjarak kurang lebih 500 meter dari rumah Citra.

Malamnya, Ardi bertemu dengan Iman dan Dito, sambil merokok di teras depan rumahnya.

“Heh, Man! Kenalin gua dong sama si Citra”

“Lah lo sabtu sama tadi pagi kagak berhasil juga ngajak kenalan kembang desa?”

“Kagak. Makanya, ajak gua kenalan lah sama dia. Nanti gua beliin rokok dah”

“Yah elah masa rokok doang hahaha. Satu botol lah”

“Yeee manfaatin lu. Udah lu kenalin dulu gua sama Citra, nanti kalau berhasil baru dah gua beliin”

“Oke deal. Besok malem yak”

“Oke”

Malam berikutnya, sesuai janji yang telah disepakati antara Iman dan Ardi, bersama Dito juga, mereka menemui Citra selepas ia pulang kantor. Citra yang tampak lelah, menanggapi obrolan tersebut.

“Halo, Cit. Gua Iman, ini temen gua Ardi mau kenalan sama lo” Ucap Iman

“Udah ngebet banget nih katanya mau ngajakin lo kenalan” Timpal Dito

“Hai Cit! Kenalin, gua Ardi.”

“Oh hai. Sori ya, gue harus buru-buru kedalem. Besok lagi aja” Jawab Citra

“Oh bener ya Cit?” Jawab Ardi

“Iya, gue duluan ya” Jawab Citra

Setelah pertemuan tersebut, Ardi semakin percaya diri dapat mengenal Citra lebih jauh. Dua hari setelah kejadian itu, Ardi tidak lagi bertemu meskipun ia telah menunggu sejak pukul 10 malam. Akhirnya Ardi membuka video tempo hari lalu, saat ia merekam Citra yang tanpa mengenakan baju. Malam hari, sendirian, ia mulai membayangkan dirinya bersama Citra bercinta. Sembari menonton video tersebut, Ardi juga masturbasi hingga ia orgasme mengeluarkan cairan dari alat vitalnya. Setelah menontonnya berulang kali, Ardi mengonsumsi ganja yang telah ia simpan sejak dua minggu lalu. Hal tersebut ia lakukan agar perasaan dirinya yang semakin melayang dan mengganggap hal itu suatu kenyataan.

Esok malamnya, ia mencoba menunggu Citra di tempat yang sama lebih awal. Pukul 8 malam. Ternyata selama ini, Citra pulang lebih awal dari biasanya. Kondisi lingkungan sekitar yang sepi dan hanya dikelilingi oleh kebon yang kosong, membuat dirinya dapat lebih leluasa untuk mengajak Citra berbicara.

“Cit, mampir ke warung sebentar yuk”

“Warung mana?”

“Warung depan situ. Ngobrol aja sebentar, biar kenalan makin deket”

“Gausah, geperlu. Gue ga punya waktu untuk ngeladenin orang brandal kayak lo, yang gapunya kerjaan dan gapunya masa depan”

“Maksud lo apa? Gua brandal?”

“Iya brandal, kerjaannya bikin onar aja di kampung. Udah ya. Gue masuk kedalem, gausah deketin gue atau nungguin gue kayak gini lagi”

“Wah gaada manis-manisnya lo jadi cewek!”

“Udah ya gue udah capek. Pulang aja”

Kejadian itu membuat Ardi emosi. Hal tersebut kemudian ia ceritakan ke teman-temannya. Sekaligus pesta miras hingga tak sadarkan diri dirumahnya.

Pukul 2 pagi, Iman dan Dito tak lagi menemukan Ardi didalam kamarnya. Bahkan mereka tak menemukan Ardi di seluruh rumah. Namun akibat pengaruh alkohol dengan dosisi yang tinggi, mereka berdua tak sanggup untuk berjalan lebih jauh keluar rumah untuk mencari Ardi. Tak lama mereka tergeletak jatuh dan tertidur di lantai rumah tersebut.

Subuh menjelang. Namun fajar kali itu berbeda dengan biasanya. Sehabis adzan berkumandang, terdapat pengumuman yang diiringi dengan kericuhan warga kampung, mengabarkan bahwa Citra, ditemukan meninggal dunia di kebon tidak jauh dari rumahnya dengan kondisi yang mengenaskan. Dirinya tergeletak dengan kondisi tak mengenakan pakaian, paha yang berlumuran darah, tangan  yang diikat erat dengan tali tambang, dan mulut yang disekap menggunakan sapu tangan. Sejak saat itu pula, Ardi tidak lagi pulang ke rumah dan masuk kedalam Daftar Pencarian Orang (DPO).