Sinyal Untuk Membangkitkan Sel-Sel Tidur Jaringan Terorisme

Rentetan aksi terorisme yang mengguncang Surabaya dan penyerangan di Polda Riau  diduga ada kaitannya dengan kasus kerusuhan di Rutan Mako Brimob. Berbagai pihak menduga insiden Mako Brimob menyulut sel-sel terorisme yang selama ini tidur untuk bangun dan melakukan aksi teror.

Masyrakat Indonesia bahkan dunia dibikin terpana luar biasa oleh dua peristiwa yang  yang tidak terpikirkan sebelumnya. Bahkan tidak terbayangkan dalam mimpi sekalipun.

Pertama, kerusuhan di Rumah Tahanan cabang Salemba di Markas Korps Brigade Mobil (Mako Brimob), Kelapa Dua, Depok pada Selasa 8 Mei 2018. Kerusuhan antara tahanan kasus terorisme dengan petugas rutan tersebut menewaskan 5 anggota Densus 88 Antiteror dan seorang narapidana terorisme. Masih di Mako Brimob, sehari kemudian seorang polisi ditikam hingga tewas oleh terduga teroris. Total polisi yang tewas di Mako Brimob adalah 6 orang, belum termasuk yang luka-luka.

Peristiwa kedua yang lebih mencengangkan dan menggemparkan dunia adalah peledakan bom di tiga geraja di Surabaya yang dilakukan oleh satu, termasuk istri dan dua anak di bawah umur, pada Minggu pagi 13 Mei 2018.

Disusul kemudian ledakan bom tak sengaja di Sidoarjo pada malam hari di hari yang sama. Menurut hitungan Kepolisian Daerah Jawa Timur jumlah korban dalam insiden itu adalah 28 orang tewas, baik dari terduga pelaku maupun warga. Sementara yang luka-luka mencapai 57 orang. “Ini jumlah sementara karena masih ada teridentifikasi di DVI (Disaster Victim Identfication),” kata Kepala Bidang Humas Polda Jatim Komisaris Besar Frans Barung Mangera di Surabaya, Jawa Timur, Senin 14 Mei 2018.

Tak bisa dilupakan penyerangan di Polda Riau, Tiga anggota Polda Riau menjadi korban dalam insiden penyerangan terduga teroris, Rabu 16 Mei 2018. Satu polisi meninggal dunia ditabrak mobil penyerang,  sementara dua terluka.  Para pelaku yang terdiri dari 4 orang menerobos masuk ke halaman Mapolda Riau. Korban yang mengadang, ditabrak mobil para pelaku. Selain menembak mati para pelaku, polisi mengamankan pedang samurai, polisi juga berhasil mengamankan mobil Avanza putih yang ditumpangi para pelaku dan kantong berwarna hitam.

Rentetan aksi terorisme yang mengguncang Surabaya dan penyerangan di Polda Riau  diduga ada kaitannya dengan kasus kerusuhan di Rutan Mako Brimob. Berbagai pihak menduga insiden Mako Brimob menyulut sel-sel terorisme yang selama ini tidur untuk bangun dan melakukan aksi teror.

Ada spekulasi, penyerahan diri sejumlah narapidana dan tahanan kasus terorisme di Mako Brimob  bisa diartikan sebagai undangan kepada sel-sel di luar penjara untuk melakukan aksi.  “Kemarin kan ada permintaan dari dalam Mako itu supaya melakukan, supaya ikut terlibat. Makannya ada yang dateng dari Bekasi, cewek, bawa gunting. Kan itu panggilan dari dalam,” kata seorang mantan pelaku terorisme kepada media massai, Senin 14 Mei 2018.

Petugas kepolisian mengevakuasi dua jenazah pelaku penyerangan di jalan pintu masuk Polda Riau di Pekanbaru, Riau, Jumat (16/5). (ANTARA FOTO/Retmon)

Spekulasi bangkitntya sel-sel tidur jaringan terorisme diperkuat oleh penjelasan Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto. Setyo mengungkapkan, sel-sel teroris jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) kini tengah bangkit. Kota-kota besar pun menjadi sasaran aksi teror mereka.   “Bapak Kapolri sudah menyampaikan soal kebangkitan sel-sel dari JAD. Yang paling besar JAD di Jabar (Jawa Barat), Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, Bekasi), Jatim (Jawa Timur). Ini yang harus kita waspadai,” ujarnya di Kompleks Mabes Polri, Jakarta, Senin (4 Mei 2018. Namun daerah lainnya kata Setyo, juga patut diwaspadai, seperti di Bima dan Poso, itu JAD semua,” kata Setyo. Para anggota JAD itu diduga selalu berpindah tempat.

Kendati mengatakan sel teror yang tidur telah bangkit, Setyo enggan mengungkap lebih dalam terkait kebangkitan sel-sel tersebut. Sebab, hingga saat ini polisi masih melakukan pendalaman dan analisis mendalam. “Karena ini bagian dari pendalaman (kasus), saya tidak akan sampaikan karena akan mengganggu operasi berikutnya,” kata Setyo.

Tapi Setyo menegaskan, jaringan tersebut menargetkan polisi untuk diserang. “Target mereka adalah kantor polisi, petugas polisi. Rangkaian ini akan terkuak setelah analisis selesai,” jelasnya.

Pengamat terorisme Al Chaidar juga mengatakan rentetan aksi bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya dilakukan secara terorganisasi oleh jaringan JAD. Mereka saling berkoordinasi sebelum melancarkan aksi.

Al Chaidar mengatakan JAD memiliki pemimpin yang memberi arahan. Menurutnya, garis komando JAD terbagi dua yakni Indonesia bagian barat dan Indonesia bagian timur. “Aman Abdurrahman, Ustaz Mukhlis pimpinan di bagian Barat. Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di bagian timur,” katanya pada pers 14 Mei 2018.

Arahan untuk melancarkan aksi menurut Al Chaidar berasal dari balik jeruji besi. Kelompok JAD selalu berkoordinasi meski pimpinannya berada di tahanan. Koordinasi dilakukan dengan dua cara, yakni secara lisan dan melalui ponsel. Al Chaidar mengatakan para teroris biasanya menggunakan aplikasi Telegram untuk berkoordinasi antara mereka yang di dalam dan di luar tahanan. “Telegram tidak bisa disadap oleh siapapun termasuk polisi Indonesia. WhatsApp bisa disadap,” katanya.

Al Chaidar juga mensinyalir para pimpinan di dalam tahanan kerap memberi arahan melalui rekaman suara. Nantinya, rekaman suara itu disebar melalui media-media sosial, seperti Facebook, Youtube, dan Instagram. “Nah, kalau itu aplikasi pintu depan. Kalau telegram aplikasi pintu belakang karena berisi urusan dapur mereka. Enggak boleh banyak yang tahu,” ucapnya.

Meski polisi menemukan banyak bom di tempat berbeda, Al Chaidar mengatakan anggota JAD tidak memiliki kemampuan merakit bom sendiri. Mereka hanya memiliki satu orang pembuat bom.

Terkait bom bunuh diri di Surabaya, Al Chaidar mengatakan para pelaku menerima bom yang siap diledakkan dengan mengambil atau diantar langsung. “Berbeda dengan lonewolf seperti Bahrun Naim. Mereka aksi sendiri, bikin bom sendiri juga,” ucapnya.

Ahli bom JAD diduga merupakan alumni Afganistan dan Mindanao, Filipina. Namun ahli tersebut tidak memahami teori perakitan bom. Berbeda dengan dr. Azhari dan Noordin M. Top yang memahami perakitan bom secara teori, ahli bom JAD merakit alat peledak hanya berdasarkan pengalaman dan latihan.

“Ya, pokoknya bukan seperti rakitan tapi seperti pabrikan. Bagus sekali, rapi, bagus. Walaupun dia tidak bisa menghitung kekuatan baterainya berapa, detonatornya, kemudian kabelnya berapa, resistornya berapa,” kata Al Chaidar.

Al Chaidar mengatakan ahli perakit bom JAD merupakan mantan anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Dia belum pernah tertangkap lantaran keluar MIT sebelum polisi gencar menangkap anggota kelompok tersebut. “Dia temannya Taufik Bulaga, Upi Lawanga adalah anggota kelompok MIT yang kemudian keluar dari kelompok itu, kemudian tidak bisa ditangkap oleh polisi karena dia keluar duluan,” katanya.

Sejumlah sepeda motor terbakar sesaat setelah terjadi ledakan di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5).  (ANTARA FOTO/HO/HUMAS PEMKOT-Andy Pinaria)

Masih menurut Al Chaidar, JAD sempat mengalami penurunan jumlah anggota lantaran polisi gencar menangkap kelompok yang berafiliasi dengan ISIS itu. Namun, kerusuhan di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, memperkuat kembali anggota dan simpatisan JAD. “Kejadian di Mako Brimob itu pemantik luar biasa,” katanya.

Banyak anggota JAD yang ditangkap, tewas, dan bersembunyi sepulang dari Suriah. Namun mereka yang bersembunyi tergerak kembali dan mengikuti instruksi pimpinan ketika mengetahui insiden di Mako Brimob.

Kelompok JAD juga semakin kuat lantaran anggota yang mulanya berbeda pandangan, kini terpantik berjihad. Begitupun anggota JAT dan kelompok lain yang mulanya tidak menyukai JAD. “JAT itu kan tadinya enggak suka, kemudian ikut bergabung sekarang. Artinya ya jihad itu mengintegrasikan kelompok-kelompok yang tadinya berbeda. Jadi siapa yang memulai dia yang akan menjadi leading,” ucapnya.

Menurut Al Chaidar,ada dua faktor mengapa insiden di Mako Brimob dapat menggerakkan semangat jihad. Pertama, banyak pimpinan JAD berada di dalam Mako Brimob. Mereka tidak terima pimpinan kelompok Islam yang selama ini disegani meski berbeda pandangan, dizalimi oleh kepolisian.

Faktor kedua, lantaran melihat geliat kelompok JAD di Mako Brimob mampu membuat kerusuhan dengan sebegitu hebatnya, padahal tengah berada di dalam ‘kandang singa’.

Hal itu menggerakkan simpatisan JAD yang masih bebas lebih bersemangat untuk melancarkan aksi. “Bayangkan, orang yang di luar yang bebas masa enggak dapatkan senjata, di dalam ternyata [bisa]. Jadi begitu analoginya mereka,” kata Al Chaidar.

Sebagai informasi JAD merupakan kelompok teroris yang berbasis di Indonesia yang dibentuk pada tahun 2015 dan merupakan kelompok ekstremis Indonesia pengikut ISIS.

Jauh sebelum beraksi di Surabaya, kelompok teroris JAD sudah terlebih dahulu menebar teror di berbagai wilayah di Indonesia. Karena itu, pada Januari 2017, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) mengeluarkan pernyataan yang mengategorikan JAD sebagai kelompok di Indonesia yang paling mendukung ISIS. Berikut fakta-faktanya:

JAD muncul sekitar 2015. JAD juga dikenal dengan sebutan Jamaah Ansharut Daulah Khilafah Nusantara (JADKN). Jaringan ini dipimpin langsung oleh Bahrun Naim yang disebut-sebut sebagai Koordinator ISIS Indonesia di Suriah. Di Indonesia, JAD dipimpin oleh Aman Abdurahman atau Aman Abdurahman yang kini mendekam di Mako Brimob.

Bahkan Aman Abdurahman dikenal sebagai pimpinan tertinggi ISIS di Indonesia karena ajarannya selalu menjadi rujukan kelompok-kelompok yang memiliki pemahaman sama dengan Aman.

Meski bukan tergolong jaringan yang eksis melakukan serangan teror, namun kenyataannya serangkaian aksi teror di Indonesia belakangan ini dilakoni simpatisan JAD. Sebut saja aksi bom Thamrin, bom di Polres Surakarta, penyerangan Mapolres Banyumas, bom panci di Cicendo Bandung, baku tembak di Tuban Jawa Timur, penyerangan Pospol Cikokol Banten, pengeboman Gereja Oikumene Samarinda, dan terbaru bom bunuh diri Kampung Melayu.

JAD juga disebut-sebut pernah menyiapkan bom besar untuk Istana Negara, namun berhasil digagalkan.

Mereka yang bergabung dalam JAD belajar membuat bom secara otodidak, dengan bantuan internet. Bahrun Naim memberikan online training kepada anggota kelompoknya. Begitu pula cara mereka berkomunikasi dengan Bahrun Naim juga mengandalkan jejaring sosial. Untuk pendanaannya dikirim Bahrun Naim melalui transfer antarbank.

Polisi dengan mudah mendeteksi sel JAD terhubung dengan Bahrun Naim salah satunya dari jenis bom yang dirakit. “Kalau kita lihat dari bom yang digunakan yaitu bom panci, bisa membuat bom dari alat dapur, termasuk bom panci ini bahaya karena memiliki tekanan tinggi. Membuat bom dari alat dapur, bahkan dari gula saja dia bisa membuat bom,” jelas Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

JAD mendapatkan doktrin dan instruksi untuk menyerang polisi. Anggota kepolisian yang rentan menjadi target serangan adalah mereka yang bertugas di pos polisi dan polisi lalu lintas. Mereka menggunakan doktrin Takfiri. Kapolri Tito menjelaskan, doktrin ini ditanamkan bahwa segala sesuatu yang bukan berasal dari Tuhan adalah haram. “Sehingga muslim yang dianggap tidak sepaham dengan mereka dianggap kafir,” kata Tito di Kampung Melayu, Jakarta Timur, Jumat 26 Mei 2017 silam.

Aman Abdurrahman alias Oman Rochman saat menjalani sidang.(Bisnis Jakarta/ADE)

Kafir yang dimaksudkan para teroris tersebut adalah Kafir Harbi dan juga Kafir Dzimmi. Polisi diposisikan sebagai Kafir Harbi yaitu kafir yang menjadi musuh Allah, musuh Rasulullah, dan musuh kaum Muslimin. Kafir ini selalu membenci Islam, dan senantiasa menumpahkan darah kaum Muslimin. Mereka tidak henti-hentinya memerangi umat Islam, menyiksa, membunuh dan membantai.

Sedangkan Kafir Dzimmi yaitu kafir yang tidak memusuhi Islam. Sebaliknya, mereka adalah kafir yang tunduk kepada aturan negara Khilafah sebagai warga negara, meskipun mereka tetap dalam agama mereka.

Pengamat terorisme Harits Abu Ulya juga menyatakan kelompok jaringan teroris yang masih kuat di Indonesia saat ini adalah (JAD). Sementara  kelompok Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) sudah lama dibubarkan Abu Bakar Baasyir, yang kini menjadi napi teroris dan dikurung di Lapas Gunung Sindur.

Peneliti dari The Community of Ideological Islamic Analyst itu mengatakan JAD punya cabang seperti Mujahidin Indonesia Timur (MIT), Mujahidin Indonesia Barat (MIB), Tauhid Wal Jihad (TWJ), Negara Islam Indonesia (NII), termasuk JAT. “Serta beberapa kelompok kecil-kecil lainnya semisal kelompok Abu Hamzah,” ujar Harits saat pada pere, Rabu 16 Mei 2018.

Tidak sulit bagi suatu kelompok bergabung ke dalam JAD meski mulanya memiliki perbedaan prinsip. Menurut Harits, kelompok jaringan teroris cenderung dinamis karena keputusan untuk meninggalkan prinsip lama bergantung pada masing-masing individu atau tidak selalu atas kesepakatan bersama.

Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Tito Karnavian juga memastikan kelompok JAD dan JAT adalah pendukung utama gerakan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), yang dipimpin oleh Aman Abdurrahman. Menurutnya, meski Aman Abdurrahman sudah tertangkap dan saat ini ditahan di Markas Komando Brigadir Mobil, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, masih aktif menjaring anggota dan menanamkan pengaruhnya secara online atau dalam jaringan (daring), khususnya melalui media sosial.

“Termasuk jaringan JAD dan JAT ini juga mengajarkan cara membuat bom rakitan secara daring melalui media sosial,” katanya kepada wartawan di Surabaya, Senin petang 14 Mei 2018, usai meninjau kondisi Kantor Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Surabaya pasca-serangan bom bunuh diri oleh lima orang yang diketahui masih dalam ikatan satu keluarga.

Kapolri menegaskan satu keluarga pelaku serangan bom bunuh diri di Porlestabes Surabaya saling terkait dengan satu keluarga pelaku penyerangan bom bunuh diri di tiga gereja sehari sebelumnya. “Bom tadi malam yang meledak di rumah susun Wonocolo, Sepanjang, Sidoarjo, juga saling terkait. Tiga keluarga ini belajar merakit bom sendiri secara daring melalui media sosial dari jaringan JAD dan JAT,” ucapnya.

Ke depan Kapolri Tito mendesak agar Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia segera merancang Undang-undang yang mengatur tentang media sosial. Sebab, menurut Kapolri, dari media sosial inilah jaringan teroris ini menanamkan ajaran dan mengubah pemahaman masyarakat yang pada akhirnya satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anaknya, bahkan yang berusia balita, bersedia melakukan serangan bom bunuh diri. Hamdani